Quote: Indonesia tidak kunjung jelas dalam menempatkan posisi dan perannya
bagi kesejahteraannya sendiri. Kita terjajah sekian lama, dan masih
terus terjajah oleh penindasan terhadap diri sendiri. Pemerintahan
berganti tapi tidak semakin menjadi seperti apa yang dikehendaki oleh
Soekarno sebagai negara yang berdikari. 
   
  SeksPeare: 
  *Pola Pikir* (sebagai salah satu *Budaya*) yang sangat kacau. Setiap *kata* 
dan *kalimat* itu akan merefleksikan kondisi psiko-kultural sebuah komunitas. 
  Misalnya: Jika hanya seorang saja (Soekarno) yang menginginkan sebagai Negara 
yang berdikari. Pantesan aja jika terdapat ciri ciri masyarakat yang passif dan 
nrimo yakni *menunggu seorang juru selamat* ketimbang membangun mental dan 
kesadaran sendiri untuk mengenali dan memahami lalu menyelesaikan masalah dan 
persoalan yang ada. 
  Refleksi yg lainnya, bahwa hanya *Pengikut* Soekarno saja yang menginginkan 
sebuah bangsa yang mandiri, yang lain tidak. 

Quote: Dalam situasi sekarang, dimana pemerintahan dan kehidupan politik
masih terbilang chaos, tidak tepat bila kita tunjuk kebudayaan semata
menjadi faktor yang menghambat kemajuan. terlalu rumit faktor2 lain
seperti politik yang terus-menerus mematikan keberdayaan kita sendiri. 
   
  SeksPeare: Selama ini *kebudayaan* hanya difahami seputar aktifitas 
keindahan, seni, dll. Dari sini saja kita bisa melihat dimana keteledoran para 
*orang pintar* itu membangun level kesadaran serta struktur bangunan berfikir  
masyarakatnya. Disini letak salah satu kedogolan ilmu humaniora (kalau tidak 
dikatakan gagal) yang terinstitusikan di kampus kampus tersebut. 

Quote: Kebudayaan bukan porsi terbesar dalam menentukan kemajuan negara ini.
Tetapi variabel antara ini menjadi penting gara2 perpolitikan kita
yang kacau. Penataan negara kita begitu runyam, tidak terfokus, tidak
terkomitmen dengan jelas. 
   
  SeksPeare: Nampaknya anda termasuk yg memahami bahwa *kebudayaan* itu 
hanyalah seputar aktifitas seni dan keindahan. Sehingga anda membuat kesimpulan 
seperti di atas. Kelihatan bahwa anda tidak menganggap bahwa *pola pikir* juga 
tak lepas dari aspek *budaya*. 
   
  SeksPeare
  http://kopitalisme.tk
  

abdi christ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bagaimana memahami posisi Indonesia dalam kacamata persaingan global,
itu yang menurut saya penting saat ini. Sebagaimana telah semakin
dipahami oleh orang asing, negara2 Asia dan negara2 berkembang yang
berpotensi seperti Indonesia, adalah harapan bagi Barat untuk menjadi
ladang yang akan memberi makan seluruh dunia.

Sumber2 daya alam terbaik dan terluas terdapat dalam negara dunia
ketiga. di satu sisi, kenyataan ini menimbulkan satu jenis tindak
penjajahan baru: penjajahan lewat penguasaan sumber daya alam dan
manusia dari negara dunia ketiga. Di sisi lain, tampak negara besar
seperti Indonesia harus merumuskan identitas dirinya, agar menjadi
negara yang independen dari pendiktean asing.

Kita ini sekarang terlalu rumit untuk dipahami oleh asing. Entah
maunya apa Indonesia ini? Maju juga tidak, mundur juga iya. Seharusnya
kita merumuskan sendiri identitas dan kedaulatan kita, sehingga kita
menjadi negara yang kuat. Dengan posisi kita sebagai negara yang
berpotensi luar biasa dalam kekayaan alam, seharusnya kitalah yang
membuat Barat menjadi miskin. Mereka tidak punya apa2, tetapi mereka
pandai memanfaatkan kita sehingga mereka yang kaya, kita yang miskin.

Indonesia tidak kunjung jelas dalam menempatkan posisi dan perannya
bagi kesejahteraannya sendiri. Kita terjajah sekian lama, dan masih
terus terjajah oleh penindasan terhadap diri sendiri. Pemerintahan
berganti tapi tidak semakin menjadi seperti apa yang dikehendaki oleh
Soekarno sebagai negara yang berdikari. 

Dalam situasi sekarang, dimana pemerintahan dan kehidupan politik
masih terbilang chaos, tidak tepat bila kita tunjuk kebudayaan semata
menjadi faktor yang menghambat kemajuan. terlalu rumit faktor2 lain
seperti politik yang terus-menerus mematikan keberdayaan kita sendiri. 

Kebudayaan bukan porsi terbesar dalam menentukan kemajuan negara ini.
Tetapi variabel antara ini menjadi penting gara2 perpolitikan kita
yang kacau. Penataan negara kita begitu runyam, tidak terfokus, tidak
terkomitmen dengan jelas. 

