Dinar = mata uang emas Romawi
Dirham = mata uang perak Persia

Judul tepatnya, lawan kertas dengan logam.
Menang mana?



On 12/7/06, Kuroda Takumi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Bacaan

Lawan Dolar Dengan Dinar
Jurus Jitu Bebas Krismon dan Kemerosotan Nilai Uang
Oleh Zaim Saidi
Pustaka Adina November 2003

Prawacana

Perkenalan saya pada sistem mata uang dinar dan dirham pertama kali
terjadi tanpa sengaja sekitar akhir 1998. ketika itu penerbit Mizan
meminta saya menuliskan kata pengantar untuk buku yang akan
diterbitkannya, Jerat Utang IMF, buah karya Abdur Razak Lubis dkk,
dari Paid (People Against Interest-Debt), Malaysia. Buku ini berisikan
berbagai telaah kritis atas masalah-masalah kemanusiaan yang timbul
akibat modernitas. Secara spesifik pembahasan buku ini difokuskan pada
sistem finansial dan moneter yang berlaku saat ini, yang dipandang
sebagai sumber masalah. Secara ringkas buku Jerat Utang IMF hendak
mengatakan bahwa segala sumber persoalan kemanusiaan kontemporer yang
kita lihat saat ini adalah akibat sistem finansial ribawi.

Sistem finansial ribawi ditopang oleh segitiga uang kertas, pengenaan
bunga, dan penciptaan kredit. Motor penggerak sistem ribawi ini adalah
perbankan. Sistem ini telah memungkinkan perbankan menciptakan uang
dari ketiadaan dan dengan melakukan itu perbankan memberikan pemasukan
yang luar biasa besarnya bagi pemiliknya. Uang, bagi para banker,
memberikan anak-pinak berupa uang berikutnya. Semakin banyauang yang
diutangkan oleh banker semakin banyak kekayaannnya.

Pada umunya kita melakoni pola kehidupan dengan sistem ribawi ini
dengan begitu saja, taken for granted. Maklumlah, sejak kanak-kanak,
kita hanya diajari dan menjalani system ini. Padahal sistem ribawi ini
sebetulnya belum terlalu lama berlangsung. Kalau pemakaian sistem uang
kertas kita jadikan cuan, maka sistem ini baru sekitar 75 tahun.
Memang, praktek riba sudah ada sejak berabad-abad lalu, tetapi itu
dilakukan secara individual. Dengan kata lain para pemakan riba adalah
mereka yang berperilaku menyimpang, atau perkecualian. Sedangkan hari
ini praktek ini sudah menjadi sistem, kita semua terlibatdi dalamnya,
meski mungkin tidak menyadarinya.

Lalu di mana konteks bagi dinar emas dan dirham perak dalam hal ini?

Tak banyak yang menyadari bahwa menggantikan mata uang emas dan perak,
dengan mata uang kertas, pada hakekatnya adalah mengkhianati amanah
untuk tidak mengubah takaran dan timbangan. Sebab, fungsi uang yang
paling hakiki, selain sebagai alat tukar dan penyimpan nilai,
sesungguhnya adalah sebagai alat takar. Seperti halna alat takar
berat, yang diukur dengan gram atau kilogram, dan alat takar panjang
yang diukur dengan cm, alat takar atas nilai pun sesungguhnya sama
saja. Mata uang emas dan perak, karena ditentukan oleh nilai
intrinsiknya - dalam proxy berat dan kadar - merupakan takaran bagi
nilai suatu komoditas lain.

Demikianlah, uang kertas tidak dapat digunakan sebagai alat takar
nilai. Maka harga-harga menjadi tidak baku. Perbedaan takaran nilai
ini kita kenal sebagai perbedaan kurs. Akibatnya kita selalu kesulitan
menetapkan harga suatu barang, ketika barang itu dipindahkan dari satu
negara ke negara lain. Lebih jauh dari itu, perbedaan takaran ini,
membuka peluang manipulasi. Negara yang memiliki mata uang yang kuat
dapat merugikan negara yang memiliki mata uang yang lemah. Mekanisme
perampasan harta inilah, dengan jalan masuk pengacauan takaran nilai,
yang dapat kita jelaskan melalui konsep riba.

Dengan uang kertas takaran nilai telah kita khianati, dan kita
terjebak di dalam sistem riba. Akibatnya struktur ekonomi politik
dunia berbalik 180 derajat: kejayaan kedaulatan Islam, sebagai
pengawal terakhir pemakaian koin emas dan perak sebagai mata uang,
runtuh bersamaan dengan runtuhnya kedaulatan ini. Sebagai gantinya
adalah kehinaan, yang diwujudkan dalam wajah negeri Turki sekarang.
Kerajaan Islam yang begitu besar di bawah Turki Usmani, sebagai negeri
berkelas "Dunia Pertama" digantikan menjadi negeri miskin, hina, dan
terpuruk berkelas "Dunia Ketiga" sebagaimana kita lihat pada Turki
hari ini. Fakta ini disimbolisasi dengan mata uang lira, yang nilai
tukarnya menjadi sangat rendah - serendah Turki sekarang disbanding
Turki dahulu. Pada 1920, saat kelompok sekularis mulai berkuasa, 1
poundsterling setara dengan 5 lira Turki, delapan pulun tahun
kemudian, pada 2000, 1 poundsterling setara dengan 100.000 lira!

Perubahan sistem mata uang ini memakan waktu panjang. Uang kertas
pertama kali diperkenalkan pada abad ke-9 di negeri Cina ketika para
banker swasta mengeluarkan sertifikat tebus bagi pemerintahan Dinasti
Tang. Tetapi standarnya tetap pada logam perak. Sementara itu di Eropa
uang kertas mulai dicetak pada abad ke-16. pada abad ke-18 pemakaian
uang kertas menjadi umum di berbagai belahan dunia. Namun, semuanya
tetap didukung dengan emas atau perak, dalam suatu sistem yang disebtu
sebagai standar emas.

Hanya di wilayah kekuasaan Islamlah, di bawah daulah Usmani, pemakaian
koin emas dan perak terus bertahan, sampai kejatuhannya, 1924. daya
tahan ini, agaknya, tidak terlepas dari doktrin yang terutama terkait
dengan hokum-hukum muamalah dan jinayah. Ketentuan tentang zakat
(mal), diat dan hudud, serta mahar, dan pengelolaan harta benda
lainnya, selalu dikaitkan dengan dinar dan dirham. Swiss memang masih
memberlakukan sistem tebus emas atas swiss franc sampai tahun 1954,
tetapi alat tukarnya di pasar tepat dengan kertas.

Buku ini bermaksud memperkenalkan kembali inti pokok sistem bimetalik
yang telah lama dilupakan orang dan membahas berbagai aspek
perkembangan pemakaian mata uang dinar dan dirham di masa kini.
Pembahasan mencakup beberapa aspek teoritis, sekilas kesejarahan dan
diakhiri dengan pendekatan-pendekatan praktis. Sejumlah argument dari
perspektif ekonomi politik maupun dari perspektif syariah diupayakan
dikemukakan dengan secukupnya.

Diharapkan buku ini dapat menjadi rujukan dan pembuka mata bagi
masyarakat Indonesia tentang masalah ini.

Semoga bermanfaat.

Zaim Saidi

Ucapan Terima Kasih

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Abdur-Razak Lubis yang
memberi saya sejumlah literature di awal perjumpaan saya dengan dinar
emas sepanjang 1999-2000. rekan-rekan saya di Lembaga Studi dan
Implementasi Ekonomi Alternatif (Adina), terutama Sdr As'ad Nugroho,
dan Sdr Ismail Yusanto dan Sdr. Karebet dari SEM Institute (Sharian
Economic and Management Institute) serta teman-teman Dompet Dhuafa
(Sdr. Eri, Akhmad J, Jamil, dan Rakhmad) juga patut mendapat terima
kasih saya untuk berbagai diskusi dan perintisan seputar implementasi
dinar dan dirham di Indonesia.

Merekalah pendukung awal gagasan besar ini.

Kawan-kawan di Murabitun Nusantara (Kang Achmad Cs), di Bandung, yang
akhirnya merintis gagasan ini menjadi kenyataan - dengan mencetak dan
mengedarkan koin dinar dan dirham di tanah Nusantara sejak 2000 -
tentu sangat pantas memperoleh penghargaan. Demikian pula Sdr. Andi
Rahardjo yang meneruskan dan memperluas lingkup kampanye dinar melalui
institusi Forindo (Forum Penggerak Dinar dan Dirham). Dia juga
memberikan beberapa materi tambahan, terutama yang terkait dengan
sejarah mata uang, dan perkoinan di masa-masa pra dan sesudah Islam.
Semoga upaya mereka ini mendapat balasa dari Allah swt.

Dalam mempersiapkan naskah ini saya banyak mendapat dukungan dari Sdr.
Fathma yang sering membantu melengkapi naskah yang kurang, Sdr.
Somiawan yang terampil dalam riset foto dan memanfaaatkan teknologi
scanning, serta Sdr. Omar Camus di Pustaka Adina yang menyiapkan bahan
pracetak. Kepada mereka bertiga saya mengucapkan terima kasih.

Last but not the least, Dini, istri saya menjadi pendukung setia
gagasan-gagasan suaminya yang bagi sebagian orang dinilai tak lebih
dari sekadar fantasi ini. Juga untuk anak-anak kami, Tasneem, Akhtar
dan Nisa, yang tidak kalah gigihnya - tentu dengan cara mereka sendiri
- mendukung gagasan pengembalian dinar emas dan dirham perak ini. Saya
merasa perlu menyebutkan nama mereka secara khusus di sini - terimalah
tanda terimas kasih babe untuk kalian semua.

Semoga buku ini menjadi saksi awal perubahan sistem finansial menjadi
lebih adil, bila kelak menjadi kenyataan. Insya Allah.

--
Ezda
=> S2D4 the World



--
Si vis pacem Parabellum ---

Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387

Kirim email ke