Wartawan diatur nara sumber?
Dengan maraknya liputan infotainment belakangan ini, ada kecenderungan
wartawan sekarang dapat diatur oleh nara sumber. Namun sayangnya, mengapa
wartawan media mapan macam Kompas pun dapat diatur?
Kalau saya baca berita-berita hiburan di Kompas.com banyak berita yang
diturunkan tanpa konfirmasi atau re-check kepada nara sumber pembanding.
Berita semacam itu yang paling terlihat pada pagi hari (antara pukul
08.00-10.00) dan waktu-waktu lainnya.
Ini contoh berita yang paling parah:
Rumah Machica Diserang Orang Moerdiono?
Laporan Wartawan KCM Eko Hendrawan Sofyan
JAKARTA, KCM- Penyanyi dangdut Machica Muchtar menceritakan kejadian
mengejutkan yang menimpanya pagi tadi (Jumat, 8/12). Sekitar pukul 09.00,
rumahnya yang ada di Jalan Perkutut V nomor 9, Bintaro, Tangerang disatroni
tiga lelaki berbadan tegap, yang masuk tanpa permisi. Salah satu dari dari
mereka membuka pintu dan mengawasi sekitar, sementara dua lainnya mengejar
Machica yang saat itu masih mengenakan daster, sambil menggendong bayi.
Machica lalu lari ke dalam kamar untuk menidurkan bayinya. Kemudian ia keluar
lagi dan menemui ketiga tamu tak diundang itu. "Anda jangan coba ancam-ancam
mantan pejabat. Kalau anda macem-macem akan saya habisi," begitu kata salah
satu orang itu, seperti dituturkan Machica saat menggelar konferensi pers
berkaitan dengan kasus ini, sore tadi. "Saya lalu
bilang, Anda siapa? Silakan duduk, apa maksud kedatangan Anda?" sambung Machica
menirukan jawaban yang dilontarkannya.
Ketiga orang itu pun langsung pergi setelah berhasil menghardik Machica.
"Karena dia menyebut mantan pejabat, pikiran saya langsung tertuju pada pak
Moer (Moerdiono-Mantan Menteri Sekretaris Negara di era Presiden Soeharto).
Tolong jika Anda memang disuruh Pak Moer, suruh dia datang sendiri ke sini
untuk bertemu anaknya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai ayah,"
cerita Machica.
Moerdiono dan Machica memang pernah menikah pada 20 Desember 1993 dan bercerai
pada tahun 1998. Dari penikahan itu, mereka dikaruniai seorang putra bernama
Iqbal Ramadhan yang lahir pada 5 Februari 1996. Lima tahun lalu, Machica
menikah lagi dengan Khalid Mahmud dan mendapat seorang putri bernama Aksa Nur
Azizah yang lahir pada 5 November lalu.
Kalangan pers sendiri mengetahui kejadian ini dari pengumuman lewat layanan
pesan singkat (SMS) berbunyi: "Machica diancam Moerdiono. Hari ini jam 3, dia
mau ngomong di rumahnya Jalan Perkutut V U2 nomor 9, Sektor II, Bintaro Jaya.
Masuk dari Jalan Perkutut III."
Meski begitu, kejadian ini dibenarkan oleh orang-orang yang ada di sekitar
rumah Machica. Seorang pembantu di rumah nomor 8 yang letaknya di depan rumah
Machica mengaku melihat tiga orang yang menggunakan sepeda motor masuk dengan
cepat ke dalam rumah. Sesaat kemudian terdengar pertengkaran dari dalam. "Anda
ini hanya orang suruhan," begitu kata wanita yang enggan disebut namanya,
mengutip teriakan Machica.
Kesaksian serupa juga diungkapkan seorang satpam komplek, yang juga tak mau
mengungkap jati dirinya. "Pagi tadi saya memang tidak sedang bertugas, tapi
saya melihat ketiga orang yang masuk ke rumah itu. Mereka naik dua motor,"
katanya.
Machica menduga penyerangan ini terkait dengan pernyataannya pada sebuah
tayangan televisi beberapa hari lalu. Kala itu, saat dimintai komentar tentang
poligami, Machica sempat menyelipkan pesan buat mantan suaminya. Ia meminta
agar Moerdiono turut bertanggungjawab untuk membesarkan Iqbal, putranya.
Ia berkisah, Iqbal yang saat ini sudah berusia lebih dari 10 tahun sering
mengungkapkan kerinduannya pada sang ayah. "Dia suka tulis-tulis di kertas
kalau dia ingin ketemu ayahnya," kata Machica. "Kalau soal rejeki saya memang
pernah menikmati saat masih menikah. Tapi masa-masa indah saya itu tidak
dirasakan oleh anak saya," ungkapnya.
Selain itu, keberadaan Moerdiono pun diperlukan untuk urusan administratif sang
anak. Pasalnya, hingga hari ini, dokumentasi yang berkaitan dengan Iqbal masih
menyebutkan kalau bocah itu dilahirkan di luar pernikahan. Padahal, Machica dan
Moerdiono menikah resmi di rumah yang saat ini didiami Machica. Waktu itu,
mereka dinikahkan oleh ayah Machica, H
Muchtar Ibrahim, yang saat itu menjabat Lurah Kota Madya Makassar.
Penulis: Glo
Berita ini diturunkan pada Jumat (6/12) pukul 18.00. berita ini hanya bersumber
pada 1 orang dan kutipannya pun sangat insinuatif. Dikatakan orang yang datang
mengatakan "mantan pejabat" maka Machica mengambil kesimpulan "mantan pejabat'
itu adalah pak Moerdiono. Dan wartawan Kompas mengutipnya mentah-mentah?
Masyaallah... in kan prinsip paling dasar dari suatu tulisan jurnalistik,
bahwa bla menyangkut nama baik seseorang dan belum terbukti secara hukum
sebaiknya disamarkan?
OK-lah kalau yang melakukan pekerja infotainment yang mengejar uang tanpa
menghiraukan prinsip-prinsip jurnalistik yang santun dan berimbang. Tapi
Kompas? Kalau soko-guru pers Indonesia saja sudah terjebak pada penggampangan
seperti ini, mungkin kiblat dunia pers memang harus bergeser pada media lain.
Saya tidak mempersoalkan sosok Moerdiono-nya. Tidak juga karena puterinya saya
dengar ada di Kompas. Naikkan-lah berita itu kalau memang layak, berimbang dan
bermanfaat. Bukan Anda malah dimanfaatkan orang lain.
Terimakasih. Maju terus Kompas.
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/