--- In [email protected], eko adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya setuju dengan pelarangan film Xanana diputar di
> JIFFEST itu. Dan sangat mengutuk penayangan Xanana di
> Metro TV yang seolah-olah difigurkan sebagai
> pahlawan..


Yang namanya larang melarang jelas melanggar HAM, kenapa harus
mengutuk kepahlawanan Xanana???  Anda pribadi berhak tidak
mengakuinya, tapi ingat, janganlah melarang hak orang lain untuk
mengakui Xanana sebagai pahlawan.  Bagi saya pribadi, Xanana memang
pahlawan karena berani menentang penjajahan Indonesia yang sangat
biadab.  Keberhasilan Xanana harus dijadikan teladan, tekad Xanana
untuk menuntut hak bangsanya juga merupakan teladan, dan pengorbanan
Xanana yang mempertaruhkan jiwanya untuk tegaknya hak2 bangsanya juga
merupakan teladan yang perlu kita ajarkan kepada anak cucu bangsa kita.



> Xanana memang (mungkin) pahlawan bagi sebagian orang
> Timor-Timur. Tapi, ia tetap bekas PEMBERONTAK bagi
> Indonesia.



Anggapan dia bekas pemberontak adalah anggapan lawannya yang salah,
oleh karena itu kita tak boleh menjadikan pihak yang salah jadi
teladan.  Kenyataan tidak bisa kita sangkal, bahwa dunia bersimpati
kepada Xanana bukan kepada penjajah yang jadi musuhnya !!!  Dilain
pihak, kita Indonesia harus belajar untuk tidak dikutuk seluruh dunia,
kita harus berani belajar mana yang salah dan mana yang benar, kita
harus berani berpihak kepada yang benar meskipun yang benar itu
ternyata musuh kita.  Demikianlah, kita juga harus berani menyatakan
agama kepercayaan kita salah.  Mulai dari ngotot mempertahankan
kesalahan ajaran agama kita, dilanjutkan ngotot mempertahankan
kesalahan negara kita.



> Cukup Indonesia mengakui kemerdekaan Timor Leste,
> BUKAN terus memuja-mujinya. Bukankan itu sama saja
> melempar kotoran ke muka sendiri, dan METRO TV sudah
> melakukannya.



Kesalahan itu sendiri sudah bisa diibaratkan melemparkan kotoran
kemuka sendiri, oleh karena itu janganlah berbuat salah, dan kalo
menyadari salah lekaslah minta maaf, karena menyangkal kesalahan itu
sendirilah yang sebenarnya melemparkan kotoran kemuka kita sendiri,
dan itulah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan bangsanya.



> Kenapa bukan dokumentasi para Tentara Indonesia yang
> ditampilkan di layar kaca untuk sebuah penghargaan
> bagi mereka, bagi anak, istri, orang tua yang
> ditinggalkan mati saat menumpas pemberontak.



Kita sebagai negara anggauta PBB sudah jelas tidak bisa menghargai
pelanggaran HAM, dan TNI yang telah melakukan pelanggaran HAM tidak
seharusnya diberi penghargaan apapun alasannya.  Yang kita anggap
pemberontah sebenarnya adalah pejuang hak mereka, dan tindakan yang
kita anggap memerangi pemberontak ternyata adalah pemerkosaan HAM
bangsa lain.



> Ini bukan melulu membela tentara, tapi adakalanya
> sebagai bangsa kita harus memiliki sedikit keguyuban.
> Kesalahan tentara yang menyangkut pelanggaran HAM,
> tetap harus dusut tuntas.
> Keanehan bangsa ini laiinya adalah ada bekas
> pemberotak/GAM yang jadi gubernur...ANEH!!!!
> 



Bagaimana anda bisa mengusut pelanggaran HAM secara tuntas kalo dalam
pernyataan anda diatas itu justru mengusulkan agar para pelanggar HAM
itu justru diberi penghargaan, anda menganggap para pelanggar HAM itu
sebagai pahlawan penumpas pemberontak.  Memang benar bangsa ini aneh,
cara berpikir anda itulah yang aneh, memalukan, dan tidak tahu malu.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke