Misteri Lumbini
   
  Oleh:
  AUDIFAX
  (Penulis Buku “IMAGINING LARA CROFT”, 2006, Jalasutra)
  

  Lumbini, judul novel karya Kris Budiman ini, mengisahkan tentang petualangan 
Ratna dan Niko. Apa yang saya tangkap coba ditawarkan penulisnya di sini adalah 
suasana yang melingkungi percakapan dan peristiwa demi peristiwa pada kedua 
tokoh utama tersebut. Secara alur cerita, novel ini terkesan datar, ibarat 
sungai, arus yang tampak bisa dikatakan terkesan datar dan tenang-tenang saja; 
namun ketika kita mencoba menjejakkan kaki masuk ke dalam sungai itu, ada suatu 
tawaran ‘kedalaman’ yang coba dilarung dalam arus yang dari luar tampak 
mengalir tenang itu. Ajakan Martin Heidegger untuk melihat kedalaman pada 
hal-hal yang sifatnya permukaan, mungkin terasa pas menggambarkan novel ini.
  

  Di balik jalan cerita yang terkesan tenang-tenang saja, terdapat kedalaman 
filosofis yang coba ditawarkan penulisnya melalui filosofi Timur. Tema-tema 
filosofis yang hadir hal-hal seperti “meditasi”, “aliran”, “tetes air”, serta 
“pencarian” adalah kunci untuk memasuki kedalaman dalam novel ini. Dalam 
membangun nuansa kedalaman itu, penulisnya lebih menggunakan simbol-simbol yang 
dipaparkan detilnya dalam eksotisme Kathmandu dan Nepal serta vihara-vihara. 
Nuansa misteri yang dibalut eksotisme India-Nepal itu turut membangun suasana 
yang memungkinkan pembaca yang mampu melakukan ‘pembacaan Yang-Lain’ 
[Other-reading] untuk menangkap filosofi apa yang coba dipaparkan penulisnya di 
sini. Pembacaan terhadap ‘Lumbini’ dengan demikian adalah sebuah pembacaan 
ganda (double reading).
  

  Cerita ‘Lumbini’ pada dasarnya terpusat pada sosok Ratna. Penulisnya 
menggambarkan sosok perempuan ini mirip dengan Lara Croft. Perempuan cantik, 
muda, dan kaya yang menyukai petualangan. Pada beberapa percakapan dan narasi, 
penulisnya bahkan kerap menyebut langsung penggambaran Lara Croft seperti 
diperankan Angelina Jolie dalam kedua filmnya (Lara Croft – Tomb Raider 2001 
dan Lara Croft – Craddle of Life 2003). Terutama pada cara berpenampilan dari 
tokoh bernama Ratna ini.
  

  Jika anda pernah menonton film ‘Lara Croft’ yang pertama (2001), maka suasana 
ketika Lara berada di vihara dan bertemu bhikku yang menyembuhkan lukanya 
secara ajaib, barangkali terasa pas menggambarkan suasana ketika Ratna bertemu 
dengan Bhikku misterius di Taman Suci Lumbini. Di Lumbini, digambarkan 
bagaimana Ratna secara misterius bertemu dengan Bhikku yang mengajaknya bertemu 
kembali di Candi Mendut, di saat Waisak. Pertemuan kembali dengan Bhikku itu di 
Candi Mendut serta sesuatu yang ditemukan Ratna di sana, menjadi penutup 
cerita, sekaligus clue bagi kelanjutan cerita ini, di buku berikutnya.
  

  ‘Lumbini’ lebih terkesan sebagai sebuah ‘kisah pembuka’ sebelum masuk pada 
jalan cerita selanjutnya. Karakter-karakter tokohnya terkesan masih berupaya 
dibangun melalui sejumlah detil penggambaran, baik penampilan maupun sedikit 
kisah yang melatarinya, seperti bisa dibaca pada dua bab yang masing-masing 
diberi judul sesuai tokoh utama dalam kisah ini, yaitu: Ratna (bab 3) dan Niko 
(bab 4). Meski permainan Indeks, Ikon dan Simbol merupakan hal yang dominan 
sepanjang cerita, namun permainan itu terasa kuat intensitasnya pada Bab 
pertama hingga keenam. 
  

  Kris Budiman yang selama ini lebih dikenal melalui buku-buku teoritis-praktis 
tentang semiotika yang ditulisnya, tampaknya kali ini mengembangkan sebuah 
permainan semiotika yang menarik dalam novel pertamanya ini. Inilah yang 
membuat orang tak bisa memahami kedalaman Lumbini sebatas membaca teks 
[tanda/penanda] dengan mengabaikan interpretan dan objek. Dengan demikian, buku 
ini bisa jadi bukan jenis buku yang “dipilih oleh pembaca” melainkan jenis buku 
yang “memilih pembacanya”.
  

  Kenapa saya katakan buku ini sebagai buku yang “memilih pembacanya”? Secara 
umum, Lumbini bisa jadi akan menjadi sebuah novel yang membosankan bagi yang 
mengharapkan petualangan ala Indiana Jones atau Lara Croft; tetapi kedalaman 
kisahnya bisa jadi pula justru merupakan ‘petualangan pikiran’ yang 
mengasyikkan bagi mereka yang gemar mencari filosofi dalam kisah-kisah yang 
dibacanya. Membaca Lumbini, adalah membaca sebuah aliran yang mengajak kita 
untuk turut mengalir di dalamnya. Dan jika kita telah bisa ‘mengalir’ bersama 
aliran cerita dalam Lumbini ini, maka seperti kata Heraklitus, kita tak akan 
bisa dua kali turun memasuki ‘sungai’ cerita Lumbini ini secara sama.
  

  


 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke