Press Release 
  Untuk wartawan Lingkungan dan Humaniora
   
  Udara Bersih Bukan Untuk Diperdagangkan
   
  Yogyakarta [14/12/06]. Sejumlah kalangan Ornop ( Organisiasi Non Pemerintah ) 
yang tergabung dalam Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta mempertanyakan efektifitas 
konferensi internasional tentang kualitas udara (Better Air Quality-BAQ 2006) 
yang diselenggarakan pada tanggal 13-15 Desember 2006 di Yogyakarta. ”Secara 
substansi, acara tersebut tidak menyentuh akar permasalahan dari pencemaran 
udara, khususnya di Indonesia,” ujar Sekjend Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta 
Dede Nurdin Sadat. Menurutnya, acara tersebut lebih banyak membicarakan 
permasalahan teknis secara teknologi namun minim dalam melihat akar 
permasalahan pencemaran udara secara global. ”Yang terlihat dari acara tersebut 
justru merupakan ajang promosi dan perdagangan teknologi semata yang kemudian 
dimasukkan dalam skema hutang luar negeri,” tambahnya. 
  ”Seharusnya secara substansi forum tersebut lebih strategis jika membahas 
strategi dan komitmen global dalam menyelesaikan permasalahan struktural yang 
menjadi akar permasalahan pencemaran udara,” kata Koordinator Pokja Udara dan 
Trasportasi Tubagus Haryo Karbiyanto. Tubagus menambahkan bahwa beberapa 
permasalahan struktural yang seharusnya dibahas dan menjadi komitmen bersama 
adalah internalisasi prinsip-prinsip global dalam pengendalian pencemaran udara 
seperti kebijakan yang berwawasan lingkungan, implementasi, penegakan hukum, 
peningkatan partisipasi masyarakat, serta komitmen negara-negara maju sebagai 
konsumen terbesar sekaligus pengekspor teknologi yang selama ini mendominasi 
penyebab pencemaran udara. Kemudian, lanjut Tubagus, hasil pembahasan tersebut 
harus menghasilkan rencana aksi yang terukur dari masing-masing negara dalam 
kebijakan pengendalian pencemaran udara untuk dapat dievaluasi secara perodik. 
  Menurut salah satu anggota Pokja Udara Kaukus Lingkungan Jakarta, Firdaus 
Cahyadi, agenda BAQ 2006 justru akan kontraproduktif bagi perbaikan kualitas 
udara khususnya di Indonesia karena sangat potensial menambah beban hutang luar 
negeri dengan dalih teknologi ramah lingkungan. ”Permasalahan pencemaran udara 
justru akan semakin kompleks jika beban hutang luar negeri kita semakin berat.” 
ujarnya. Firdaus menambahkan, baban hutang luar negeri yang semakin berat bagi 
Indonesia selama ini terbukti telah memicu meningkatnya eksploitasi sumber daya 
alam dan lingkungan. ”Semaju apapun teknologi yang akan ditawarkan tidak akan 
menyelesaikan permasalahan pencemaran jika harus dihadapkan pada tuntutan dalam 
mendapatkan keuntungan sekaligus membayar hutang yang semakin bertambah. 
Seharusnya masalah ini dipahami sehingga melahirkan komitmen yang strategis dan 
menguntungkan khususnya bagi negara-negara miskin termasuk Indonesia,” 
tegasnya. 
  Sementara itu masih minimnya implementasi prinsip-prinsip pemerintahan yang 
baik (good governance) dan penegakan hukum (law enforcement) dalam kasus-kasus 
pencemaran udara yang selama ini terjadi menyebabkan sulitnya pengendalian 
pencemaran udara di Indonesia. ”Dalam pengelolaan sumber daya alam dan 
lingkungan seharusnya prinsip-prinsip pemerintahan yang baik dan penegakan 
hukum yang konsisten dikedepankan sebagai prasyarat yang harus dipenuhi,” 
ungkap aktivis Indonesian Center for Environmemntal Law (ICEL) Henri Subagiyo. 
Menurut Henri, hingga saat ini pelanggaran pencemaran udara yang bersumber dari 
industri, kendaraan bermotor, dan kebakaran hutan masih jauh dari memuaskan. 
”BAQ 2006 juga harus menghasilkan komitmen riil dari berbagai negara, khususnya 
negara-negara maju dan lembaga keuangan internasional atas sumber daya alam dan 
teknologi yang selama ini mereka gunakan. Minimal harus ada transfer teknologi 
yang ramah lingkungan dan sumber daya manusia secara nyata
 dari negara-negara maju dan lembaga keuangan internasional tanpa membebankanya 
dalam skema hutang luar negeri,” tegasnya. [selesai]
  ###
  Contact Person: 
  Sekjend Kaukus Lingkungan Hidup (Klin-J) Jakarta Dede N. Sadat ( 08158154472 
) 
  Koord. Pokja Udara dan Transportasi (Klin-J) Tubagus Haryo Karbiyanto 
(08129489558)
  Aktivis ICEL Henri Subagiyo (081585741001), 
  Anggota Pokja Udara, Klin-Jakarta Firdus Cahyadi  (081513275698)
   

 
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question 
on Yahoo! Answers.

Kirim email ke