walah terima kasih Erna Mardiana atas klarifikasi yang credible ini.
jadi tambah jelas bahwa aagym sebagai ulama telah melakukan 
kesalahan yang sangat disadarinya, yakni :
- menikah lagi tanpa persetujuan istri pertama. minta persetujuan 
kan harus sebelumnya bukan setelahnya. kalo setelahnya mah bukan 
persetujuan tapi pemaksaan atau dicere si istri tuanya. 
- sudah salah bukannya menyesali malahan marah dan nyalahkan si 
pembuat berita. masa mau berita baiknya saja yang diberitakan? 

yang aneh adalah si teteh rini itu, kok nangis? nangis senang apa 
nangis susah? gue jadi bingung.

salut buat Detik atas keberanian memberitakan apa yang tabu 
diberitakan di negara tempat perempuan teraniaya ini.
Semoga SBY cukup berani juga melawan tirani2 ulama dalam 
memartabatkan perempuan Indonesia. Kita sokong.

salam,
MJ




--- In [email protected], erna mardiana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 
> Note: forwarded message attached.
>  
> ---------------------------------
> Any questions?  Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it 
now.
>    Melihat makin ramainya di milis ini yang membahas mengenai 
poligami, yang diilhami oleh pernikahan kedua Aa Gym, saya 
tergelitik untuk berbagi mengenai sikap Aa Gym saat berita ini 
pertama muncul di media yang belum terekspose media.
>   Sebenarnya, kabar pernikahan kedua Aa Gym di kalangan wartawan 
Bandung telah tersebar sejak bulan puasa lalu. Namun selain karena 
memang masih belum mendapat informasi yang akurat, ada juga temen 
yang menganggap bahwa hal itu tidak perlu disebarluaskan. Namun 
tidak sedikit juga temen wartawan (khususnya media lokal) yang sudah 
patah semangat, karena dipikir berita ini tidak mungkin turun di 
media mereka mengingat kedekatan ulama kondang ini dengan para 
petinggi media. Saya sendiri termasuk malas memberitakan hal yang 
berhubungan dengan ulama itu.
>   Namun pada 30 November lalu, semua berubah. Saya yang kebetulan 
bekerja di media online, ditelepon oleh wapemred dan menanyakan 
kabar mengenai pernikahan kedua Aa Gym ini. Dia sedikit kaget dan 
juga kecewa ketika saya katakan sudah mengetahuinya jauh-jauh hari. 
Pada hari itu juga saya diminta menelurusi kasus ini.
>   Beruntunglah siang itu juga ada narasumber yang mau membeo 
tentang pernikahan kedua aa gym ini. Namun dia meminta identitasnya 
tidak disebutkan. Karena dia menyebut salah satu ulama di Bandung 
yaitu Miftah Faridl terkait dalam kasus ini, saya pun langsung 
menghubunginya melalui telepon. 
>   Setelah berbicara dengan beberapa rekan, mereka menilai laporan 
ini sudah bisa turun. Akhirnya berita pertama tentang pernikahan Aa 
Gym dengan judul "Aa Gym menikah, ucapan selamat mengalir" turun 
siang itu. 
>   Setelah itu saya pergi ke komplek DT yang berada di Gerlong 
untuk mencari kediaman rumah Rini, istri kedua aa Gym. Berbekal 
dengan alamat yang berikan oleh sumber saya itu, akhirnya rumah 
istri kedua aa gym pun saya temukan. Ketika saya datang (Saat itu 
saya sendirian karena temen2 wartawan lain masih belum berminat ikut 
isu ini), seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di teras rumah.
>   Setelah menunggu hampir 20 menit, akhirnya Rini muncul juga. 
Pertama saat dia keluar, saya kaget juga dan mengagumi 
kecantikannya. Ketika saya mencoba basa basi, dia langsung memotong 
dan mengatakan bahwa dirinya tahu kalau saya akan konfirmasi 
mengenai berita yang turun di detikcom. Namun meski dibujuk dengan 
perkataan yang saya rasa tidak kasar, dia menolak memberi 
keterangan. "Coba hubungi humas DT dan aa saja langsung, mereka 
sudah menunggu," ujar Rini. 
>   Melihat gelagatnya dan mendengar apa yang dia sampaikan, saya 
yakin kalau perempuan berkerudung pink ini benar ada hubunganya 
dengan aa gym. Saya melaporkan ke kantor sekitar pukul 16.00, namun 
untuk benar-benar memastikan kebenaran ini, saya dan jakarta 
bersepakat tidak akan diturunkan dulu sebelum mendapat konfirmasi 
dari aa gym atau humas DT.
>   Ingat perkataan Rini, jika kedatangan saya ditunggu Aa Gym. 
Terus terang, saya agak khawatir juga jika harus sendirian. Saya 
pikir meskipun berita ini benar, Aa Gym pasti akan marah besar pada 
saya. Apalagi jika berita ini salah. (Tp saat itu saya yakin isu ini 
benar dan Alhamdulillah ternyata memang benar :) ). Akhirnya saya 
memutuskan untuk menelepon teman.
>   Beruntunglah ternyata teman wartawan Tribun Jabar juga disuruh 
follow up kasus ini oleh kantornya. Akhirnya kami berdua bersepakat 
untuk mendatangi aa gym bersama-sama. Ketika kami sampai ke 
kediamannya, ajudannya mengatakan bahwa aa gym sedang rapat dan kami 
disuruh menunggu. Setelah menunggu hampir sejam, ajudan itu kembali 
bilang bahwa kami harus menghubungi humas DT karena semua diserahkan 
kepada Humas.
>   Dari humas kami mendapat informasi jika sore itu aa tidak bisa 
memberi keterangan karena mempersiapkan pengajian. Humas itu juga 
mengaku, jika rapat yg tadi berlangsung adalah membahas berita yang 
turun di detik. Dia juga mengatakan aa akan mencari waktu yang tepat 
untuk berbicara kepada media. Terus terang kami tidak puas, akhirnya 
kami memutuskan untuk menunggu aa hingga pengajian selesai digelar 
yaitu pukul 21.00.
>   Saat menunggu, saya mendapat kabar jika kawan dari tribun (bukan 
yg sedang bersama saya) telah mendapatkan konfirmasi dari adik 
kandung aa gym yang membenarkan adanya pernikahan kedua aa gym ini. 
Kami makin semangat untuk meminta konfirmasi dari aa gym.
>   Sekitar pukul 21.10, aa akhirnya keluar dari masjid dengan 
mengenakan sepeda listrik dengan diikuti beberapa ajudan yang 
berlarian di belakangnya. Serta tatapan ribuan kekaguman dari 
jamaah. Lantas setengah berlari saya dekati aa dan langsung 
memperkenalkan diri serta meminta waktu. Di luar dugaan saya, aa 
mengangguk dan melambaikan tangan ke arah kami agar mendekat.
>   Tepat di parkiran depan rumahnya, dengan posisi aa yang masih 
duduk di sepeda dan kami berdua berdiri di hadapannya, 
Aa "menceramahi" kami berdua. Puluhan jamaah yang akan mendekat 
untuk meminta difoto dengan aa diminta untuk mundur dahulu. Setelah 
sekitar 10 menit, kemudian aa berfoto dulu dengan penggemarnya lalu 
kemudian memanggil lagi kami berdua di teras rumahnya. Sekitar 40 
menit kami diceramahi.
>   Dengan suara pelan namun penuh penekanan dia mulai berbicara : 
(Saya lupa tidak menyalakan rekaman saya karena dia bilang off the 
record. Namun itu disayangkan oleh teman2. Menurutnya minimal mereka 
bisa mendengar langsung apa yg diomongin aa gym, hehe gosip bgt ya. 
Hingga saya menulis ini di bawah ini yg saya ingat):
>   
>  Aa Gym
>     Apa salah aa dengan detik? Kenapa detik begitu tega 
menghancurkan aa? Apa salah saya pada detik? Kenapa tidak datang 
dulu ke aa untuk meminta ijin berita ini turun? Siapa di detik yang 
memutuskan berita ini turun? Kode etiknya kan harus minta ijin dulu 
baru berita turun..
> 
>     Aa minta bagaimana caranya berita ini terhenti. Karena detik 
yang memulai, detik juga yang harus mengakhiri. Kalau besok-besok 
media pada datang, ini gara-gara detik!
>  Siapa di detik yang memutuskan berita ini turun? siapa 
pemimpinnya? minta teleponnya, nnati aa telepon. Tribun juga mau 
menurunkan? aa telepon nanti teeeeeeeeeeet (salah satu petinggi di 
tribun. dan ternyata aa benar menelepon, sehingga rencana berita yg 
jadi headline jadi hanya berita biasa di halaman pertama).
>  Aa belum pernah dihujat dan dihina orang seperti ini. Setelah 
berita muncul di detik, ratusan sms aa terima yang isinya berupa 
kecaman. Puas melihat aa menderita seperti ini? Keluarga aa sedih, 
anak-anak aa dihina di sekolahnya karena punya ibu tiri, teh ninih 
