Kalau Pak Jacob (di republik BBM) ikut Milis, mungkin beliau 
menulisnya begini...

Wisudo, artinya kamu itu diwisuda, dipercaya, diberi amanat.  Amanat 
itu adalah dari Rakyat, yaitu mengemban amanat hati nurani rakyat.

Wis itu artinya selesai, artinya juga menahan diri,

Semoga harapan ku, kamu itu bisa menjadi panglima hati nurani 
rakyat, dengan banyak memikirkan pembacamu, masalah rakyat, termasuk 
di Ambon itu.

Saya ini sudah tua, kalau mauku sih aku itu mancing ikan lele, 
daripada ngurusi amanat hati nurani rakyat, yang toh kamu sudah lama 
ikut aku, tapi ora ngerti-ngerti.  sampai diewer-ewer Satpam, lha 
piye?

Kadang yang paling sulit itu mengerti menyadari kesalahan kita, 
bukannya maju terus pantang mundur, dan menyuruh Pemimpin mu 
mundur.  Lha pemimpin redaksi mu itu sudah mengalami kejadian 
seperti kamu itu bolak-balik, sudah berbuat kesalahan seperti kamu 
bolak-balik, masak saya disuruh ngganti, dengan sepertimu, yang 
masih belajar.  Lha piye?

Aku itu sedih, Wis, kalau besok aku menghadap Yang Kuasa, aku 
mengharapkan kamu bisa membalik hatimu, yaitu dengan memikirkan 
Rakyatmu, termasuk yang di Ambon itu.

.........

(lampu mati)


--- In [email protected], "Priyo Husodo" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> memang reputasi kompas akan sedikit terganggu, namun itu akan 
berlalu dengan
> berjalannya waktu. Paling sebulan lagi isu ini akan menguap...
> soal tenaga kerja (baca: buruh) memang selalu mengharu biru...
> tapi apa benar Bambang dipindah karena ada masalah pribadi? bukan 
hanya
> sekedar tour of duty biasa?
> 
> pembaca setia kompas.
> ph
> 
> 
> On 12/13/06, Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >    Problem Kompas dari dulu sampai sekarang, adalah soal image. 
Oleh
> > karena itu, kasus ketenagakerjaan, meski tidak berdampak 
signifikan pada
> > keuangan Kompas, sangat merugikan dari segi image. Dan dalam 
jangka panjang,
> > image and reputation risk juga bisa berdampak pada financial 
performance.
> > (Ini teori management yang saya pelajari)
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: Dian Kartika Sari <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [email protected]
> > Sent: Tuesday, December 12, 2006 9:14:10 PM
> > Subject: Re: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - 
tentang
> > nilai-nilai Kompas
> >
> >  Mas Satrio,
> >
> > Adakah jalan lain dari 'luar" Kompas yang bisa ditempuh untuk 
mendorong
> > diimplementasikanny a nilai-nilai Kompas di tingkat internal ?
> >
> > Misalnya (misalnya lho ini ) kampanye boikot beli koran Kompas, 
karena
> > koran itu diproduksi dengan sistem produksi yang menindas 
pekerjanya .
> >
> > Para tetangga di komplek saya rerasan bicara soal rencana itu. 
Maklum saya
> > tinggal di kompleks wartawan di depok, sepertinya ada pola 
solidaritas dalam
> > menghadapi kasus Kompas ini.
> >
> > Apakah cara seperti itu efektif ?
> > sebenarnya sih ragu, kalau lihat tiras kompas dan banyaknya anak
> > perusahaan yang dimiliki, tentu boikot 1000 sampai 2000 orang 
nggak akan
> > ngaruh.
> >
> > Atau ada alternative lain ?
> >
> > salam
> > dian
> >
> >
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > *From:* Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]>
> > *To:* [EMAIL PROTECTED] ps.com <[email protected]>
> > *Sent:* Tuesday, December 12, 2006 12:05 AM
> > *Subject:* Re: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - 
tentang
> > nilai-nilai Kompas
> >
> >
> >
> >  Oh, jangan khawatir!
> > Selama pengalaman saya 7 tahun di Kompas, saya tahu, umumnya 
orang Kompas
> > akan memilih tutup mulut dan main aman dalam situasi genting 
(ini mungkin
> > kecenderungan di banyak media, bukan cuma Kompas). Saya tidak 
menyalahkan
> > mereka. Tapi, tak usah mengharapkan ada pernyataan terbuka di 
milis atau
> > media tentang kasus yang menimpa Wisudo dari mereka.
> >
> > Kalau dibilang dendam, tidak ada. Sampai saat ini saya tetap 
berhubungan
> > baik dengan teman-teman di Kompas. Waktu saya menikah (sesudah 
saya
> > keluar/dipaksa mundur dari Kompas), saya juga mengundang Pak 
Jakob Oetama.
> > Dan beliau juga datang kok!
> >
> > Sesudah saya keluar dari Kompas, sejumlah tulisan yang saya 
kirim juga
> > pernah dimuat di Kompas. Jadi saya yakin, pimpinan Kompas dan 
Pak Jakob juga
> > tidak punya dendam pada saya. Kami berdua sama-sama tahu, apa 
yang terjadi
> > pada 1995, ketika saya dipaksa mundur dari Kompas adalah karena 
TEKANAN
> > REZIM SOEHARTO. Kompas tak punya pilihan lain dan tak punya 
kekuatan menolak
> > tekanan Menteri Penerangan Harmoko waktu itu dan para pimpinan 
PWI Pusat dan
> > PWI Jakarta (waktu itu diketuai Tarman Azzam). Ingat, jika 
Kompas bandel,
> > bisa dibreidel kapan saja waktu itu! Jadi, ketika saya dipaksa 
keluar waktu
> > itu, kami sama-sama tahu, alasannya adalah 100% pertimbangan 
politik. Karena
> > Pak Jakob pun mengakuyi, tidak ada satu pun kesalahan yang saya 
lakukan
> > sebagai KARYAWAN.
> >
> > Tempat saya bekerja sekarang lebih baik dari Kompas? Bung, saya 
sudah
> > pernah bekerja 3 suratkabar nasional (Pelita, Kompas, Media 
Indonesia), 1
> > majalah berita mingguan (D&R), dan 1 stasiun TV (Trans), dan 
kesimpulan saya
> > tidak ada tempat bekerja yang sempurna. Masing-masing punya 
kelebihan dan
> > kekurangan sendiri-sendiri.
> >
> > Pernyataan saya di bawah ini justru berasal dari rasa cinta saya 
pada
> > Kompas, karena saya tahu nilai-nilai luhur yang ditanamkan para 
pendiri
> > Kompas (almarhum PK Oyong) sangat berharga untuk dipertahankan. 
Dan Kompas
> > tidak akan bertahan lama, dan akan turun posisinya menjadi 
sekedar sebagai
> > bisnis cari untung biasa, manakala nilai-nilai keutamaan yang 
ditanamkan
> > para pendiri Kompas yang awal itu ditinggalkan atau disisihkan.
> >
> > Pak Jakob Oetama dan sejumlah senior saya di Kompas adalah guru-
guru saya
> > dalam ilmu jurnalistik. Saya tidak pernah mengingkari hal itu 
dan tetap
> > menghormati mereka sampai sekarang. Jadi, kritik dan saran yang 
saya
> > sampaikan justru saya maksudkan untuk kebaikan Kompas, para 
karyawannya
> > (bukan cuma Wisudo), dan menyelamatkan nilai-nilai para 
pendirinya, yang
> > mungkin saja sekarang terlanda erosi akibat tuntutan 
kapitalistik. Kompas
> > punya arti dan makna, karena nilai-nilai itu, yang saya anggap 
jauh lebih
> > penting dari masalah pribadi.
