Hanya ingin urun rembug,
Seharusnya bila menulis berita soal fakta sejarah,
yang menjadi narasumber adalah mereka yang pernah
terlibat dalam peristiwa itu. Benar, Taufiq Ismail
pernah menikmati masa-masa G30 S PKI. Ia pun
berseberangan dengan kelompok Lekra.
Dan PKI pun pada 1965 nyata adanya. Namun alangkah
eloknya, bila wartawan yang menulis laporan tersebut,
juga memberikan ruang untuk para sejarawan, Kostrad,
mantan2 tapol dan eks PKI, ikut bicara.
Kalau hanya argumen jutaan orang dibantai, saya kira
tidak hanya komunis saja. Dunia telah mencatat tiga
peristiwa besar yang menelan korban jiwa cukup besar.
Pertama Perang Dunia I (18 juta orang mati), Flu
Spanyol (20-40 juta)dan  Perang Dunia II  (65 juta
lebih)
Dalam PD II termasuk pembantaian massal orang2 Yahudi
di Eropa, oleh rezim Hitler.
Maka kemudian warga dunia selalu takut bila PD III
pecah, karena teknologi perang semakin canggih.
Mungkin bisa ratusan juta orang mati bila PD III
benar2 pecah.

Saya kira, semua pemberitaan harus seimbang. Kalau
Taufiq yang berbicara seorang diri (maaf saya tidak
membaca beritanya secara utuh), saya kira tidak tepat.
Sebab hitungan jumlah nyawa yang melayang itu perlu
data valid, termasuk di Indonesia.
Pembantaian orang PKI di Indonesia, saya kira bukan
dilihat dari konteks mereka komunis atau tidak, tapi
kita lihat sisi humanismenya saja. Pembantaian jelas
melanggar HAM.
Dan akan melahirkan dendam tujuh turunan pada keluarga
yang dibantai (sebab banyak pula yang bukan PKI,
kebanyakan petani yang tidak tahu soal politik, ikut
pula dihabisi)

Salam,
SS   



--- RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Yang membantai jutaan di Indonesia tahun 65an siapa
> ya? Komunis lagi 
> kali ya? Kalau yang dibantai tetap dianggap pelaku,
> ya syusyaaahhh..
> 
> Tiongkok, adalah negara yang oleh Barat dan Timur
> diakui sebagai 
> chamion ekonomi, bahkan disegani AS dan Uni Eropa,
> adalah negara 
> bertatanan komunis. let us be honest, apakah
> Indonesia seupil saja se 
> sukses Tiongkok? Padahal Indonesia kan amat sangat
> sukses membantai 
> komunisme?
> 
> Kapan bangsa ini belajar berfikir ya?
> 
> DH
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "wreddya hayunta"
> <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> >
> > Nara sumbernya Taufik Ismail, medianya
> hidayatullah, paduan yang 
> > serasi untuk menciptakan artikel yang berbahaya -
> istilah yang 
> > Manneke gunakan.
> > 
> > 
> > --- In [email protected], manneke
> <manneke@> wrote:
> > >
> > > 
> > > Kalo rezim-rezim komunis di seluruh dunia
> membantai ratusan juta 
> > orang, tidak berarti lalu kita boleh seenaknya
> membantai  setengah 
> > juta orang yang kita cap sebagai "komunis" di
> Indonesia ini. 
> > > 
> > > Cara pikir Taufik Ismail ini amat berbahaya jika
> diadopsi oleh 
> > organisasi-organisasi paramiliter seperti PPM yang
> haus perang itu.
> > > 
> > > manneke
> > > 
> > > 
> > > -----Original Message-----
> > > 
> > > > Date: Fri Dec 15 16:24:15 PST 2006
> > > > From: "Alex Simanjuntak" <alsimanjuntak@>
> > > > Subject: [mediacare] Re: Re: [nasional-list]
> Re: [HKSIS] Taufiq 
> > Ismail:: Komunis Telah Membantai 120 Juta Orang di
> 70 Negara
> > > > To: [EMAIL PROTECTED]
> > > >
> > > > Kutipan: 
> > > >   "Sayangnya, menurut Taufiq, banyak kalangan
> mahasiswa yang 
> > justru menjadi kepanjangan tangan komunis dan
> membela-belanya 
> karena 
> > ketidakpahaman akan sejarah. Itulah sebabnya kaum
> komunis 
> > memanfaatkan kampus dan LSM-LSM yang mengaku
> pembela HAM sebagai 
> > wadah dan tempat untuk hidup kembali."
> > > >    
> > > >   Komentar:
> > > >   Senior anti komunis  ini (Taufiq Ismail)
> sudah pikun, 
> sehingga 
> > pikirannya masih berkutat pada kondisi perang
> dingin. Padahal jaman 
> > sudah berubah banyak, sehingga juga berdampak
> terhadap perkembangan 
> > komunisme. Di negara-negara Barat partai komunis
> dapat dikatakan 
> > habis riwayatnya. Rakyat di sana sudah berteriak
> anti komunisme. 
> > Sedang di Indonesia partai komunis juga sudah
> dihabisi oleh 
> > militaris-Suharto. 
> > > >   Jadi yang tidak paham sejarah adalah Taufiq
> Ismail sendiri, 
> > bukan para mahasiswa yang pikirannya lebih luas,
> tidak picik 
> > terhadap sejarah.
> > > >    
> > > >   Taufiq Ismail jelas berpikiran "katak dalam
> tempurung", 
> > meskipun membaca buku-buku Barat sebagai
> referensi. Dia harus tahu 
> > bahwa banyak LSM-LSM dibiayai (dimanfaatkan) oleh
> negara Barat - 
> > negara-negara kapitalis/neo-liberalis, bukannya
> kaum komunis. Jadi 
> > Taufiq jangan ceroboh mengeluarkan pendapatnya.
> > > >    
> > > >   Alex Simanjuntak
> > > >    
> > > >   
> > > > 
> > > > 
> > > >   ----- Original Message ----- 
> > > > From: Joko Surendro 
> > > > To: [EMAIL PROTECTED] 
> > > > Cc: [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; 
> > [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; sastra-
> > [EMAIL PROTECTED] ;
> [email protected] 
> > > > Sent: Saturday, December 16, 2006 12:39 AM
> > > > Subject: Re: [nasional-list] Re: [HKSIS]
> Taufiq Ismail:: 
> Komunis 
> > Telah Membantai 120 Juta Orang di 70 Negara
> > > > 
> > > > 
> > > > Taufiq Ismail memang tokoh anti komunis sejati
> tanpa tedeng 
> > aling-aling. Memang tidak dilarang berparanoid di
> era reformasi 
> > dewasa ini. Tapi tampak jelas dia sengaja berupaya
> membelokkan 
> > gerakan HAM di Indonesia melawan praktek impunity,
> membela rejim 
> > Suharto dan pendukung-pendukungnya dengan
> membangkitkan kembali 
> rasa 
> > anti komunis.
> > > > 
> > > > Padahal di Amerika (benggol anti komunis) dan
> negara-negara 
> > Barat sudah lebih 20 tahun tidak lagi
> menyinggung-nyinggung 
> > komunisme. Di negara-negara tersebut semua
> literatur komunisme bisa 
> > dibaca di bibliotik dan bisa dibeli di toko-toko,
> komunisme bisa 
> > diseminarkan, partai komunis boleh didirikan.
> Mereka (negara-negara 
> > Barat) malah kerjasama erat di bidang ekonomi
> dengan negara komunis 
> > raksasa (RRT).
> > > > 
> > > > Tapi Taufiq ini terus berkoar-koar anti
> komunisme. Tentu dia 
> > menginginkan kembalinya kekuasaan ala rejim
> Suharto beneran, yang 
> ti 
> > dak saja anti komunis, tetapi juga anti nasionalis
> patriotik, anti 
> > demokrasi. Hidup rejim diktator-militer? Atau,
> hidup negara Islam 
> > Indonesia? Kita lihat saja perkembangannya. 
> > > > 
> > > > Lepas dari itu gerakan HAM di Indonesia harus
> tetap maju terus 
> > pantang mundur. 
> > > > Impunity terhadap pelanggar HAM harus
> ditentang keras!
> > > > 
> > > > J. Surendro
> > > > 
> > > > 
> > > > ----- Original Message ----- 
> > > > From: T Chandra 
> > > > To: [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; 
> > [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; wahana-
> > [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; koran-
> > [EMAIL PROTECTED] ; [email protected]
> 
> > > > Sent: Friday, December 15, 2006 10:54 PM
> > > > Subject: [nasional-list] Re: [HKSIS] Taufiq
> Ismail:: Komunis 
> > Telah Membantai 120 Juta Orang di 70 Negara
> > > > 
> > > > 
> > > > Naga-naganya di zaman "demokrasi" ini ada yang
> kebelet banget 
> > supaya ada sikon mirip
> > > > 1965 dulu. "Massa" digerakkan, anti-komunisme
> marak, baju ijo 
> > siap hadang. 
> > > > 
> > > > Lalu sasarannya siapa? Soekarno atau yang
> mirip dia tidak ada. 
> > PKI juga belum nongol juga. (Jelas bener banyak
> yang mimpi ada lagi 
> > PKI, biar bisa dituduh mau kudeta,
> 
=== message truncated ===


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke