Mas Wreddya,
Jika ditelisik baik-baik dengan sabar nir-emosional, saya tak pernah
menulis bahwa kita adalah ayam. Apalagi mengatakan bahwa Anda adalah
ayam sehingga me-reply bahwa Anda tak sudi disamakan dengan binatang.
Anda keliru. Marilah kita berpikir jernih dan bersih. Betulkah analogi
berarti menyamakan kita dengan sesuatu yang dijadikan analogi? Demi
memudahkan perbandingan, saya selalu berupaya mencari analogi yang
mudah dan dekat dengan keseharian. Tak hanya binatang, pada saat yang
lain saya juga membuat analogi dari sumber daya alam lainnya. Bisa
bunga, bisa batu, gunung, air, angin, matahari, bintang, bulan, dll.
Analogi bukanlah menyamakan manusia dengan binatang. Andaikata
berbening hati sedikit saja, pasti tersirat bahwa yang saya maksud
bukanlah menyamakan manusia dengan binatang. Amit-amit jabang bayi,
manusia kok disamakan dengan binatang. Jangankan menyamakan manusia
dengan binatang, mengatakan bahwa manusia memiliki alur keturunan yang
segaris dengan kera pun saya tidak setuju. Kera adalah kera, binatang
berkaki empat, seperti orangutan, simpanse, gorilla, dll. Jangankan
dengan kera, mengatakan bahwa kita masih keturunan Pithecantropus
erectus, Homo soloensis, Homo wajakensis, dll saya pun dengan tegas
menolaknya. Manusia..., ya manusia: Homo sapiens, yaitu manusia yang
(mudah-mudahan) berkearifan.
Berikut ini kekeliruan Anda selanjutnya. Kenapa alergi belajar dari
binatang? Bolehkah belajar dari binatang? Tak hanya boleh, tetapi
dianjurkan malah. Tiada larangan belajar dari perilaku binatang.
Sebagai contoh, Al Qur'an menyuruh kita belajar dari perilaku lebah
yang hanya mengeluarkan yang bermanfaat berupa madu. Hinggap di
ranting rapuh pun dia tak mematahkannya yang berarti tidak merusak
kehidupan masyarakat-lingkungannya. Bahkan dia siap mati kalau ada
yang mengganggunya dengan cara menyengatnya. Begitu bermanfaatnya
lebah, sampai-sampai ada surat dalam Qur'an yang bernama An Nahl
(lebah). Banyak lagi manfaat lainnya.
Manusia juga disuruh meniru semut dan rayap yang selalu gotong royong
dan bertegur-sapa ketika bertemu. Karakter seperti ini, konon katanya,
sudah menjadi kearifan tradisional bangsa kita, juga suku-suku/bangsa
lainnya. Kita disuruh belajar dari laba-laba agar tidak membuat rumah
atau bangunan yang rapuh sehingga mudah rubuh. Disuruh juga mencontoh
kupu-kupu agar bisa memilih saripati yang bermanfaat buat hidup kita
sekaligus membantu penyerbukan karena serbuk sari tersebar ke kepala
putik lalu berbuah yang bermanfaat buat orang lain. Bahkan ide dasar
pembuatan dam atau bendungan banyak yang meniru cara berang-berang
membendung sungai.
Begitu pula kapal selam, meniru ikan di laut. Kapal dan perahu
didesain atas hukum Archimedes yang konon dia berteriak Eureka ketika
mandi di bak karena airnya melimpah. Pesawat terbang idenya dari
burung terbang. Bahkan variasi teknik senggama pun ada yang berasal
dari gaya binatang seperti dalam Kamasutra. Hukum Newton yang
dirumuskan Isaac Newton pun idenya konon dari apel yang jatuh dari
pohonnya. Filter air PDAM pun sejarah idenya berasal dari filter alami
di kolam pinggir sungai. Begitu pula teori dan model atom dirintis
atas hasil renungan Demokritos terhadap alam semesta (planet, bintang,
dll), terlepas dari penolakan Aristoteles atas teorinya itu.
Simpulnya, boleh-boleh saja dan bahkan pada kasus tertentu dianjurkan
belajar dari hewan, tumbuhan, air, angin, pasir, batu, gunung,
matahari, bulan, bintang, tata-surya, galaksi, dll.
Simpul selanjutnya, yang menjadi masalah nista nan hina adalah
orang-orang yang perilakunya sama dengan perilaku binatang, seperti
seks bebas. Kita tahu, salah satu kebiasaan ayam ialah tukar-tukar
teman kawin. Meskipun singkat secepat kilat, tapi ayam bisa kawin
berkali-kali bahkan dalam rentang waktu beberapa menit, sekaligus
bertukar-tukar pejantan. Suatu saat kelak anak ayam yang jantan bahkan
akan mengawini ibunya. Ayam jago ("bapak ayam") suatu saat kelak juga
akan mengawini ayam betina yang notabene anaknya. Inilah
perikebinatangan yang bertentangan secara diametral dengan
perikemanusiaan.
Perihal poliandri, tak seperti kata Anda, saya tidak merasa
repot-repot mengulasnya. Sebetulnya ingin saya panjangkan lagi tetapi
urung agar tidak terlalu banyak menyita waktu pembaca. Yang terjadi
justru saya ingin menjawab pertanyaan atas posting-an sebelumnya dari
seorang rekan yang pertanyaannya sbb: Jika poligami dibenarkan untuk
menghindari zina mengapa poliandre tidak dianjurkan bagi perempuan
untuk menghindari zina? Saya hanya ingin berbagi ilmu, barangkali
penanya belum tahu keburukan-keburukan poliandri. Hanya itu, tak lebih
tak kurang. Dalam posting-an itu pun Anda menulis seperti ini: "Secara
formal (agama) memang poligami halal, tapi dilihat dari etika
masyarakat perbuatan itu dicela orang, dicela istri pertama (walaupun
ada sebagian dari mereka akhirnya bisa memasrah-masrahkan dirinya)."
Saya bertanya, mana yang lebih tinggi kedudukannya, ajaran agama yang
diciptakan oleh Allah ataukah etika yang banyak merupakan produk olah
pikir manusia, budaya dan filsafat. Mana yang lebih hebat, pencipta
manusia ataukah manusianya?
Berikut ini adalah pernyataan Anda yang merupakan bagian akhir dari
posting-an Anda. Intinya begini: "Diam-diam jatuh cinta pada perempuan
lain, melakukan pendekatan, persuasi demikian hebat sampai perempuan
tersebut mau jadi istri kedua dst. Semua itu tentu dilakukan tanpa
sepengetahuan istri pertama. Ini jelas namanya selingkuh. Jadi
poligami bukan untuk menghindari selingkuh, tapi poligami adalah
kelanjutan dari selingkuh."
Saya jawab begini. Menikah diharapkan dapat membentuk keluarga
sakinah. Agar dapat dicapai, maka prosesnya pun harus baik. Agar baik,
ada tiga tahapnya. Yang pertama, tahap pranikah. Yang kedua, tahap
akad; dan yang ketiga tahap resepsi. Seorang lelaki yang ingin menikah
tentu harus mengenal dulu siapa perempuan calonnya dan ia harus
mencintainya. Tanpa pendekatan, bagaimana dia tahu dan mencintai
perempuan itu? Pendekatannya itu dilakukan dengan mengindahkan ajaran
Islam, tidak pacaran a la kekinian. Kalau dia melanggar ini apalagi
zina dengan calon istrinya, maka dia harus dirajam. Tentu saja kalau
ada saksinya atau keduanya jujur bersaksi di depan hakim bahwa dirinya
telah berzina. Hukuman ini insya Allah akan membebaskannya dari
hukuman di akhirat kelak yang jauh lebih berat dan kekal daripada
sekadar rajam. Tinggal dipilih: berzina dan bebas rajam tetapi dihukum
kekal di akhirat kelak, ataukah dirajam di dunia tetapi dosa zinanya
diampuni di akhirat.
Kenapa lelaki harus mengenal dulu siapa perempuan yang akan
dinikahinya? Simpel jawabannya: agar dia tidak seperti membeli kucing
dalam karung (maaf: lagi-lagi analoginya berupa binatang. Tapi yang
ini bukan saya pembuatnya, saya memperolehnya dari pelajaran bahasa
Indonesia waktu di SMP dulu). Pada tahap ini seorang lelaki (tentu
saja perempuan juga) silakan menilai calonnya. Misalkan dinilai dari
segi perilakunya, ibadahnya, pendidikannya, fisiknya, ekonominya, dll.
Kalau merasa pas dan cocok, silakan ajukan lamaran kepada walinya
(keluarganya). Jadi tak ada paksaan; suka sama suka. Setelah itu
barulah dimusyawarahkan berapa emas kawinnya, kapan waktunya dan di
mana nikahnya. Juga siapa saja yang bakal diundang dan berapa jumlahnya.
Artinya, dalam proses menikah itu, sebelum terjadi akad nikah, maka
lelaki harus lebih dulu bertemu muka dengan wali calon istrinya
(keluarganya). Di sinilah bisa ditanyakan apakah status lelaki itu
sudah beristri ataukah masih single. Pihak keluarga perempuan boleh
saja lantas menghubungi istrinya dan memberitahukan bahwa suaminya
bakal menikah lagi dan memperistri anaknya. Karena tujuan menikah
adalah membentuk keluarga sakinah yang tak hanya demi kebahagiaan di
dunia tapi juga di akhirat, maka pernikahan kedua, ketiga, dan keempat
dianjurkan atas sepengetahuan istrinya.
Kenapa sebaiknya diketahui istri? Sebab, akan berkaitan dengan
pembagian nafkah pangan, sandang, papan, dst-nya dan pembagian warisan
untuk semua istri dan anak-anaknya jika suaminya meninggal kelak. Juga
demi kejelasan garis keturunan dan jangan sampai ada anak lelakinya
menikahi anak perempuan dari ibu yang berbeda. Ini bisa terjadi kalau
suaminya tidak lurus niat dan memisahkan istri-istri dan anak-anaknya
sehingga tidak pernah bertemu muka. Yang satu tinggal di Medan, yang
satu di Surabaya, satunya lagi di Denpasar, dan satu lagi di Pulau
Buton. Kalau tidak saling kenal sangat boleh jadi akan terjadi
pernikahan antaranak dari satu bapak yang sama. Ini haram hukumnya
dalam Islam.
Selanjutnya perihal artikel ilmiah, "ilmiah", dan opini silat lidah
(saya singkat: OSL). Artikel saya, menurut Anda, adalah artikel yang
panjang tetapi isinya hanya OSL. Atas kualitas yang demikian itu saya
minta maaf sembari minta tolong kepada Anda agar sudilah menulis satu
artikel tentang keburukan-kejelekan poligami. Saya justru ingin tahu
apa saja keburukan poligami. Sebab, keburukan poliandri sudah saya
ketahui dan sebagian sudah dirilis di sini. Silakan Anda tulis secara
ilmiah, "ilmiah", ataupun "bukan OSL". Ditulis setaraf dengan artikel
saya pun, yaitu sekadar OSL, saya tetap berterima kasih.
Sepanjang-panjangnya artikel Anda tetap akan saya luangkan waktu untuk
membacanya. Janganlah segan menulis artikel karena di sini kita
berbagi ilmu agar didapat simpul yang benar. Apalagi berbagi ilmu itu
bernilai ibadah. Siapa tahu, saya yang salah.
Demikian dan terima kasih.
Gede H. Cahyana
http://gedehace.blogspot.com
****************************
--- In [email protected], "wreddya hayunta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Gede, saya ingin komentar. Maaf saya tidak membuat artikel
> seperti yang anda sarankan karena saya pikir buat apa menulis
> panjang-panjang toh isinya hanya opini silat lidah, bukan sesuatu
> yang ilmiah:
>
> 1. Soal ayam-ayaman: maaf mas, kita bukan ayam. Selalu saja mereka
> yang setuju poligami, memberikan perumpamaan binatang. Misalnya
> kucing mana yang tidak ngiler lihat daging di ler sembarangan? Di
> milis lain ada lagi yang memforward artikel "ilmiah" yang
> menceritakan kecenderungan hewan untuk berpoligami. Sekarang anda
> hadir dengan perumpamaan ayam.
>
> Saya sendiri tidak sudi jika manusia disamakan dg binatang. Jadi
> cara anda memilih perumpamaan telah membuat saya prihatin. Saya
> bingung untuk apa kita dikasih akal budi jika mau menurut nafsu saja
> seperti hewan.
>
>
> 2. Anda begitu repot-repot mengulas soal poliandri, padahal buat
> saya sederhana saja: No poligami, no poliandri. Secara formal
> (agama) memang poligami halal, tapi dilihat dari etika masyarakat
> perbuatan itu dicela orang, dicela istri pertama (walaupun ada
> sebagian dari mereka akhirnya bisa memasrah-masrahkan dirinya).
> Walaupun banyak argumen diutarakan oleh pendukung poligami, namun
> secara nurani masyarakat tetap menolak. Nurani ini datangnya bukan
> dari mana-mana kecuali dari Pencipta kita lho...
>
>
> 3. Sebagian besar pelaku poligami akan memulainya dg selingkuh. Jika
> anda bilang poligami lebih baik dari selingkuh, secara logika justru
> para pelaku poligami memulainya dg selingkuh. Diam-diam jatuh cinta
> pada perempuan lain, melakukan pendekatan, persuasi demikian hebat
> sampai perempuan tersebut mau jadi istri kedua dst. Semua itu tentu
> dilakukan tanpa sepengetahuan istri pertama. Ini jelas namanya
> selingkuh. Jadi poligami bukan untuk menghindari selingkuh, tapi
> poligami adalah kelanjutan dari selingkuh.
>
>
>
> --- In [email protected], "gedehc" <gedehc@> wrote:
> >
> > Mas Rahadian,
> >
> > Atas posting-an Anda, saya tulis sebuah artikel seperti di bawah
> ini
> > tanpa berharap akan disetujui, apalagi di-oke-kan oleh semua
> miliser.
> > Tak mungkinlah ini terjadi, yaqin seyaqin-yaqinnya, seperti
> > kemustahilan unta masuk ke lubang jarum jahit.
> >
> > Sisi positifnya, ketidaksetujuan itu bisa ditafsirkan sebagai
> kemajuan
> > karena seseorang yang tidak setuju akan terus mencari ilmu, baik
> > kepada yang pro maupun kontrapoligami. Pencarian inilah yang
> > diharapkan dilakoni oleh kaum muslim dan calon muslim agar
> > ke-Islam-annya tidak sekadar ikut-ikutan atau sekadar KTP atau
> karena
> > keturunan tetapi berlandaskan pencarian dan pemahaman.
> >
> > *****************
> >
> > Saya tegaskan, di dalam Al Qur'an memang ada ayat yang membolehkan
> > seorang lelaki berpoligami. Sangat jelas dalilnya dan tak ada
> > intervensi manusia (apalagi lelaki) di dalamnya. Tak ada perspektif
> > yang berlebihan menghargai diri sebagai lelaki apalagi jatuh ke
> lembah
> > c