Nah, ini yang tidak dipikirkan oleh pemerintah, bahwa poligami/percerain itu korbannya adalah anak, sementaraa sampai sekarang belum ada produk hukum yang melindungi hak2 anak korban poligami dan perceraian (coorect me if I'm wrong,siapa tahu udah ada ....), bukannya mengatur bagaimana orang berpoligami karena kalo itu dianggap sebuah ibadah sepert si Aa...apa boleh buat?
Apa sanksinya kalo si Ayah tidak menafkahi anakya?kabur...(bisa ayahnya yg ngabur dan juga sanksinya kabur tidak tegas... Menurut Pengadilan Agama ada sanksi untul itu...tapi berapa lama prosesnya?keburu si anak dikeluarin dari sekolah dan kelaparan.... Jangan bermimpi ketika perceraian terjadi dan ketika si ayah tidak menafkahi kemudian kita bisa mempidanakan si ayah (seperti filem2 Hollywood) dan juga trus anaknya di pelihara oleh negara...karena ibunya dianggap tidak mampu menghidupinya...Bener itu mah hanya ada di Republik Mimpi Cheers, Nia ----- Original Message ---- From: RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, December 10, 2006 3:46:31 AM Subject: [mediacare] Inilah Suara Hati Anak Korban Bapak Bepoligami Inilah Suara Hati Anak Korban Bapak Bepoligami Melly Febrida - detikcom Jakarta - Beristri lagi jelas bikin senang kaum bapak. Tapi bagaimana nasib anak-anak mereka. Trauma! Bahkan sampai ada yang sulit mengucapkan maaf lahir batin saat Lebaran tiba. Hal menyakitkan itu dialami Mujib Hermani (27), yang bapaknya menikah lagi ketika dia masih kecil. "Saya tahu bapak kawin lagi saat kelas 1 SD," ungkap Mujib di Yayasan Jurnal Perempuan, Jalan Tebet Barat 8, Jakarta Selatan, Sabtu (9/12/2006). Mujib yang bersaudara 11 orang ini mengaku masih trauma dan marah terhadap bapaknya. "Bahkan saudara-saudara saya sampai sekarang sulit menyampaikan ucapan maaf lahir batin saat Lebaran," ungkap dia. Saat itu, imbuh dia, kondisinya sangat tidak mengenakkan, karena ayahnya seorang tokoh agama di NTB. "Beberapa kali ibu ingin cerai, tapi tidak pernah dikabulkan karena bapak saya tokoh agama. Entah inspirasi dari mana, ibu saya memutuskan pindah agama kalau tidak bisa bercerai," ujar dia. Karena posisi ayahnya yang cukup terpandang itu, beberapa tokoh agama di daerah tersebut merespons dan merapatkannya. Akhirnya orangtuanya bercerai dan dia tinggal dengan ibunya. Sementara Lely Nurrohmah dari Pusat Pendidikan dan Informasi Iklan Hak-hak Perempuan menuturkan, berdasarkan penelitiannya untuk tesis, poligami dapat menimbulkan kekerasan terhadap anak. "Bahkan ada salah satu anak yang memilih tidak menikah karena trauma terhadap kehidupan keluarganya, " kata dia. Dalam penelitiannya, Lely mengambil beberapa sampel di Jawa Barat dan di pengadilan agama. Dari situ diketahui, suami-suami yang memilih berpoligami biasanya melakukan hal itu tanpa izin, dan strategi mereka biasanya berbohong kepada istri pertamanya. (umi/sss) ________________________________________________________ Sekarang dengan penyimpanan 1GB http://id.mail.yahoo.com/
