KENIKMATAN “YE-ZET, EM-E, DAN A-GIM” ( II )
   
  Demikian juga ketika “permainan” tengah berlangsung. Kelas wong cilik 
menggunakan kamar seharga 20 ribu-an atau di kegelapan semak belukar, ruangan 
pengap, tempat tidur penuh kepinding, beresiko dirazia dan penggusuran. Kaum 
elit mencari kamar di hotel berbintang dengan harga paling banter satu juta-an 
atau di hotel luar negeri sana, ber-AC, bersih, tempat tidur spring bed, plus 
satpam pengamanan terlatih. Wong cilik cuma diintip oleh kecoak atau cecak, 
tapi “Ye-Zet” sudah pakai HP berkamera untuk menganalisis dan mengevaluasi 
kelebihan atau kekurangan “permainannya di ranjang”.
   
  Bagaimana juga dengan “Em-E” yang cuma bermodal wajah, sensualitas, dan suara 
pas-pasan itu? Tentunya analisis ringkas tentang “Em-E” adalah: seorang 
perempuan yang dieksploitasi oleh budaya patriarkal dan budaya masyarakat uang, 
atau ia telah mengeksploitasi nilai-nilai keperempuanannya untuk meraih nilai 
kapital. Jika dibandingkan dengan persoalan subyektifitas pribadinya (cinta, 
kerelaan, dan sebagainya), itu adalah urusan subyektif “Em-E” yang tentunya 
sangat privasi.
   
  Sampai hari ini kasus “Em-E” tetap menjadi perhatian publik, khususnya 
tentang perkembangan pemeriksaan di kepolisian. Popularitas kasus “kenikmatan” 
ini hampir tersaingi oleh berita poligami-nya “A-Gim”, yang tentunya 
mengintisarikan soal “kenikmatan” hidup. Cuma perbedaan isu “kenikmatan” antara 
“Ye-Zet dan Em-E” dengan “A-Gim” terletak pada bentuk “legalitas” yang dimiliki 
oleh masing-masing individu, demikian juga dengan masalah legitimasi publik.
   
  Mungkin hanya “A-Gim” saja yang paling beruntung ketimbang “Ye-Zet dan Em-E”, 
karena “A-Gim” sangat diuntungkan oleh “pemanfaatan” isu agama. Ditambah lagi 
dengan legitimasi ormas-ormas yang aktif dan hiperaktif “mengatasnamakan 
agama”. Zaman patriarkhi ribuan tahun lalu masih dipaksakan di jaman serba 
modernitas, HAM, video porno, pro-kontra pornoaksi-pornografi, krisis energi, 
kemunafikan negara-negara imperialisme modern, harga beras naik, kesetaraan 
jender, dan lain-lainnya saat ini.
   
  Untuk kasus “kenikmatan” ini, proses eksploitasi terletak pada persoalan 
jender, khususnya kaum perempuan sebagai titik pangkal perdebatan. Yang tidak 
berkeadilan bagi kaum perempuan dalam mengelola harkat kehidupan mereka sampai 
hari ini adalah: ketika kemapanan suatu budaya ataupun proses budaya yang 
mereposisi dan mengondisikan kaum perempuan sebagai kaum yang paling 
bertanggung jawab dalam soal “kenikmatan” ini, apalagi jika itu melibatkan 
tokoh publik dan agamawan. Dan selebihnya juga adalah ketika kaum perempuan 
sebagai “kambing hitam” dari bentuk-bentuk kemunafikan mapan.***
   
  2006, Leonowens SP

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke