Astaghfiruloh aladzim..,
Lagi-lagi saudara yang berpikiran dan beragama secara sempit, beragama hanya
untuk menyusun kelompok yang sewarna, bukan untuk menerapkan secara wajar di
tengah manusia yang kompleks. Adakah Islam mengajarkan untuk tidak
mempelajari apapun kecuali Al Qur'an ? Bukankah justru dituntut untuk
menimba ilmu sampai ke negeri china ? Kalau takut setelah memahami ajaran
lain kemudian ragu dengan ajaran yang sudah dipahami ya tiliklah kepada hati
dan pikiran anda lalu tanyakan kepada yang lebih paham, carilah argumentasi
kebenaran dengan pemahaman yang lebih dalam, jangan kemudian mengharamkan
tanpa melihat maknanya. Kalau ajarannya tidak bertentangan tidak perlu risau
dengan plakat ini Kristen itu Hindu yang itu lagi Budha. Kenapa ? Itulah
phobia persaingan. Mari galilah kelebihan-kelebihan Islami, jangan hanya
mengharamkan yang belum tentu salah.. malu sama Allah yang Maha Melihat..
Contohlah Aa Gym yang menggali norma-norma Islami yang lembut, saya kira
lebih baik.

Wassalam


On 12/14/06, Esther L siagian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Ya, saya setuju dengan Roslina,

Kaligrafi sebetulnya berkenaan dengan sistem tulisan. Makna
harafiahnya adalah tulisan indah. Di Indonesia memang terjadi salah
kaprah seolah kaligrafi hanya milik masyarakat Islam, padahal tidak
begitu.

Dalam sejarah tulisan di muka bumi ini, ada tiga sistem tulisan besar
yang mengembangkan seni kaligrafi: kaligrafi tionghoa (teramasuk
Jepang, Korea), kaligrafi latin (barat), dan kaligrafi arab.
Kaligrafi, bahan dasarnya tulisan, jadi yang dirujuk adalah sistem
tulisan yang dipakai, yakni tulisan tionghoa, tulisan latin, dan
tulisan arab. Periode Islam, memang banyak mengembangkan kaligrafi
karena adanya larangan untuk menggambar bentuk2 realistik. Jalan
keluarnya ya berekspresi dengan kaligrafi, walau kemudian banyak juga
kaligrafi itu meniru gambar realistik.

Jadi yang perlu ditegaskan budaya atau dalam hal ini tidak bisa
dikatakan budaya Arab identik dengan Islam. Sistem tulisan hanya
salah satu unsur budaya Arab, yang bisa saja dipakai oleh kalangan
non Islam.

Sther

--- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, Roslina
Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saudara Budi,
>
> saya benar-benar jadi tertawa kecut membaca ulasan anda di bawah
ini.
> Terkesan setidak-tidaknya anda sendiri adalah pengecut dan berusaha
> mengungkung orang lain dalam ruang yang tertutup. Selain itu, dari
> contoh orang yang membeli kaligrafy Islam itu, anda melukiskan
betapa
> naif dan lugu, kalau tdk bisa dibilang bodoh para penganut Islam
itu
> (maaf ini benar-benar hanya ditujukan kepada Islam di mata sdr.
Budi).
> Seseorang ingin menghias rumahnya dengan kaligrafi Arab, walaupun
ngak
> mengerti apa isi dan makna kaligrafi itu????????????????????????
>
> Bahasa Arab dijadikan symbol Islam atau hanya milik Islam semata.
Symbol
> dijadikan kwalitas rohani, kwaliitas rohani didasarkan pada sebuah
> ajaran yang samar. Samar sebab sipemeluk ajaran tak mampu membaca
> apalagi mengerti apa yang diajarkan berdasarkan tulisan yang
menjadi
> referensi bahkan dasar pengajaran itu.
>
> Sebaliknya benarkah bahasa Arab itu hanya milik orang Islam? Saya
> pribadi mengenal orang Sirya, Iran, Libanon, Palestina, Jordania,
> apalagi Mesir dan negara-negara di Afrika utara beraga Kristen dan
> menggunakan B.Arab. Mereka ini pastilah menggunakan Alkitab dalam
B.Arab
> juga. tujuannya agar pemeluk ajaran Kristen itu tidak buta ayat dan
> salah tafsir. Memilih agama berdasarkan kesadaran tingkat
> intelektualnya. Sebagaimana ayat-ayat Alkitab ditulis dalam
berbagai
> bahasa, apakah kalau Alkitab ditulis dalam B.Arab di Indonesia,
langsung
> dianggap pemurtadtan?
>
> Alangkah dangkal keimanan Islam yang anda gambarkan, hanya dengan
> membaca ayat Alkitab mereka bisa meninggalkan agamanya.
>
> Secara theologis adakah yang salah dalam ayat-ayat ini?
>
> (Mat 6:9) Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga,
> Dikuduskanlah nama-Mu,
>
> (Mat 6:10) datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi
seperti
> di sorga.
>
> (Mat 6:11) Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang
secukupnya
>
> (Mat 6:12) dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami
juga
> mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
>
> (Mat 6:13) dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi
> lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang
empunya
> Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
>
> Mungkin anda akan aberkata: Masya Allah disebut Bapa. Kenapa tidak?
> Panggilan Bapa itu bukan hanya akrab tetapi juga KEHORMATAN bukan?
> Bukankah orang yang tertinggi di Indonesia dipanggil Bapak atau
Bapa ?
> Dan bukankah Allah itu dekat dengan orang yang saleh dan suci
hatinya?
>
> Kami menemukan kaligrapi yang sama di Jerusalem, menghiasi piring
> pajangan. Tentu penjualnya adalah orang Palestina. Perlu saya
tandaskan,
> penduduk mayoritas, alias asli Jerusalem (Al Qud) itu adalah orang
> Jahudi, Palestina (Arab) dan Armenia. Mereka itu minimal menguasai
3
> bahasa tersebut ditambah B.Inggris. Bahkan oleh karena kota ini
adalah
> kota tua (lebih dari 4000 thn. para ilmuawan disana juga lamncar
bahasa
> Latin dan Junani). Kami bangga membeli piring pajangan itu dan
> menghadiahkankannya pada teman-teman kami yang menguasai bahasa
Arab dan
> menyukai piring pajangan itu sebagai soufenir. Misalnya kami
memberinya
> kepada sahabat kami, seorang professor muda dari Mesir. Bukan di
> Indonesia, jangan pula di salah tafsir, saya penyebar kaligrafy
ini,
> saya tahu itu bisa menyangkut nyawa saya. Bukan karena saya takut
mati,
> hanya karena bukan saya yang lakukan itu di Indonesia.
>
> Dugaan saya, kaligrafy dimaksudkan pajangan itu telah dicopy
> mentah-mentah seorang bisnis. Business man ini bisa saja Islam,
Kristen,
> Atheis, missinya adalah UANG? Mengetahui bahwa umumnya penduduk
> Indonesia beragama Islam dan mayoritas dari pemeluk agama Islam
> Indonesia itu tdk bisa membaca tulisan Arab, termasuk si Business
man,
> maka tersebarlah pajangan demikian dipasaran. Buku-buku maupun
> pajangan-pajangan dalam B.Arab yang sebenarnya berisi ajaran
Kristenpun
> oleh si pelayan Toko Buku, diklasifikasikan di kumpulan atau rak
> buku-buku islamiah, alasannya sama, sebab segala sesuatu yang
Arabis
> dianggap milik Islam.
>
> Lebih menyedihkan lagi anda telah menghimbau para tokoh Islam dan
Ulama
> terkemuka MUI mencabut *Ensiklopedi Alquran*
> dari peredarannya, hanya berdasarkan gambar yang "bernada
kristiani"
> bukan berdasarkan kwalitas isinya.
>
> Untuk mempersingkat komentar saya, saya akhiri saja dengan mengutip
> tulisan dibawah:
> Walhasil, ?Buku ini sangat patut dibaca untukmemahami siapa
sesungguhnya
> yang tidak toleran?? tulis Husein Umar, Ketua Umum Dewan Dakwah
> Islamiyah Indonesiapada cover belakang.
>
> Anjuran saya didiklah umat *berpengetahuan *yang benar dan kokoh,
> kemudian biarkan mereka menggunakan hak mereka secara bebas. Kita
tidak
> hidup di zaman patriakhal atau diktator lagi melainkan demokrasi
dan
> globalisasi. Persiapkan, bekali umat menghadapi segala pengaruhnya.
> Itulah cara yang tepat.
>
> NB.
> Jangan selalu mengkambinghitamkan kristen, jika ada hal-hal yang
> mengusik Alquran dan ajarannya. Iman orang kristen juga banyak
ditentang
> dan berusaha diselewengkan, termasuk dari mereka yang menyebut diri
> kristen. Saya telah mendengar, tapi belum pernah bertemu dengan
mereka,
> bahwa di Jakarta, ada sekelompok yang mengaku kristen. Mewajibkan
> pengikutnya mengenakan jilbab dan salib bersamaan. Merekapun
mencampur
> liturgi atau ritual antara ajaran Islam dan Kristen dalam
menjalankan
> ibadahnya. Bukan hanya itu, nyanyian-nyanyian maupun melodinya
berbau
> Arab. Saya yakin metode ini bukanlah metode pemurtadan bagi para
> penganut Islam saja melainkan metode universalismus. Si pemula
melihat
> cara mengawinkan Islam dan kristen adalah cara yang paling tepat
menarik
> simpati umat.
>
> Jangan takut pada Alkitab (Bibel), Alkitab mengajarkan kasih kepada
> sesama dan mendoakan musuh. Merakit bom di rumah-rumah jauh lebih
> berbahaya, sama dengan bahaya fanatisme. Saya sudah membaca seluruh
> Quran. Sampai sekarang Quran melengkapi perpustakaan saya. Saya
bukan
> hanya membaca dan mempelajari Quran, saya dilahirkan di keluarga
Islam
> dan Kristen. Metode perbandingan adalah salah satu metode tahan uji
bukan?
>
> Menempatkan satu golongan sebagai figur yang menakutkan dan
berbahaya,
> menurut saya termasuk pelecehan HAM. Itulah sebabnya di negara
Eropa
> telah dikeluarkan UU diskriminasi, termasuk menanggapi kehidupan
> homoseksual dan lesbian. UU ini menuntut seulur lapisan dan
golongan
> untuk menghargai dan menerima homo dan lesbi sama dan setara dengan
> penduduk lain.
>
> Cara penulis dengan menulis awas dengan besar dan warna merah saja,
anda
> telah menempatkan Bibel lebih berbahaya dari penyakit AIDS dan
lebih
> rendah dari sampah yang mematikan.
>
> Sadarkah anda-anda yang menyebarkan e-mail ini betapa arogan
sekaligus
> kerdilnya kalian?
>



Kirim email ke