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: dimastakha <[EMAIL PROTECTED] co.id>
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Sent: Monday, December 11, 2006 10:54:12 PM
> > Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - tentang
> > nilai-nilai Kompas
> >
> >  Bung, cobalah lebih balance. Anda kan wartawan senior, tidak 
usah
> > terjadi hanya percaya satu sumber. Jika itu terjadi, tentu 
memalukan
> > bukan?
> > Tanya juga teman2 di Kompas, apa yang sesungguhnya terjadi.
> > Jangan terkesan Bung ada dendam terhadap Kompas?
> > Serta, apakah tempat Anda bekerja saat ini lebih baik dari 
Kompas?
> >
> > salam
> > dimast,
> > ikut prihatin juga
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com <mediacare%40yahoogroups.com>, 
Satrio
> > Arismunandar
> > <satrioarismunandar @...> wrote:
> > >
> > > Teman-teman,
> > >
> > > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI,
> > pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri 
dari
> > wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan
> > dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, 
terkait
> > soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan saya di AIPI,
> > sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI (Aliansi
> > Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja 
di Kompas.
> > >
> > > Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan 
penuh
> > tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. 
Artinya,
> > perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan Wisudo, 
tetapi
> > sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh istri/keluarga.
> > Tentu dengan berbagai risikonya.
> > >
> > > Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa
> > pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih
> > sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada orang-orang yang
> > berjuang untuk idealismenya.
> > >
> > > Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan 
media
> > yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan paling
> > berpengaruh) , sebetulnya bisa saja. Kompas adalah salah satu 
dari
> > sedikit media yang menyediakan pensiun buat karyawannya. Namun, 
Wisudo
> > memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko perjuangannya.
> > Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas.
> > >
> > > Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin
> > menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di 
dalam
> > Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu alternatifnya tentu 
lewat
> > jalur hukum (LBH).
> > >
> > > Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi 
karyawan
> > yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan menghasilkan dampak 
yang
> > baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas
> > sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang terkait 
dengan visi
> > dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan perusahaan yang
> > didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini.
> > >
> > > Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama ini (lihat 
tajuk
> > rencana/editorialny a) sering mengangkat isu-isu demokratisasi,
> > keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya? Bukankah Kompas 
menganut
> > dan meyakini nilai-nilai "humanisme transendental" ? Apakah itu 
sekadar
> > gincu, dan bukan genuine values yang dianut Kompas, mengingat 
secara
> > internal ternyata nilai-nilai itu masih dipertanyakan, karena 
tidak
> > terimplementasi?
> > >
> > > Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan 
bagian
> > utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas Gramedia) akan 
melangkah
> > memasuki abad baru dunia informasi dan globalisasi, dengan segala
> > dinamika perubahan, tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar
> > nilai-nilai mendasar, yang memberi makna pada keberadaannya?
> > >
> > > Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG adalah 
figur
> > Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri yang memiliki 
wawasan
> > kuat ke depan, nasionalisme, kharisma, wibawa dan 
intelektualitas.
> > Namun, dengan segala hormat atas kekuatan manajerialnya, JO 
tidak akan
> > memimpin KKG selama-lamanya.
> > >
> > > Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti 
ditinggalkan
> > JO, sementara core values yang menjadi landasan berdirinya dan
> > suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami erosi karena
> > langkah-langkah "pragmatis-oportini stis" jangka pendek? Bukan 
tidak
> > mungkin, langkah-langkah semacam ini akan diteruskan oleh para
> > pimpinan Kompas/KKG pasca JO nanti. Mereka adalah generasi baru, 
yang
> > mungkin kurang menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan 
generasi
> > pendiri.
> > >
> > > Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan 
segala
> > kearifannya, sebagai figur yang menjadi panutan dan dihormati di 
KKG
> > dan Kompas, dapat ikut campur tangan melakukan intervensi. 
Karena yang
> > dipertaruhkan di sini BUKAN cuma nasib Wisudo, Yanu dan keluarga,
> > tetapi nasib dan survivabilitas dari KKG, Kompas, dan nilai-nilai
> > luhur (core values) yang selama ini dianut, diyakini, dihayati, 
dan
> > terbukti telah membesarkan Kompas.
> > >
> > > Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian 
ribu
> > karyawan Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders yang 
berkaitan
> > dengan keberadaan institusi media besar ini, termasuk para 
pembaca
> > Kompas di seluruh pelosok Indonesia. Peran media sangat penting 
untuk
> > kemajuan negeri ini. Peran vital media seperti Kompas masih amat
> > dibutuhkan, untuk ikut menggalang dukungan dari jutaan rakyat
> > Indonesia -- yakni, mereka yang masih punya idealisme dan niat 
baik--
> > untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia.
> > >
> > > Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap 
sebagai
> > salah satu guru saya dalam ilmu jurnalistik dan wawasan 
kewartawanan,
> > bersedia untuk turun tangan langsung, demi kebaikan dan 
kelangsungan
> > institusi KKG dan Kompas, beserta nilai-nilai luhur yang selama 
ini
> > memberi makna pada keberadannya.
> > >
> > >
> > > Wasalam,
> > > Satrio Arismunandar
> > >
> > > (mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada 1988-
1995,
> > dan selama itu banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan 
kearifan
> > dari guru-guru saya di Kompas)
> > >
> > >
> > >
> > ============ ========= ========= ========= ========= ========= 
=========
> > =======
> > > (dari milis AIPI, ditulis oleh Yanu:)
> > >
> > > Saya ucapakan Terimakasih atas dukungan yang
> > > diberikan Mas Rio terhadap saya dan keluarga.
> > > Perlakukan yang diberikan jajaran manajement Kompas
> > > terhadap suami saya, adalah satu resiko yang sudah
> > > kami hitung sejak lama. Perjuangan suami saya Wis
> > > (Bambang Wisudo) tentang pemilikan saham karyaam
> > > bukanlah perjuangan yang dilakukan dalam hitungan
> > > hari.
> > > Delapan tahun sudah, ia dan teman-temannya di
> > > Perkumpulan karyawan Kompas melakukan perjuangannya
> > > untuk menuntut mengembalian saham 20% yang diambil
> > > oleh perusahaan tanpa sepengetahuan karyawan. Selama
> > > itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai
> > > kebijakan dari management Kompas untuk melakukan
> > > berbagai penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami
> > > saya dan kawan-kawan.
> > > Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas
> > > Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami
> > > saya bukan tidak mungkin akan terjadi. Namun perlakuan
> > > dan tindakan para jajaran pimpinan kompas yang
> > > menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan
> > > primitif adalah jauh dari banyangan kami.
> > > Sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus
> > > intitusi yang menyuarakan serta menggembar-gemborka n
> > > persoalan HAM dan Demokrasi maka tidak sepantasnya
> > > Kompas melakukan tindakan brutal dan primitif (dengan
> > > melakukan penyeretan dan penyekapan) dalam proses
> > > pemutusan hubungan kerja. Bahkan sejauh yang saya
> > > tahu, pemecatan terhadap buruh linting di pabrik
> > > rokokpun masih dilakukan cara-cara yang sangat sopan.
> > > Sungguh suatu hal yang sangat ironis bagi Kompas
> > > yang bangga dengan logonya "Menyuarakan Amanat Hati
> > > Nurani Rakyat", perlakuan dan tindakan terhadap
> > > karyawannya justru jauh dari apa yang selama ini
> > > ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS.
> > > Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu
> > > bukanlah karena suami saya dipecat dari Kompas tapi
> > > justru karena gambaran Kompas sebagai media tempat
> > > suami saya berkarya selama ini adalah Kompas telah
> > > mengkhianati dari nilai-nilainya sendiri. Kompas yang
> > > impikan oleh suami saya, yang pernah menjadi cita-cita
> > > suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang
> > > dibandingkan pabrik sandal jepit.
> > > Saya justru bangga bahwa karena ditengah
> > > gemerlapnya fasilitas materi yang bisa dinikmati
> > > wartawan kompas, suami saya masih kukuh untuk
> > > menyatakan kebenaran, untuk menggugat hak-hak karyawan
> > > yang telah dirampas oleh perusahaan. Dengan itu pula
> > > kami dapat tetap melangkah dengan kepala tegak dan
> > > hati ringan saat kami meninggalkan kantor Kompas malam
> > > itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak kurang
> > > dibandingkan pabrik sandal jepit.
> > > Salam
> > > Yanu (Istri Bambang Wisudo)
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> > > Any questions? Get answers on any topic at www.Answers. 
yahoo.com.
> > Try it now.
> > >
> >
> >
> >
> >
> > ------------------------------
> > Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small 
Business.<http://us.rd.yahoo.com/evt=41244/*http://smallbusiness.yaho
o.com/r-index>
> >
> >
> >
> > __________ NOD32 1916 (20061212) Information __________
> >
> > This message was checked by NOD32 antivirus system.
> > http://www.eset. com <http://www.eset.com/>
> >
> >
> >
> >
> > ------------------------------
> > Check out the all-new Yahoo! Mail 
beta<http://us.rd.yahoo.com/evt=43257/*http://advision.webevents.yaho
o.com/mailbeta>- Fire up a more powerful email and get things done 
faster.
> >
> > 
> >
>


Kirim email ke