THE BOSS KOMPAS PUNYAK WEWENANG BUKAN?
14 Des 2006,kamis

Waktu itu saya katakan ke Mas Wis, bila saya disuruh memilih, saya 
ingin sekolah, saya ingin tumbuh sebagai manusia, tidak ingin 
sekadar menjadi kode di akhir berita, di halaman surat kabar paling 
berpengaruh di Indonesia dan berpuas diri dengan itu. Saya ingin 
berkembang. Dan untuk itu saya memilih melanjutkan sekolah. Apakah 
saya kecewa terhadap Kompas? Saya kecewa tapi tidak dendam :) 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
KOMENTARANKU,
Hehe,sual kuciwah kerana kemaokan kita ditonglak, ituh wajar.
Tatapi dendemkah yang membuat 
munandar memblow up urusan internal kompas?
Sementara benerkah mas Wis ituh sak-urang idealist tulen?
Miss lilypun mempertaruhkennyah di antara
Dua gelombang yang saling punyak vested interest.
Inih cungkup jujur, 
tinimbang blowing upnyah mas satrioh bukan?
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Hehe,inih ada tunglisan netral yang banggus,

Buat menyadarken, tentang kebablasannyah kode etik

Wartawa senior, PECATAN KOMPAS JUGAK.

DIMANA MISS LILY MENGAKUIN ADANYAH

KEWENANGAN BOSS KOMPAS, MENYATAKEN INIHLAH

POLESIH PERUSAHAAN KAMIH.

Maok apah eluh? Maok sakkolah? Yang kaluwar hajah!

Menyangkitken memang, tatapi enggaklah miss lily dendem!

Kerana di perusahaan ituh ADA WEWENANG BOSS KOMPAS.

Satu pembelajaran kode etik,

Yang sakbenernyah kudu diketahuin Munandar

Sejak menitih karirnyah sakbagae wartawan ndesoh

Penjual beritah ke harian terbesar ala kompas ituh.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Re: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Satrio - tentang nilai-nilai 
Kompas 

Salam,
saya Lily Yulianti Farid, mantan wartawati Kompas di Makassar (1996-
2000), memilih keluar dari Kompas setelah mendapat SK Karyawan 
penuh, dengan alasan: mendapat beasiswa ke Australia sementara Pihak 
Manajemen tidak mengijinkan bersekolah ke luar negeri. Alasannya 
karena dianggap terlalu muda dan masih karyawan baru (menurut ucapan 
lisan seorang petinggi Kompas waktu itu kepada saya, saat menanyakan 
alasannya). "Anda kalau bekerja lama di sini nanti juga akan bisa 
disekolahkan oleh perusahaan...tapi kalau dapat beasiswa wah itu 
lain lagi.."  (kalimat ini saya catat baik-baik di tahun 2000)
 
Waktu itu Mas Wisudo yang mengangkat persoalan kasus saya ini lewat 
serikat pekerja. Mas Wis juga yang membahasnya di milis internal 
karyawan Kompas secara panjang lebar.
Seingat saya hanya Mas Wis dan segelintir orang yang memberi 
dukungan terbuka dan mempertanyakan soal aturan wartawan bersekolah 
ke luar negeri (well, dalam kasus saya lebih tepatnya: wartawan 
daerah yang sekolah ke luar negeri). Beberapa wartawan senior lain 
menunjukkan simpati. Di hari terakhir bekerja, kebetulan saat itu 
saya bertugas di Jakarta, Mas Wis mendatangi saya dan bertanya 
apakah keputusan saya sudah bulat meninggalkan Kompas, dan 
mengatakan tidak seharusnya Kompas bersikap sekaku ini dalam kasus 
wartawan yang ingin sekolah ke luar negeri dengan beasiswa yang sama 
sekali tidak membebani perusahaan satu sen pun. Waktu itu tawaran 
saya cuti di luar tanggungan selama sekolah pun tidak 
dipertimbangkan. Pilihannya: tetap bersama Kompas atau memilih 
tawaran beasiswa itu.
 
Saya memilih sekolah. Dan ini membuat teman-teman seangkatan saya 
waktu itu terperangah. Di zaman saya, menjadi wartawan daerah itu 
penuh penderitaan. Kami meniti karir dari calon koresponden, lalu 
menjadi koresponden, baru kemudian diangkat wartawan/karyawan penuh. 
Saya mulai bergabung dengan Kompas di Makassar Oktober 1996 baru 
diangkat karyawan penuh tahun 2000. Nasib wartawan daerah ini pun 
menjadi agenda perjuangan Mas Wisudo. Berbeda dengan teman-teman di 
Jakarta yang jenjang karirnya jelas, nasib kami terkatung-katung 
serba tak jelas. Dengar-dengar sekarang kondisinya sudah jauh lebih 
baik, karyawan baru diangkat pun sudah bisa ikut short-course ke 
luar negeri...Syukurlah kalau memang benar begitu.
 
