Barusan bell rumah kami berdering. Saya bergegas ke lantai bawah. Di Screen monitor saya melihat wajah salah seorang ibu, yaitu tetanggaku yang ikut dalam English Class yang saya pimpin sekali dalam seminggu. Dengan bahasa Inggrisnya yang masih terbata-bata dan malu-malu ibu ini menyodorkan sebuah kotak buat saya. Saya mengerti bahwa si Ibu ini baru kembali dari salah satu Super Market dan membeli sebuah alat pemanas tubuh dwi fungsi buat saya. Saya mempersilahkannya masuk. Ibu itupun masuk karena beliau tahu tanpa bantuan beliau mendemonstrasikan cara penggunaan alat tersebut, saya tidak akan bisa membaca instruksi yang hanya ditulis dengan kalirapi china inu.
Setelah ibu ini yakin bahwa saya telah mengerti maksudnya, dengan tergesa-gesa si Ibu pergi meninggalkan saya dengan wajah ceria dan saya melambaikan tangan dengan wajah kekaguman dan rasa trimakasih yang dalam. Sejak kami pindah ke Campaond ini, saya memang ingin sekali berkomunikasi dengan para tetangga dan kalau boleh menjalin hubungan baik dengan mereka. Melalui Anjing kami Grayi, sedikit demi sedikit saya mengetahui siapa-siapa yang bisa berbahasa Inggris diantara mereka. Saya mulai menawarkan English Class buat anak-anak secara cuma-cuma. Tiga-empat anak datang dengan rajin setiap sore satu jam ke rumah kami, kecuali pada Week-End. Saya mengajar mereka, tapi anak-anak itupun memperkaya saya dengan kasih sayang mereka. Sekarang tuntutan pelajaran sekolah mereka semakin berat dan mungkin (mudah-mudahan) English merekapun sdh lebih baik maka kami sepakat utk menghentikannya. Oleh keinginan saya berkomunikasi dengan mreka, saya akhirnya menawarkan kursus yang sama sekali seminggu buat ibu-ibu yang pengen belajar B.Inggris. Kini ada tiga ibu yang datang sekali seminggu. Salah seorang dari tiga ibu itu adalah ibu yang membelikan alat pemanas tadi. Bukan hanya itu, saya ternyata banyak tertolong melalui mereka. Tinggal di satu negara, tanpa menguasai bahasa yang berlaku memang tidaklah mudah. Sebulan yl. saya membeli tas computer buat suami saya di salah satu toko tas. Mereka memberi guarantie qualitet mereka. Tapi rupanya suami saya mengisi tas itu melebihi kapasitas, atau tas itu memang tdk seperti luarnya yang kelihatan kokoh. Salah satu gagang rodanya patah. Saya membawa tas tersebut ke toko itu. Mereka menerimanya tanpa masalah, dengan janji akan mengirimnya ke alamat saya seminggu kemudian. Waktu seminggu telah berlalu, tas itu belum dikirim. Kemarin, setelah mengajar, saya meminta salah seorang ibu yang lain, yang lebih mengerti B.Inggris untuk menelefon toko Tas tersebut. (Tentu dari telefon rumah kami) dan meminta agar tasnya segera dikirim. Dengan senang hati si Ibu itu menolong saya. Dia berkata bahwa tas itu akan dikirim malam itu juga setelah toko tutup. Sorenya, suami si Ibu murid saya itu, menelefon saya. Beliau ternyata lancar B. Inggrisnya (Suami/istri orang Taiwan). Si Bapak dengan ramah memperkenalkan dirinya dan berkata bahwa beliau akan mencek sampai tas computer itu benar saya terima hari itu juga. Wah!!! Saya sangat berterima kasih atas perhatian beliau itu. Malam itu saya katakan pada ponakan saya bahwa seseorang akan datang bawa tas, supaya dia buka pintu kalau ada yang ngebel. Si ponakanpun melakukannya ketika ia mendengar bel berdering. Tidak lama kemudian dia mendatangi saya. Namboru (tante) orang itu mau bertemu tante katanya. Saya pikir, kenapa, apa mereka minta uang transport atau upah tukang? Sayapun turun menemui mereka yang menunggu di ruang garasi. Dua orang berdiri di depan saya. Salah seorang dari mereka saya kenal sebagai penjual di toko itu. Anjing saya tak mau ketinggalan, langsung menciumi mereka. Saya mengajak mereka masuk, tapi mereka menolak. Si nona yang saya kenal sebagai pelayan toko itu memperkenalkan lelaki disampingnya sebagai bossnya. Si boss yg juga bisa berbahasa Inggris itu dengan bangga menyodorkan sebuah tas yang sama tapi brend new pada saya. Setelah sedikit basa-basi, dengan wajah berseri-seri mereka naik mobil dan meninggalkan saya yang juga gembira dapat tas yang baru. Dengan gembira sayapun menceritakan hal itu pada suami saya yang sedang berada di tempat lain. Saya berterimakasih pada suami murid saya. Beliau sangat kaget dan gembira mendengar bahwa saya diberi tas baru. Beliau juga berkata, setiap kali saya perlu bantuan beliau saya tdk perlu segan-segan menelefon beliau. Dengan gembira juga saya sedang bercerita dengan rekans miliser yang sedang membacanya. Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Roslina
