Pak Kartono dan rekans milis, Menarik sekali kalimat ".... kapitalisme yang manusiawi, ......... " di email di bawah ini. Betul, kapitalisme di Belanda/Eropa merupakan tulang punggung sosialisme. Pajak yang dibayar karyawan bergaji tinggi dan perusahaan dengan laba besar, pada gilirannya dipakai mendanai sekolah akar rumput, pelayanan kesehatan masyarakat akar rumput, pangan akar rumput, pemondokan akar rumput dst. Kapitalisme di Belanda/Eropa bukan lagi musuh sosialisme seperti di Indonesia, tapi menjadi partner akrab. Begitulah adanya, Belanda/Eropa selalu berupaya mencari rujukan dan opportunity dari segala hal yang bertentangan, sedangkan Indonesia sepanjang waktu hanya sibuk mencari bentrokan dan thread dari segala hal yang sebetulnya bisa disatukan.
Budaya Indonesia adalah budaya gontok-gontokan, maka kapitalisme pun digontokkan dengan sosialisme. Syusah deh jadinya, ihik ihik ...... :-(. Mudah-mudahan datang Soempah Pemoeda II dengan BUDAYA INDONESIA yang bukan "korupsi, jam karet, gontok-gontokan". Amin. Salam hangat, Danny Lim, Nederland ----- Original Message ----- From: Kartono Mohamad To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, December 07, 2006 4:02 PM Subject: [KincirAngin] Re: [mediacare] Re: Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan? Penguasaan teknologi tidak harus menghilangkan kearifan, justru menuntut kearifan lebih besar. Termasuk menghargai sesama dan lingkungan. Kebangkitan kesadaran etika keristen, etika politik, kapitalisme yang manusiawi, kesadaran akan lingkungan lebih banyak datang dari negara-negara maju. Dalam kearifan lokal memang ada tersimpan hal-hal seperti itu tetapi tidak dikembangkan karena diajarkan melalui mitos-mitos. Ketika angkatan yang lebih muda menjadi lebih rasional dan mencemoohkan mitos, maka inti dari ajaran itupun ikut ditanggalkan. KM -------Original Message------- From: [email protected] Date: 12/06/06 23:05:37 To: [email protected] Subject: [mediacare] Re: Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan? Justru pertanyaan lain yang menarik adalah apakah budaya Indonesia itu ada, dalam arti budaya (nasional) Indonesia? sehingga parameter untuk menetukan penghambat kemajuan atau tidak itu bisa dilihat dengan jeli. Dalam kontek pilihan sistem negara, sekular atau agama itu tidak bisa dijadikan patokan sebagai yang mewakili budaya Indonesia, karena keduanya hanyalah pilihan tentang sebuah model sistem negara. Saya lebih suka jika mengatakan bahwa budaya Indonesia adalah keragaman itu sendiri dengan tanpa mengecilkan berbagai renik budaya yang ada di seantero Indonesia. nah berbagai renik itulah yang kemudian bertarung (berkontestasi) untuk mendaku sebagai yang lebih identik dengan keindonesiaan. Di samping itu, asumsi tentang kemajuan itu pun perlu direnungkan ulang. standar apa yang bisa dipakai untuk mengatakan bahwa bangsa itu maju atau tidak? apakah kemajuan itu dalam kerangka modernisasi yang selama ini berhembus dari Barat, atau kemajuan da _,_._,___
