Bila menilik dari seluruh kasus Bambang Wisudo bersama
serikat pekerjanya, menunjukkan bahwa sesungguhnya
pekerja pers belum ditempatkan sebagai sebuah
pekerjaan profesional. 
Di situ terlihat bahwa sesungguhnya pekerja pers atau
wartawan tidak lebih sebagai seorang buruh. 
Sudah saatnya mengubah pandangan bahwa pekerja pers
bukanlah seorang karyawan atau seseorang yang dianggap
tidak punya otak dan pendirian.
Apa yang terjadi di Kompas pun bisa terjadi di lingkup
kerja pers manapun. 
Mungkin ada yang bisa berbagi cerita bagaimana pers
luar negeri? Apakah sama atau lebih buruk atau lebih
baik?

Untuk Bambang Wisudo, saya dukung anda untuk terus
berjuang. S
 
Salam,
SS 




--- Tri Laksmana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Rupanya Kompas gak banyak berubah ya semenjak Bung
> Satrio dipecat 11 tahun
> lalu karena bergabung dengan AJI? Karyawan yang
> "membandel" ya dipecat saja.
> Kalau dulu diancam sama Harmoko dan Rezim Orde Baru
> ya kita mungkin bisa
> mengerti lah, lha yang ini gak ada yang mengancam
> kok.
> 
> -tri-
> 
> 
> On 10/12/06, Satrio Arismunandar
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Teman-teman,
> >
> > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu),
> peneliti LIPI, pengurus
> > pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan
> istri dari wartawan Kompas
> > Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan
> dengan kasus pemecatan
> > Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, terkait soal
> serikat pekerja di
> > Kompas. Yanu adalah rekan saya di AIPI, sedangkan
> Wisudo adalah juga rekan
> > sesama pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen),
> dan dulu juga saya pernah
> > sama-sama kerja di Kompas.
> >
> >
> 
> 
> -- 
> "Beneath this mask there is more than flesh. Beneath
> this mask there is an
> idea, and ideas are bulletproof." -V for Vendetta
> (2005 movie)
> 


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke