LABILITAS SEBUAH BANGSA ( II )
   
  Coba kita bayangkan, seandainya ada ribuan kasus kejahatan terhadap 
kemanusiaan dan korupsi, tetapi hanya beberapa saja yang dituntaskan (itupun 
cuma) dengan memakai prinsip keadilan ala kadarnya. Bagaimana pula dengan ekses 
pembentukan karakter masyarakat ke depannya? Atau ketika para pejabat harus 
“berjoget-joget ria” untuk menghibur para penyandang dana di luar negeri sana, 
apa yang dijadikan nilai kearifan dalam membangun moralitas bangsa yang selalu 
diberi label sebagai bangsa kuli?    
   
  Aha… Labilitas ide yang terjadi di dalam isi kepala tiap penentu kebijakan di 
republik ini, telah menjadi suatu mainstream dalam tolak ukur kualitas kinerja 
para pejabat kita. Dan tentunya mereka akan mencari personalia yang memiliki 
labilitas ide yang sama, untuk membantu segala bentuk kinerja mereka kepada 
masyarakat. Namun fenomena labilitas ide tersebut jarang mengalami suatu 
pengoreksian, terlebih ketika pasal penghinaan pejabat negara (lagi-lagi) telah 
menjadi suatu tameng formil untuk melindungi citra mereka sebagai pembesar 
negeri. 
   
  Dalam film About Schmidt, realita labilitas ide telah terjadi ketika sang 
ayah (Jack Nicholson) harus berbenturan dengan nilai yang terdapat dalam 
keluarga calon “besan”-nya (orang tua dari calon menantu). Disinilah 
pertarungan psikologis terjadi antara seorang ayah dengan anak perempuannya 
yang hendak melangsungkan akad pernikahan. Itupun tanpa diberitahu kepada sang 
ayah, setelah sang ibu meninggal dunia. Pada waktu itu, semua mengalami 
kerancuan dalam proses berpikir masing-masing. Keadaan memang kacau (terutama 
dalam sisi psikologis) diantara mereka, namun tetap ditampilkan dalam keadaan 
“wajar-wajar” saja. 
   
  Dan waktu tetap berjalan maju, tidak akan mungkin untuk mundur ke belakang. 
Semua harus berjalan seperti apa adanya, walaupun yang disebut sebagai “apa 
adanya” itu bukan harus memaknakan suatu kepasrahan semu. Namun dalam 
pengertian pemikiran pejabat kita, apa yang disebut sebagai “apa adanya” 
adalah: “semua harus menerima segala bentuk kebijakan dan keputusan yang telah 
ditetapkan”. Kalau begini, kapan bangsa kita terbebas dari sebuah labilitas 
mapan?***  
   
  2006, Leonowens SP 

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke