Dear All,
Dibawah ini tulisanku yang dimuat di Koran Tempo kemarin,Sabtu,9 Desember
2006.Judulnya Pemerkosaan dalam Dunia Tanpa Koma.Sebenarnya hanya komentar
tentang tema pemerkosaan dan wartawan di serial film televisi itu aja.
Terima kasihku yang banyak kupersembahkan kepada Mbak Nursyahbani
Katjasungkana (aktivis perempuan,anggota DPR Komisi III dari FKB).Disela-sela
kesibukannya sebagai wakil rakyat masih sempat menolong dan membantuku untuk
"menstrukturkan" dan mengedit kalimat dalam tulisanku itu.Tanpanya mana mungkin
akan jadi tulisan ini.
Makanya jangan heran kalau di tulisan ini ada pengalamannya sewaktu beliau
berdebat panjang dengan aktivis laki-laki di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia.Karena aku tidak pernah punya pengalaman kerja di Yayasan Lembaga
Bantuan Hukum Indonesia itu.
Makasih ya,selamat baca.Maaf kalo masih jauh dari kesempurnaan...
Salam,
Dinda
Koran Tempo: Sabtu,9 Desember 2006
Pemerkosaan
dalam Dunia Tanpa Koma
Oleh:
Titiana Adinda
Dalam tiga episodenya serial film televisi Dunia Tanpa Koma yang tayang pada
stasiun RCTI tiap malam Minggu pukul 21.00 WIB bertema tentang wartawan dan
kasus pemerkosaan.Serial film televisi ini menarik untuk disimak bukan saja
karena dipenuhi oleh pemain bintang seperti Raya (Dian Sastrowardoyo),Bayu
(Tora Sudiro), Seruni (Wulan Guritno), Markus (Indra Birowo),Retno (Cut Mini)
dan masih banyak pemain bintang lainnya, tapi juga karena tema yang diangkat
dan ide yang hendak ditawarkan.Tulisan ini mencoba melihat bagaimana peran dan
perilaku wartawan dalam dunia nyata dan dalam Dunia Tanpa Koma.
Selama ini media massa banyak dikeluhkan oleh kelompok-kelompok perempuan
sebagai salah satu pihak yang menjadikan perempuan korban pemerkosaan sebagai
korban kembali, bahkan berkali-kali atau yang dalam banyak literatur disebut
sebagai victimized the victim. Menjadikan korban pemerkosaan kembali menjadi
korban terjadi.Seringkali kali juga si wartawan (termasuk polisi, jaksa dan
hakim) lebih mengungkapkan seolah pemerkosaan itu adalah perbuatan erotis dan
bahkan menyenangkan si korban.Jarang sekali media yang mengupas pemerkosaan
dari sisi penderitaan lahir batin korban.
Dalam episode pertama dengan tema pemerkosaan.Persepsi bahwa korbanlah yang
berperan besar dalam terjadinya pemerkosaan masih tampak dari diskusi di meja
redaksi majalah Target. Markus, salah satu wartawan dalam Dunia Tanpa Koma
itu bahkan dengan enteng menganggap bahwa dalam kasus pemerkosaan korbanlah
yang “menantang”pelaku. “paling-paling dia ikut goyang” katanya. Ucapan yang
membuat teman-teman perempuannya Raya dan Seruni murka.Sampai ia melihat
sendiri bagaimana wartawan infotainment memperlakukan Monita ( Intan Nuraini ),
korban pemerkosaan itu. Dia pulalah yang membantu memberikan jalan bagi mobil
Monita untuk bisa keluar dari kerumunan wartawan infotainment yang
menghadangnya. Sementara Dion (Christian Sugiono) sang pemerkosa, dengan
leluasa menyusun skenario dan alibi bahkan berhasil membujuk pacarnya Indrani
(Andhara Early) untuk menjadi saksi palsu (lagi-lagi perempuan menjadi musuh
perempuan sendiri) meski dia dicekam keraguan yang amat sangat. .
Dalam Dunia Tanpa Koma, kritik terhadap media dilontarkan juga oleh Dinar
(Paquita Wijaya) yang menjadi pendamping korban, selama ini media lebih sering
“menyerang” korban, katanya.Untunglah Monita mengenal Dinar sebagai pendamping
perempuan korban.Sehingga Monita langsung melapor kepada Dinar sesaat begitu
pemerkosaan terjadi.
