Saya tulis yang dibawah ini pada akhir Juli 2006.
AAGym di harian Kompas tanggal 29 Juli, 2004 halaman 12 kolom Nama
dan Peristiwa dimuat tulisan yang isinya menceritakan pengalaman
dakwahnya yang saya sarikan sebagai berikut :
Hakim Agung. Saat itu hadirin para hakim agung. Saya katakan,
berbahagialah bapak-bapak para hakim. Melihat bapak-bapak Mahkamah
Agung ini saya jadi ingat Mahkamah Akhirat. Bedanya, di dunia bapak
mengadili, di akhirat nanti bapak-bapak yang diadili. Jadi, kalau saat
ini bapak-bapak mengadili dengan adil, bapak-bapak akan bahagia dunia
akhirat. Sebaliknya, jika bapak hakim di dunia tidak adil, hukumannya
akan dobel, di dunia dicaci dan di akhirat akan direbus, he-he-he.
Polisi. Tepatnya didepan anggota Brimob. Jika penjahat berbuat
jahat, itu biasa, karena namanya juga penjahat.. "Tetapi, jika ada
orang yang seharusnya menangani dan mengurus penjahat tetapi dia
berbuat jahat, maka dialah penjahat sesungguhnya.."
Lemhanas. " Oooh, jadi ini lembaga yang mendidik para menteri ,
dirjen, gubernur, dan para pejabat di Indonesia. Tapi, kenapa atuh,
negeri kita jadi bangkrut seperti begini?"
Pikiran saya (Anwari Doel Arnowo) pun melayang kesegala jurusan,
antara lain yang saya pikirkan adalah :
Mengapa Aa Gym tidak mengingatkan sesama ulama, agar berkonsentrasi
kepada sesuatu yang sifatnya religious saja dan menghindarkan diri
dari ikut campur didunia yang bidangnya bukan religi. Misalnya adanya
para ulama yang ingin turut campur dalam bidang yang tidak ada sangkut
pautnya dalam bidang religi, hanya karena menginginkan imbalan berupa
materi dan kesenangan dunia lain, itu saya kurang dapat memahaminya.
Saya yakin sdr. Aa Gym mengerti yang saya maksud, oleh karena bukankah
dia berkali-kali mengatakan, bahwa menurut ajaran Nabi Muhammad s.a.w.
segala sesuatunya akan beres apabila diserahkan kepada ahlinya.
Mencampuri urusan yang bukan urusannya, sebagai orang yang bukan ahli,
banyak contoh yang sudah membuktikan akan berakibat keadaan akhir
yang berupa kehancuran.
ated by Anwari
Belum hilang dari ingatan kita bagaimana Tentara/Militer terutama
banyak lulusan AMN yang dengan gagah perkasa mengurusi politik dan
menduduki semua jabatan sipil dari lurah sampai Gubernur dan Menteri
bahkan Presiden dan Ketua Legislatif. Janganlah terjadi lagi seperti
yang telah dialami oleh Tentara/Militer ini, peran Tentara/Militer ini
digantikan oleh Ulama baik Islam maupun Kristen atau pemuka religi
lainnya.
Jangan !
Sultan Negeri kaya minyak. Negara tetangga kita yang kaya minyak
dan berpenduduk sedikit telah diberi kekayaan luar biasa besarnya.
Meskipun secara factual ini merupakan karunia alam dan tentu saja
karunia Allah s.w.t., saya berpikir bahwa jauh lebih manfaat apabila
karunia kekayaan dan kejayaan yang diakibatkan oleh minyak yang
melimpah lebih bijaksana dipergunakannya. Bukankah sejarahnya telah
membuktikan bahwa saudara muda adik Sultan telah menghabiskan dengan
secara foya-foya sejumlah US $15 milyar dan habis ludes ??!!
Apakah rakyat negeri itu sudah cukup menerima kesejahteraan yang
setimpal apabila dibandingkan dengan yang diperoleh adik sang Sultan?
Adik Sultan ini dapat menyewa kamar hotel dengan tariff US $ 5000 per
hari untuk beberapa minggu atau bulan, belum terhitung para staff dan
pengawalnya. Membeli dua buah kapal pesiar, yacht, yang harganya
audubillah minzalik dan diberi nama TITS, yang artinya silakan melihat
sendiri dikamus bahasa Inggris ! Bagaimana dengan Sultan sendiri dalam
menggunakan kekayaannya ? Beli dan membuat sendiri mobil yang mewah
lebih dari duaratus buah jumlahnya ? Mobil-2 ini konon kabarnya
disimpan disalah satu bagian istana mewahnya dengan system udaranya
yang bisa menahan karat ? Apakah ini pantas ?
Saya berpendapat bahwa Allah s.w.t. menciptakan alam dan dunia yang
kita huni bersama, yang dilengkapi dengan kekayaan serta sarananya
yang ada, semata-mata adalah untuk seluruh ummat yang ada didalamnya.
Bukan untuk segelintir jumlah manusia saja.
Setelah umur saya sekarang mencapai 66 tahun saya sendiri berfikir
bahwa apabila saat ini Allah s.w.t. memang menghendaki untuk
menghilangkan segala yang saya miliki, baik kekayaan maupun kesehatan,
saya akan menerimanya, oleh karena nyawa sayapun ada didalam
kekuasaan Illahi. Karena pemikiran seperti inilah saya tidak terlalu
memahami bahwa ada manusia yang semakin berumur, keinginannya untuk
memiliki harta dan keduniawian, tidak berkurang, malah boleh dikatakan
makin menjadi-jadi. Apa yang saya tulis diatas tentunya akan lebih
didengarkan orang apabila yang mengucapkan dan menganjurkan
menghayatinya adalah seorang pemuka religi ataupun seorang ulama
semisal Aa Gym.
Itulah sebabnya mengapa saya berpikir lebih baik mereka ini, kaum
yang religious, berkonsentrasi saja dalam bidang seperti ini, dari
pada masuk kedunia bidang politik, sebuah bidang yang sebenarnya sama
sekali bukan bidang keahliannya. Saya lihat sdr. Aa Gym akhir-2 ini
amat sering menjadi presenter dalam acara-2 Talk Show yang membahas
yang itu-2 saja, Capres dan Cawapres. Maafkanlah saya apabila saya
mengatakan yang berikut ini. Dahulu saya sungguh menikmati acara
siraman rochani Aa Gym biarpun berlangsung tengah hari, biarpun satu
jam lamanya. Saya ingin agar sdr. Aa Gym kembali seperti sedia kala
dan menyirami orang ramai dengan kata-katanya yang menyejukkan hati
pendengarnya. Maafkanlah saya!
Renungan akhir Juli, 2004
Anwari Doel Arnowo