GODAM MEMANG SAKLALUH

MENGINCER MISTER GOLAGONG INIH,

hehehe,mirip mirip nama yang berbauk Ozi,

ada olah ragawan ada pulak nama kotah.

yang pernah daku kunjungin di deket Sidneh.

namun kali inih,daku cuman maok

menghunjamken kepada kolbumu,

KERANA KAU BILANG, ADALAH PEJOANG NURANIH

BUAT KEMAKMURAN BANTEN, YANG DARI SONOHNYAH

UDAH DIJAJAH OLEH PARA JAWARAH.

dan dakupun sering menelusurin kampung2nyah,

dimana sak-urang anak kiaihpun, angkat topih,

kerana daku nyampeh ke dusun yang diah enggak

pernah sambangin, sakbagae sak-urang adponturir

di wilayah banten.

hehehe.diah punyak abah ternamah di Ciomas,

yang bernamah HAJIH OF DE REKORD LAH,

demi menjagah diah punyak mukak.(red).

mudah2an dikau mengenal si abah tua2 keladih ituh.

hehehe..diahpun dimasa peyot letoynyah berbiniken

wanitah sundah yang mangsih bohenol panthatnyah.

Hmmm,memang tua2 keladih dengan bini mudanyah

keterlaluan ituh,

menjadi SATU AIB sinismeh bagi KE ISLAMAN BUKAN?

Namun balik lagih yang daku penta kepada andikah,

tulung...PERJOANGKEN LAHAN2 DEKET KABUPATEN

LEBAK, YANG BARU HAJAH..SATU PEJABAT BANGSATNYAH

DITANGKEP KERANA NARKOBAH ITUH.

deket kabupaten lebak ituh, TANAHNYAH KINI

BANYAK DIGALIIN PASIR PUTIHNYAH..

serta deket sungae Cisimeutpun..lagih

DIRAMPOKIN PASIR KALINYAH..

nah..mudah2an..gonggonganku inih, kau sahutin

kerana kupingkir kau punyak akses ke pejabat2

kunyuk di banten ituh bukan?

mudah2anlah dengan memangke mulutmu,

SANGKIT ATIHKU TERHADEP JAWARAH BANTEN..

bisak diobatin..dengan terselametkannyah

wilayah banteng agar keaselian serta

kerimbunannyah TAK DIPERKOSAH SAMA

ANAK BUAH PARA JAWARAH BANTEN ITUH..


heheh..punten atuh Kang..

upami swanten abdi teh..meni sekeut sapertos

peso babi cina singkek kota Rangkas bitung tea??




--- In [email protected], Rumah Dunia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> GOLA GONG POLIGAMI  KOMUNITAS BACA    
>   Aa Gym menikah lagi. Tidak apa. Itu kan hak dia. Soal pro-
kontra, itu resiko yang harus dia hadapi. Saya setuju dengan apa 
yang diucapkan Aa Gym di koran-koran, "Kenapa yang poligami dicerca, 
tapi yang punya teman mesum tidak dicerca?"
>    
>   Saya juga sebetulnya ingin sekali berpoligami. Wanita-wanita 
yang datang ke Rumah Dunia itu cantik-cantik. Muda-muda. Tapi, Tias 
masih lebih cantik dari mereka. Terutama hatinya. Pernah saya ingin 
menikah lagi, sama Winona Ryder. Tapi, ternyat saya nggak sanggup 
bersaing dengan Johny Depp. Pernah juga saya naksir sama Mayangsari, 
lagi-lagi saya kalah bersaing. BT terlalu berat bagi saya. Diam-
diam, sebetulnya saya jatuh cinta sama Dian Sastro. Yang ini lebih 
parah. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Saya nggak sanggup menyaingi 
kecerdasannya. Dian terlalu cerdas bagi saya. Juga penghasilannya 
lebih besar dari sya. Cantik lagi dia. Saya kan cemburuan. Nggak 
akan tahan ngelihat dia dirubungi kumbang. Bisa-bisa baru kawin 3 
bulan, udah cerai lagi. Nggak ah. Emangnya gue cowok apaan.
>    
>   Pernah saya mengutarakan keinginan berpoligami pada istri. Kata 
Tias, kalau Papah mau beristri lagi, boleh-boleh saja. Tapi, Mamah 
yang milihin. Lalu Tias mengajukan janda-janda korban perang di 
Poso. Waduh, ogah saya. Bukannya syahwat say tersakurkan, bisa-bisa 
stress saya.
>    
>   Akhirnya, Tias memberikan jalan keluar. Daripada saya punya 
istri 2, 3, atau 4, yang nanti bakal pusing ngatur waktu, pikiran, 
enerji, dan materi, mendingan punya komunitas baca dua, tiga, atau 
empat. "Saya sebagai istri pertama akan mengijinkan, ikhlas dunia-
akherat, dan siap mengatur uagn belanja dan menguragni jatah shoping 
di mall demi komunitas baca kedua," kata Tias.
>    
>   Wah, boleh juga. Ini poligami yang sehat dan tidak rawan 
kecemburuan dari istri pertama. Akhirnya, setelah dipikirkan matang-
matang, karena proses regenerasi di Rumah Dunia berhasil, saya dan 
istri mengungsi ke Perumahan Citra gading, sekitar 3 kilometer 
sebelah selatan Rumah Dunia. Tepatnya di arah jalan raya Cipocok 
Jaya menuju Petir. Di sana banyak perumahan baru. Ada Puri Seragn 
Hijau, RSS Cilaku, dan bahkan Pusat Pemprov Banten di Curug.
>    
>   Nah, baca saja jurnal RUMAH BUKU CINTRA GADING di bawah ini.
>   Jurnal ini akan terus muncul di BANTEN RAYA POS, setiap Senin.
>   Ini adalah jurnal pertama, yang dimuat di edisi Senin, 4 Des 2006
>    
>   Doakan saya, Tias, Bella, Abi, Odi, Kaka selalu dalam kesehatan.
>   Selalalu dalam perlindungan Allah. Amin. Insya Allah.
>    
>   Tetap semangat.
>   Gola Gong
>   www.golagong.com
>   www.rumahdunia.net
>    
>    
>   [Jurnal #1] RUMAH BUKU CITRA GADING:
>   MEMULAI LAGI DARI NOL
>    
>   Oleh Gola Gong
>    
>   Jika mendapatkan kenikmatan, maka bersyukurlah. Ketika mendapat 
musibah, itu ujian dari Allah dan bersabarlah. Itulah yang membuat 
kami ingin memaknai hidup ini. Selama di Rumah Dunia, kami banyak 
mendapatkan kenikmatan. Kegiatan-kegiatan sejak 2001 hingga kini 
lancar. Para donatur silih berganti berinfak-sodaqoh; uang atau pun 
buku. Para relawan dan media partner seperti Radar Banten, Banten 
Raya Post, Suhud Media Promo, Indo.Pos, Top FM, Dimensi FM, dan 
Harmony FM membesarkan Rumah Dunia. Juga dukungan dan doa orang tua, 
masyarakat Hegar Alam, serta kampung Ciloang, Rumah Dunia 
menggelinding mengajak kawula muda Banten menuju generasi baru yang 
cerdas, kritis, dan bernurani. Dengan sastra dan jurnalistik, mereka 
menjadi lembut dan kritis menyikapi persoalan. Dengan teater, musik, 
rupa, mereka bergembira menghargai perbedaan dalam hidup ini.
>    
>   PINDAH - NOL
>   . Dengan buku, kami mencoba membacai sekeliling. Seperti kata 
para cagub Banten dalam visi-misinya, Banten tetinggal karena 
kebodohan dan kemiskinan. Maka kami ingin berbagi waktu dan pikiran 
memerangi kebodohan. Kami memiliki banyak buku untuk memerangi 
kebodohan.  Embay Mulya Syarif, tokoh masyarakat Banten, mengirimi 
kami SMS, bahwa jihad membangun Banten bisa lewat politik, ekonomi, 
budaya dan seni.
>   Maka setelah proses regenerasi di Rumah Dunia lancar, kami 
pindah ke Komplek Citra Gading, Cipocok, menuju arah ke Curug, 
Petir, 3 kilometer sebelah selatan Rumah Dunia. Tidak begitu jauh. 
Kini Rumah Dunia diurus presidennya; Firman Venayaksa (dosen Sastra 
Untirta) dan para mentrinya; Piter, Ibnu, Bahroji, Rizal, Roni, 
Deden, Qopal, Awi, dan Roy.
>   Kami memulai lagi dari nol; mengontrak rumah di Komplek Citra 
Gading, di depan mesjid Jami Baitul Muslimin, persis di jalan utama. 
Rumah milik Erni dan Dodi, di Blok G1/9, tipe 36, dua kamar, dan 1 
kamar mandi. Terasa sesak bagi keempat anak kami. Berbeda saat 
mereka berpetualang di Rumah Dunia yang luas. Tapi kami mensyukuri 
nikmat ini, karena banyak orang tidak memiliki tempat bernaung.
>    
>   TERAS - DONGENG
>   Di depan rumah ada teras; sisi kiri untuk garasi, dan sisi 
kananya seluas 2,5 X 3 m., oleh Mang Maryani, arsitek Rumah Dunia, 
disulapnya jadi ruang baca. Kami beri atap dan kerey. Kami simpan 
kursi bambu, beberapa kursi anak dari kayu jati pemberian Ny. Djoko 
Munandar, 2 rak buku anak-anak sumbangan Zulkiflimansyah (cagub 
PKS/PSI) dan persediaan Rumah Dunia, serta dari perpustakaan pribadi.
>   Kami menggoreskan kwas di triplek kecil: Rumah Buku Citra 
Gading. Warnanya kuning dengan lis hitam. Lalu kami mengabari lewat 
SMS ke Sudiyati (Kepala perpusda) Yaya Suhendar (Akuisisi dan 
Program Perpusda), Wan Anwar (Kajur Diksastrasia Untirta), Rahmiana 
Batubara (Kepala Sekolah SD Peradaban), dan Irham (Pusat Konservasi 
Kawasan Lindung). Anwar beranalogi, "Gola Gong ini bukan pendukung 
poligami. Jadi, konpensasi dia membuat komunitas baca kedua, ketiga, 
dan seterusnya." 
>   Anwar juga memberi masukan tentang TPA dan Diniyah (sekolah 
agama) di mesjid Jami Baitul Muslimin di depan rumah 
kami. "Sebaiknya 'Rumah Buku Citra Gading' menyesuaikan dengan TPA 
dan Diniyah. Kalau perlu bekerja sama." Sedangkan Yaya Suhendar 
berjanji akan mengirimkan bantuan buku dari hasil rekor MURI Banten 
Membaca.
>   Kami belum seratus persen tinggal di Rumah Buku Citra Gading. 
Kami harus mengurusi bayak hal dengan para relawan di Rumah Dunia. 
Juga memberesi rumah kami yang beralih fungsi jadi kantor "Jendral 
Kecil", "Gong Media Cakrawala", dan mess para relawan, serta rumah 
Emak-Bapak di areal Rumah Dunia, yang dijadikan ruang-ruang 
kelas "Jendral Kecil" dengan konsep multiple intelligence. Selain 
itu, tentu kami harus berpamitan dengan warga Hegar Alam dan 
Ciloang, yang selama ini membantu dan mendukung kami selama ini. 
>   Tapi, sejak akhir November "Rumah Buku Citra Gading" sudah kami 
titipkan kepada tetangga; Ading (pegawai Setda Provinsi Banten) dan 
istrinya, serta keluarga Sihombing, yang membuka bengkel motor di 
pertigaan Cipocok-Sempu. Sejak itu  anak-anak sudah banyak 
berdatangan ke "Rumah Buku Citra Gading". Menurut Bu Ading, mereka 
senang. Begitu juga Bu Osta dan Bu Budi. "Anak-anak kami ingin ada 
kegiatan seperti di Rumah Dunia," kata Bu Osta, yang pernah ke Rumah 
Dunia. 
>   Tias – istriku, Bella, Abi, Jordi, dan Kaka, juga ikut senang. 
Kamis siang itu (30/11), baru saja kami tiba, muncul serombongan 
anak-anak usia Sekolah Dasar menguluk salam. Ternyata mereka ingin 
berkunjung. Mereka mengatakan, sudah seminggu ini saat kami masih di 
Rumah Dunia, sering datang.  
>   Ada rasa bahagia yang menggelegak melihat mereka memilih-memilih 
buku yang kebanyakan berbahasa Inggris. Tias tergerak melakukan 
sesuatu untuk mereka. Ini seperti deja vu, saat kami merintis Rumah  
Dunia pada akhir 2001-an. Hal paling awal kami lakukan adalah 
mendongeng; membacakan buku. Saat Tias menanyakan, apakah mereka mau 
mendengarkan dongeng, mereka langsung mengiyakan. Tias mengambil 
buku cerita pop up (ilustrasi buku dibuat terlipat ke depan saat 
kita buka tiap halamannya, seolah tiga dimensi), berjudul Push in 
Boots, salah satu cerita favoritnya. Tias menghabiskan buku itu, 
lalu memberi review di akhir cerita dengan menanyakan kembali jalan 
cerita tiap halamannya, disambut dengan antusiasme anak-anak. 
>   Usai acara baca buku, Tias meminta mereka maju ke depan, saling 
mengenalkan diri. Sama seperti anak-anak umumnya, mereka saling 
tunjuk teman untuk maju lebih dulu. Tapi ada pula yang dengan 
percaya diri berbicara di depan teman-temannya. Siang itu kami 
mengantongi nama-nama: Dikit dan Salman (klas 5 SDN Cilaku),  Andri 
(SMPN 4 Serang), Faris, Faisal, dan Adam (klas 6 SDN Cipocok Jaya 
1).  Mereka sangat gembira bisa membaca buku dan mendengarkan 
dongeng. Bahkan beberapa anak lainnya yang sekolah di SDN 4 Cipocok 
Jaya, menganggap Rumah Dunia pindah ke Citra Gading. 
>   Senin, 4 Desember 2006, Insya Allah kami ke Pak RT; melapor 
secara resmi, menjadi warga Citra Gading dan bersiap menggulirkan 
kegiatan di Rumah Buku.  Kami akan memulai seperti halnya ketika 
kami merintis Rumah Dunia; bermula dari yang kecil, berwawasan luas, 
dan terus berkarya.  Kami tahu, anak-anak di sini dari segi 
intelektual sudah di aras rata-rata warga Ciloang. Dari segi sosial-
ekonomi, di sini relatif lebih mapan. Semoga ini mempermudah dalam 
menyebarkan virus "pena adalah senjata tajam untuk melawan 
kebatilan" kepada anak-anak Citra Gading. Dakwan bil qalam menjadi 
semangat kami. Memperkenalkan mana yang baik mana yang buruk, mana 
yang hak mana yang batil sejak dini pada anak-anak sangatlah baik. 
Doakan saja, ya! ***
>    
>   Citra Gading, 2 Desember  2006
> 
>  
> ---------------------------------
> Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small 
Business.
>


Kirim email ke