menangis. Hah. Kenapa ga bilang dulu pada aa?
>  Aa juga mau bilang kok ke publik, tapi nanti setelah istri aa, 
anak aa, semua sudah bisa menerima. Aa itu sedang mencari waktu yang 
tepat. Aa ingin pernikahan aa ini menjadi media dakwah. Nanti jika 
semuanya sudah siap, saya, istri aa, dan anak-anak aa akan bicara 
pada media tp dengan suasana yang sudah bagus. Semua tersenyum. 
Tidak seperti ini, aa seperti ditikam dari belakang.
>       Puas melihat keluarga aa menderita? Aa heran kenapa masih 
ada orang yang mengais rezeki dari penderitaan keluarga aa. Dek, 
takut pada Allah. Dosa menyakiti hati ulama...
>  Saya tahu ketika detikcom datang ke rumah Rini, karena Rini SMS 
aa. saya bilang suruh langsung menghadap saya kalau berani. Saya 
tunggu-tunggu dari sore kok datang-datang. Kalau berani, langsung 
hadapi aa...
>  Sejak detik datang, Rini terus menangis. Saya sudah ga bisa 
hubungin dia lagi. Puas melihat penderitaan keluarga aa? Dek, ibu 
rini itu sedang stroke. Ibu saya juga menangis mendengar ini.
>  Dek, takut pada Allah. pasti orang-orang non muslim menertawakan 
kita. apa kata mereka? mereka bisa bilang ulamanya kok ga bener...
>  
> Adek, kayanya tidak merasa salah ya? kok tidak minta maaf. Ayo 
kalau begitu kita kuat-kuatan doa (adu doa maksudnya), siapa yang 
terdzolimi akan terbukti nanti. (saat berbicara ini, pandangannya 
menantang).
>  Ada usul apa yang harus aa lakukan untuk menghentikan pemberitaan 
semua ini? (pertanyaan ini beberapa kali dilontarkan oleh Aa Gym 
sambil menimbang-nimbang print berita detik di tangannya) 
>  Pokoknya aa belum bisa katakan apa-apa, karena belum saatnya. 
Nanti setelah pulang dari haji, baru aa bicara
>  
>  * catatan dalam perbincangan ini kami saling berbantahan. Saya 
tetap merasa bahwa apa yg saya lakukan dalam kode etik benar. saya 
katakan pada aa gym, nara sumber pertama saya memang sumir karena 
tidak disebutkan identitasnya. Tp saya terus mencari konfirmasi yg 
saya rasa bukan sumir lagi. Hari itu juga saya konfirmasi ke Miftah 
Farid (diketahui belakangan dia saksi), Rini (istri kedua aa gym) 
dan langsung ke Aa Gym. 
>  Saya juga katakan pada dia, saya tidak perlu meminta ijinnya 
untuk menurunkan berita. Tapi memang benar saya harus dapat 
konfirmasi dari dia, makanya saya tunggu hingga malam. 
>  Saya katakan dia punya hak jawab untuk membantah jika semua ini 
tidak benar.  Itu yg harus dia lakukan agar semua terhenti. Saya 
katakan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendorong agar media-media 
lain juga tidak menurunkan berita ini.
>  Mengenai siapa yang bertanggung jawab atas penurunan berita di 
detik, saya katakan ini adalag rapat redaksi sehingga tidak bisa 
satu orang saja disalahkan. mengenai  banyaknya  sms  yg masuk yang 
mengecam, saya katakan itu resiko atas perbuatan aa (dia terlihat 
marah sekali saat mendengar ini. matanya merah, tangannya bergetar 
memegang kertas berita detik).
>  Saya katakan jika aa merasa benar perbuatannya, aa tidak perlu 
menyembunyikannya dan merasa takut. 
>  Mengenai ajakannya untuk adu doa, tidak saya ladeni. 
>  
>  Tulisan ini ditujukan bukan untuk mempekeruh suasana. Namun ada 
baiknya rekan-rekan di milis juga mengetahuinya...Dan perlu 
diketahui teman saya yang bekerja MQ dicurigai yang membocorkan, dan 
dia kini meminta saya membuat klarifikasi. Saya katakan pada dia , 
kalaupun toh dia yg membocorkan rahasia aa pada saya, tidak  akan 
saya ungkap. Karena  saya disumpah untuk tidak membocorkan identitas 
nara sumber yang menginginkan di sembunyikan.
>  Satu yang membuat  saya  senang saat ini adalah  apa yang saya  
tulis bahwa aa gym menikah lagi, benar  adanya :) 
> 
> 
>  
> ---------------------------------
> Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.
>


Kirim email ke