Abdi Christ

--- In [email protected], "Kartono Mohamad" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Penguasaan teknologi tidak harus menghilangkan kearifan, justru menuntut
> kearifan lebih besar. Termasuk menghargai sesama dan lingkungan.
Kebangkitan
> kesadaran etika keristen, etika politik, kapitalisme yang manusiawi,
> kesadaran akan lingkungan lebih banyak datang dari negara-negara maju. 
> Dalam kearifan lokal memang ada tersimpan hal-hal seperti itu tetapi
tidak
> dikembangkan karena diajarkan melalui mitos-mitos. Ketika angkatan yang
> lebih muda menjadi lebih rasional dan mencemoohkan mitos, maka inti dari
> ajaran itupun ikut ditanggalkan.
> KM
> 
> -------Original Message-------
> 
> From: [email protected]
> Date: 12/06/06 23:05:37
> To: [email protected]
> Subject: [mediacare] Re: Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan?
> 
> Justru pertanyaan lain yang menarik adalah apakah budaya Indonesia
itu ada,
> dalam arti budaya (nasional) Indonesia? sehingga parameter untuk
menetukan
> penghambat kemajuan atau tidak itu bisa dilihat dengan jeli. Dalam
kontek
> pilihan sistem negara, sekular atau agama itu tidak bisa dijadikan
patokan
> sebagai yang mewakili budaya Indonesia, karena keduanya hanyalah pilihan
> tentang sebuah model sistem negara. Saya lebih suka jika mengatakan
bahwa
> budaya Indonesia adalah keragaman itu sendiri dengan tanpa mengecilkan
> berbagai renik budaya yang ada di seantero Indonesia. nah berbagai renik
> itulah yang kemudian bertarung (berkontestasi) untuk mendaku sebagai
yang
> lebih identik dengan keindonesiaan.
> Di samping itu, asumsi tentang kemajuan itu pun perlu direnungkan ulang.
> standar apa yang bisa dipakai untuk mengatakan bahwa bangsa itu maju
atau
> tidak? apakah kemajuan itu dalam kerangka modernisasi yang selama ini
> berhembus dari Barat, atau kemajuan dalam perspektif yang lain?
Misalnya,
> ketika orang yang berpendidikan tinggii dan dengan itu bisa
mengembangkan
> teknologi canggih lalu diidentikkan dengan kemajuan, lalu bagaimana
dengan
> berbagai kehidupan komunitas lokal di indonesia yang justru menolak
> pendidikan modern, karena bagi mereka kemajuan bukanlah terletak
pada itu
> semua melainkan lebih terletak pada kearifan untuk menghargai sesama dan
> kehidupan alamnya.
> 
> On 12/5/06, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Pak Kartono dan rekans milis,
> >
> > Saya setuju bila dikatakan bahwa orang Indonesia menjadi "serba
canggung
> > dan tidak berani mengambil langkah-langkah besar untuk memajukan
dirinya."
> > Kecanggungan itu diakibatkan adanya ketidak-pastian status Indonesia
> > sendiri. Apakah Indonesia negara SEKULER atau negara AGAMA? Kita tidak
> bisa
> > bilang Indonesia negara sekuler sebab di UUD RI pasal 29 jelas
tercantum
> > "Ke-Tuhan-an yang Maha Esa". Tapi Indonesia sendiri juga menolak bila
> > dikategorikan sebagai negara agama. Jajak pendapat di Indonesia
belum lama
> > ini menunjukkan mayoritas orang Indonesia memilih Pancasila ketimbang
> > Sharia. Namun pada gilirannya sila pertama Pancasila berbunyi
"Ke-Tuhan-an
> > Yang Maha Esa", jadi kembali lagi ke negara agama. Jadi begitulah yang
> > saya lihat, Indonesia berputar-putar di tempat tidak dapat
meloloskan diri
> > dari lingkaran setan yang dibuatnya sendiri, yaitu keraguan untuk
> menetapkan
> > diri sendiri sebagai sekuler atau agamis?
> >
> > Namun budaya/ketegaran orang Vietnam merupakan fenomena lain,
betul-betul
> > patut dipelajari oleh orang Indonesia, terutama generasi mudanya.
Negara
> > seupil Vietnam mampu menaklukkan negara akbar Amerika? Kita patut
> > mengacungkan dua jempol tangan kita untuk Vietnam. Bandingkan negara
> seupil
> > Belanda yang juga mampu menaklukkan negara akbar Hindia-Belanda. Kita
> mesti
> > mengacungkan juga dua jempol buat Belanda, bukan begitu?
> >
> > Sebuah diskusi yang menarik dan bermanfaat, mudah-mudahan tumbuh
budaya
> > INTROSPEKSI pada bangsa-bangsa akbar AS dan Indonesia, bahwa
negara-negara
> > upil tidak bisa dipandang remeh, mereka yang upil juga mampu
berbuat akbar
> 
> > Seruan saya ke pada negara-negara akbar AS dan Indonesia, jangan
mau kalah
> > dari negara-negara upil Vietnam dan Belanda. Sukses ya, merdekaaaa
....
> !!!
> >
> > Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> >
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > *From:* Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]>
> > *To:* [EMAIL PROTECTED]
> > *Cc:* [email protected]
> > *Sent:* Saturday, December 02, 2006 2:34 PM
> > *Subject:* Re: [KincirAngin] Apakah Budaya Indonesia Menghambat
Kemajuan?
>



         

 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

Kirim email ke