Radio Nederland Siaran Indonesia - Ranesi.
http://www.ranesi.nl/tema/temahukdanham/KasusMunir/Munir_Belanda061109
Kasus Munir Dalam Politik Luar Negri Belanda
ranesi

09-11-2006


Hak-hak azasi manusia, itulah salah satu tonggak politik luar negeri Belanda. 
Faktor inilah yang menjadi ganjalan di masa silam dalam hubungan antara 
Indonesia dan Belanda. Pada tahun 1990an, pemerintah Indonesia menganggap 
Belanda terlalu menggurui Jakarta dalam kritik soal pelanggaran hak-hak azasi 
manusia. Hubungan Belanda-Indonesia saat ini baik sekali, apalagi setelah 
Belanda lewat Menteri Luar Negeri Benard Bot mengakui 17 Agustus 1945 sebagai 
hari kemerdekaan Indonesia. Namun bagaimana dengan kasus pembunuhan tokoh 
hak-hak azasi manusia Munir? Apa dampaknya untuk persahabatan Belanda Indonesia 
? Radio Nederland Wereldomroep meminta komentar para politisi Belanda di Den 
Haag.

Memprihatinkan
Tidak semua politisi Belanda setuju situasi hak-hak azasi manusia di Indonesia 
sudah sempurna. Dan mengingat tonggak HAM dalam politik luar negeri Belanda, 
maka untuk sementara kalangan politisi di Den Haag Belanda masih harus kritis 
ihwal kasus Munir ini. Misalnya Farah Karimi, anggota parlemen Belanda untuk 
partai Kiri Hijau, GroenLinks.

Farah Karimi: "Saya selalu meminta perhatian parlemen untuk kasus Munir, karena 
ini juga merupakan tanggung jawab pemerintah Belanda. Organisasinya Munir juga 
mendapat bantuan LSM Belanda dan Munir datang ke Belanda atas undangan salah 
satu LSM Belanda. Saya sangat kecewa dengan proses peradilan kasus Munir, 
dikabarkan dinas-dinas intel terlibat, tapi satu-satunya terdakwa bebas. Itulah 
sebabnya partai Kiri Hijau menentang ekspor kapal krovet ke Indonesia karena 
ini adalah isyarat yang salah pada Indonesia, kami tetap berpendapat situasi 
HAM di Indonesia masih memprihatinkan, dan penjualan perlengkapan militer tidak 
membantu menyelesaikannya."

Perubahan
Boikot ekspor militer, memberi kesan kadaluwarsa dalam hubungan 
Belanda-Indonesia. "Kita tidak mungkin menganggap Indonesia masa kini 
seakan-akan tidak ada perubahan. Memang Belanda terlibat juga dalam kasus 
Munir, tapi kita tidak bisa meremehkan perubahan HAM di Indonesia." Demikian 
Bert Koenders jurubicara luar negeri partai sosial demokrat PvdA yang 
beroposisi.

Bert Koenders: "Saya yakin ada perubahan di Indonesia. Pemerintah SBY mencatat 
kemajuan dalam bidang hak-hak azasi, misalnya di Aceh. Memang pada awalnya kami 
menentang ekspor kapal korvet, tapi mustahil mengangap Indonesia saat ini sama 
dengan Indonesia tahun 1990an. Contohnya Aceh, kami tadinya menentang karena 
kapal korvet itu bisa dimanfaatkan di Aceh. Tapi sekarang Aceh sudah berubah, 
dan ini tidak bisa dipungkiri. Indonesia membutuhkan kapal krovet ini untuk 
membasmi bajak laut."

Bukan tanggung jawab Belanda
Sikap kritis terhadap keadaan hak-hak azasi manusia di Indonesia dalam kasus 
Munir ini tentu saja ditentang oleh partai-partai pemerintah, yang mendukung 
kebijakan pemerintah Belanda untuk mengekspor kapal korvet ke Indonesia. Hans 
van Balen dari partai konservatif VVD menyesalkan pembunuhan ini tapi ini bukan 
tanggung jawab pemerintah Belanda.

Hans van balen: "Munir berada dalam pesawat Garuda, diracun, dan meninggal, 
kemudian diotopsi di Belanda. Ini bukan tanggung jawab khusus Belanda. Masalah 
ekspor kapal korvet sudah diperiksa dan dinyatakan mustahil dimanfaatkan untuk 
masalah kekerasan dalam negeri di Indonesia. Jangan lupa kami mengakui NKRI dan 
korvet ini sudah dijual dan kami senang."

Sikap ini didukung wakil partai pemerintah terbesar CDA, partai kristen 
demokrat Henkjan Ormel. Indonesia adalah negara penting dengan hubungan 
historis dengan Belanda.

Henkjan Ormel: "Di Belanda tinggal banyak orang dengan latar belakang 
Indonesia. Hubungan bersejarah ini kini bagus sekali, dan hubungan ini jangan 
digangu lagi dengan melarang ekpor korvet ke Indonesia gara-gara kasus Munir. 
Memang Belanda harus mengikuti perkembangan kasus Munir ini. Kapal-kapal korvet 
ini perlu untuk membasmi bajak laut, di masa silam memang pernah kapal korvet 
pernah dimanfaatkan di Aceh, tapi sekarang masalah Aceh sudah berakhir."

Mengikuti perkembangan
Lalu bagaimana sikap pemerintah Belanda?
"Kami tetap mengikuti perkembangan kasus Munir", demikian menteri kerjasama 
pembangunan Belanda Agnes van Ardenne.

Agner van Ardenne: "Tentu saja kami selalu menyinggung masalah Munir dengan 
semua menteri Indonesia yang kami jumpai. Karena kami sangat prihatin masalah 
ini tidak selesai-selesai. Jadi dipandang dari sudut pemerintah Belanda, ini 
harus dimengerti."

Attachment: 11281901
Description: Binary data

Kirim email ke