FAJAR MENYINGSING.

Akulah murid Ibrahim dan Idris
yang mendamba fajar cemerlang
Langit menyerukan kebenaran
Tuhan dari segala makhluk itu
adalah totalitas dari
keseluruhan makhlukNya pula.
Tuhan Yang Esa :
mewujud segala bentuk
segala warna
segala rasa
segala suasana
yang parsial
dalam totalitas kegaiban.

Aku pun barat dan timur
Menyaksikan fajar menyingsing
Cahaya menerangi sintesa
Mengapa terperangkap
dan tak berdaya
dalam kotak-kotak identitas
dan prasangka.

Teringat pula kisah Mahabharata
dalam tugas kehidupan
Dan kini bumi nyata terbuka seluruhnya

Mengenai konflik dan perang
: kini pun terus berlangsung
Kebaikan dan keburukan
Keangkuhan hitam putih
Kebekuan dan kebuntuan
Tiada kesempatan pembaruan
Tiada ruang untuk perbedaan
Dan melancarkan aksi sepihak
menyakiti fisik sesama manusia

Dan pada malam demi malam yang gelisah
Ada tanya, ataukah sesal, sadar tak sadar
Dunia yang fana, dan hidup ini untuk apa?
Mana yang benar, mana yang keliru?
Dan bagaimana seharusnya?

Sama turunan Adam-Hawa 
di dalam kisah suci kegaiban
Yang setia dalam perjalanan
alam raya menyerukan peradaban
Dan dirumuskan di bumi Nusantara
Butir-butir kalimat pencerahan
Bagaikan fajar mulai menyingsing
Menepis kegelisahan malam
Menghimpun lagi segala kebenaran.

(Jkt, 11/12/06).

ah, puisi yang 'kasar' ya...
bukan puisi mungkin, ya entah apa namanya...
merupakan bagian dari buku puisi saya dengan
isi-lengkapnya sbb.:
1. Di Suatu hari.
2. Satu Senja di Selatan.
3. Malam Semakin Malam. 
4. Rembulan Dini Hari. 
5. Menanti Fajar.
6. Fajar Menyingsing.

Tabik,
HI - Jkt.



 
____________________________________________________________________________________
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
Ask your question on www.Answers.yahoo.com

Kirim email ke