Waktu itu saya katakan ke Mas Wis, bila saya disuruh memilih, saya 
ingin sekolah, saya ingin tumbuh sebagai manusia, tidak ingin 
sekadar menjadi kode di akhir berita, di halaman surat kabar paling 
berpengaruh di Indonesia dan berpuas diri dengan itu. Saya ingin 
berkembang. Dan untuk itu saya memilih melanjutkan sekolah. Apakah 
saya kecewa terhadap Kompas? Saya kecewa tapi tidak dendam :) 
 
Waktu mengambil keputusan itu ya, saya sedih luar biasa bukan karena 
harus keluar dari Kompas (padahal baru diangkat sebagai karyawan 
penuh setelah mengabdi 5 tahun sbg karyawan lepas!), tapi lebih 
karena citra Kompas yang  waktu itu saya anggap pasti mendorong 
setiap wartawannya mengembangkan diri, memperdalam ilmu, dan betul-
betul mewujudkan sosok wartawan-intelektual, yang rasanya makin 
sulit dilahirkan dalam kondisi kerja industri pers di Indonesia 
seperti sekarang ini. Tidak diizinkan bersekolah adalah sesuatu yang 
tidak pernah terpikir dalam benak saya, waktu itu. 
 
Jadi betul kata Mas Satrio, ini soal image, soal citra KOMPAS. Kasus 
Mas Wis kembali akan menggarisbawahi lagi persoalan citra ini. Saya 
tentu berusaha melihat persoalan Mas Wis dengan jernih. Kita harus 
melihat perkembangan kasusnya, Mas Tom (Suryopratomo) sudah bicara 
ke pers membantah semua tudingan Mas Wis. Dan kemarin sore saya 
menelepon Mas Wis memberi dukungan moral atas pilihannya untuk terus 
melawan, ia mengeluh: "Saya diisukan melakukan ini semua demi uang, 
demi pesangon yang besar..apa iya saya semurah itu?" 
 
Untuk kabar miring seperti itu, saya akan membantu Mas Wis membantah 
dugaan murahan seperti itu. Saya kenal Mas Wis sebagai wartawan 
senior  idealis yang masih mau rela berlelah-lelah menyisihkan waktu 
menyuarakan hak pekerja, di saat kami semua, wartawan lainnya lebih 
senang tidur nyaman di "comfort zone" : cukuplah menjadi kode (eh 
sekarang sudah by line ya..) di koran terkemuka dan paling 
berpengaruh di tanah air. Kalau pun ingin menggerutu soal manajemen 
dan segala sengkarutnya, ya cukup gerutuan lirih yang jangan sampai 
menimbulkan resiko dan menghambat karir serta promosi jabatan.
 
Teman-teman Kompas tentu terbelah-belah, ada yang menyalahkan sikap 
keterlaluan Mas Wis yang membagi-bagikan foto copy suratnya ke Pak 
JO, ada yang mendukung tapi dalam hati saja, ada yang diam saja ikut 
arah angin. Jadi untuk orang-orang di luar Kompas, melihat persoalan 
ini sangat tergantung dari mana anda mendapatkan informasi. Saya  
mendapat masukan dari karyawan yang tidak mengikuti jejak jatuh 
bangunnya serikat pekerja di Kompas, dan celotehannya 
adalah: "Lah..dipindah tugas ke Ambon kok gak mau, sekarang malah 
menjelek-jelekkan perusahaan..kan Mas Wis sendiri yang harus patuh 
pada kontrak kerja karyawan..."
 
Tapi dari sejumlah wartawan senior yang diam-diam dan terang-
terangan mendukung Mas Wis, saya mendapat komentar "Drama hari Jumat 
itu memang luar biasa. Rasanya tidak percaya manajemen harus 
bertindak sejauh ini..."
 
Dari pihak manajemen Kompas sendiri, mereka sudah punya setumpuk 
alasan mengapa tiba pada keputusan memecat Mas Wis. Kita baca di 
media massa: masalah internal biasa, masalah ketidakdisiplinan dan 
ketidakpatutan. 
 
Untuk Mas Wis, selamat berjuang. Untuk Manajemen Kompas: Mata hati, 
kata hati, (mengutip mottonya..hehehe)
 
salam,
ly
Tokyo



Kirim email ke