Yang lebih seru adalah perdebatan di meja rapat wartawan Target. Sony (Ari
Sihasale), salah satu bos majalah Target ngotot dengan para redaktur majalah
itu bahwa bahwa isu kenaikan bahan bakar minyak lebih penting sebagai isu
publik dibandingkan satu orang perempuan yang diperkosa.Adanya hirarkhi issue
seperti ini memang kerap menjadi perdebatan bahkan dikalangan aktivis HAM
sendiri melawan para aktivis HAP (Hak Asasi Perempuan). Dalam suatu rapat untuk
menulis topik-topik dalam laporan tahunan pelaksanaan HAM yang dikeluarkan
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia tiap tahun, belasan tahun lalu, para
lelaki mengaggap bahwa kasus pemerkosaan bukanlah masalah hak asasi manusia
sehingga tak layak untuk masuk dalam suatu laporan tahunan tentang HAM.Meski
pada saat itu Kepala Kepolisian RI sudah mengumumkan bahwa di Indonesia setiap
5 jam terjadi satu kasus pemerkosaan. Hirarkhi ini disebabkan juga adanya
hirarkhi dalam HAM yang menganggap bahwa hak sosial politik lebih
tinggi dan penting dari hak sosial, ekonomi dan budaya : dunia politik/publik
lebih berharga dari pada dunia privat/domestik yang banyak dihuni perempuan.
Dalam majalah Target, beruntung ada Retno dan Bayu yang sudah sadar gender
dan berkeinginan membela korban. Kedua orang itulah yang akhirnya menerjunkan
Markus untuk ikut bersama Raya memburu siapa sebenarnya pemerkosa Monita.
Monita akhirnya berani menjelaskan peristiwa pemerkosaan itu kepada Raya dan
Markus.Dia masih sangat trauma dengan pemerkosaan tersebut. Raya memeluknya
penuh empati.Markus mulai mengerti mengapa teman perempuannya marah besar saat
dia melecehkan korban.
Sebelumnya Raya memberikan cakram padat (CD) yang berisi lagu Melly Goslaw
yang berjudul Diam bercerita tentang kekerasan terhadap perempuan.Lagu
tersebutlah yang mendorong Monita untuk menceritakan pengalamannya pada
Raya.Lagu yang membuat semua pendengarnya menjadi sangat miris bagai
diiris-iris. Coba simak saja syair lagu tersebut:
Kau tunjuk mukaku, aku diam
Kau hina diriku, aku diam
Kau jambak rambutku, aku diam
Kau paksa ku berbuat, ku tak diam
Oh Sudah terlalu (dan seterusnya)
Akhirnya kasus pemerkosaan terhadap Monita ini berhasil juga menjadi cover
story majalah Target.Hal ini digambarkan ketika Monita sedang merapikan
pakaian-pakaiannya dalam kopernya,lalu tampaklah majalah Target dengan cover
story peristiwa pemerkosaan terhadap Monita.
Yang barangkali kurang diangkat di serial film televisi ini adalah tidak
digambarkan bagaimana reaksi masyarakat luas tentang kasus pemerkosaan ini
padahal pelaku dan korbannya adalah artis ternama. Tapi serial film televisi
ini berhasil menjadi semacam kritik kepada media massa yang amat jarang
mengangkat peristiwa pemerkosaan dalam cover story mereka.
Bagaimanapun kita harus bangga dengan Leila S.Chudori yang telah lama kita
kenal sebagai penulis cerpen dan novel yang sangat pro perempuan kalau tak
ingin menyebutnya feminis. Kepeduliannya terhadap nasib perempuan dengan
menampilkan gambaran bagaimana kehidupan wartawan dan isu kekerasan terhadap
perempuan diangkat ke dalam skenario serial film televisi patutlah dipuji.
Kerjasamanya dengan sutradara Maruli Ara yang sudah berhasil menyajikan
tontonan yang bermutu ditengah-tengah berbanjirnya serial film televisi yang
menjual mimpi kosong, melecehkan otak pemirsa, dengan hal-hal berbau
mistik,takhayul atau menyontek produk dari luar negeri. Mengherankan juga
karena meski iklannya sangat banyak sehingga mengganggu kenyamanan menontonnya,
ternyata rating serial ini cukup rendah dibanding sinetron-sinetron pembodohan
itu. Adakah yang salah dari penonton kita ?
http://titiana-adinda.blogspot.com/
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/