Tralalalala, Anda punya pilihan: nggak usah ikut nimbrung, jika prinsip Anda begitu. Tapi di negeri yang sedang mengalami korupsi moral besar-besaran ini, semua perilaku pimpinan negara/masyarakat/agama akan jadi sorotan publik karena mereka dipandang sebagai pilar-pilar moral bangsa.
Soal mantan presiden AS yang ketahuan selingkuh lalu tak jadi di-impeached. Memang betul. Tapi, presiden ini harus babak-belur menghadapi serangan publik selama berbulan-bulan dan ia terpaksa "ditelanjangi" di muka umum sehingga semua sisi kehidupan pribadinya terungkap. Ia tidak di-impeached, tapi pesan rakyat AS jelas: "lain kali, jangan coba-coba main-main jika kamu memegang jabatan publik!" Jadi, jangan kasih kesan palsu bahwa seolah-olah publik AS tutup mata dan membiarkan saja perselingkuhan itu terjadi. Anda salah besar, Bung. Tak melanggar "norma/aturan agama" tidak berarti tidak ada masalah sama sekali. Pendekatan Anda sempit normatif sih, maka beginilah cara pandangnya. Kalau sampai ada reaki keras dari publik, khususnya kaum perempuan, maka berarti ada masalah besar di situ. Norma ada untuk diikuti. Manusia dengan kreatifitas dan kecerdasannya bisa saja menyiasati norma. Namun, ketika ini terjadi, ia tak berhadapan dengan norma melainkan berhadapan dengan manusia lainnya. Anda tak hidup di dunia ini hanya dengan segebok norma, tetapi dengan milyara manusia lain. Anda menilai dan Anda dinilai, apalagi jika Anda seorang tokoh publik yang diidentikkan dengan moral/kalbu/nurani. Kalo Anda tokoh publik dalam artian "preman" sih, ya bisa dimaklumi. Tapi kalau kyai, ya rajin-rajinlah jaga diri. Nah, sekarang selamat tidur kembali. Biar kami saja yang sibuk ngobrol soal AA Gym. Anda tak tertarik "urusan pribadi" orang lain, bukan? manneke -----Original Message----- > Date: Fri Dec 08 01:07:17 PST 2006 > From: "Donald Use Taralia" <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [mediacare] Ribut Poligami > To: [email protected] > > Huahahahahaha .... > > Nampaknya warga negara republik tulalit ini masih suka bergunjing > soal poligami? Pada sok tau semuanya! Mau nikah monogami kek, mau > nikah poligami kek, itu pilihan manajemen keluarga seseorang yg > tidak melanggar aturan/norma. Dan kita tak berhak ikut campur, > ribut, apalagi kalo sampai memfitnah. > > Kalo seseorang punya istri kemudian berselingkuh bin zinah, itu > jelas melanggar aturan/norma sebagemana pernah dilakukan oleh salah > seorang mantan presiden negara adidaya dulu yg hampir di- > impeachment. Ingat kasus 'le whisky'? Heheheheh .... > > Tapi, setelah presiden itu membuat klarifikasi, ternyata ngga jadi > di-impeach, karena warganya sadar bahwa itu persoalan keluarga sang > presiden dan beliau sudah meminta maaf secara gentleman. > > Nah warga republik tulalit ini kenapa mesti ribut kalo ada orang yg > pilih nikah poligami? Itu yg melanggar aturan/norma dan minta maaf > saja ngga diributin, kenapa yg ngga melanggar aturan/norma agama > diributin? Tobat dech! Buang-buang waktu tau! > > DT >
