Alm. Bapak Fx. Hardoyo adalah anggota Badan Penasihat dan salah satu
pendiri  Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB).



http://www.perspektifbaru.com/wawancara/210

Perspektif Baru, Wimar Witoelar.
Hardoyo : G30S PKI Tetap Misteri
Edisi 210 | 14 Mar 2000 | Cetak Artikel Ini


Kalau kita bayangkan bahwa tahun-tahun ini sedang terjadi perubahan politik
yang bersejarah di Indonesia.
Sebetulnya sejak kemerdekaan, ini merupakan kedua kalinya kita menemui titik
balik yang begini drastis.
Perubahan sekarang mudah-mudahan tidak akan mengundang pertumpahan darah
seperti yang kita alami sebelumnya.
Pada perubahan drastis yang terjadi satu generasi yang lalu yaitu pada
peristiwa gerakan Gerakan 30 September, terjadi pertumbahan darah yang luar
biasa besarnya, bukan saja untuk ukuran Indonesia tapi juga untuk dunia.
Perkiraan jumlah korban yang jatuh antara 100 ribu sampai sejuta, tapi ada
orang bilang sekitar 500 ribu, tidak pernah akan ada yang tahu.
Karena bagaimana pembunuhan itu terjadi adalah diluar lampu sorot politik
apalagi lampu sorot pers. Kalau peristiwa G30S dan munculnya pemerintah
Suharto sesudahnya, dibayangkan sebagai suatu pertentangan antara rezim
Sukarno yang menaungi partai komunis, dengan pemerintah baru yang dimotori
oleh Angkatan Darat.
Pada waktu itu masyarakat Indonesia dan internasional menganggap bahwa
korban-korban yang jatuh sebagian besar oleh emosi masyarakat yang melawan
kegiatan orang-orang komunis, orang-orang PKI yang opresif, yang keras.

Akan tetapi pandangan sejarah yang lahir sesudahnya dan sekarang,
mempertanyakan juga apakah memang demikian hitam-putihnya.
Mungkin juga suatu unsur yang ada dibelakang pembunuhan itu untuk
motif-motif politik.
Itu kita akan tinggalkan pada ahli sejarah, tapi korban manusianya yang
ratusan ribu mati dibunuh, ribuan orang tahanan politik, mulai dari yang
ringan seperti diambil hak-hak politiknya, sampai pada yang masuk pembuangan
di Pulau Buru, masuk penjara, dan yang kabur atau diasingkan keluar negeri.
Dengan pergantian rezim menjadi pemerintah yang lebih manusiawi,
berangsur-angsur para pihak yang bersimpati kepada golongan kiri diijinkan
untuk muncul kembali. Mereka muncul dari tahanan, mulai dari sastrawan
terkemuka seperti Pramoedya Ananta Toer sampai pada tokoh-tokoh politik.
Dengan wawasan yang tertempa oleh pengasingan dan penderitaan sekian puluh
tahun, tamu Perpektif Baru kita sekarang adalah Bapak Hardoyo yang pada
waktu kejadian G30S sebagai Ketua Umum Consentrasi Gerakan Mahasiswa
Indonesia (CGMI), yang waktu itu sangat disegani dan ditakuti oleh
pihak-pihak yang tidak senang pada komunis.
Karena CGMI dianggap sebagai onderbow atau organisasi dalam lingkungan
Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sekarang setelah ditahan sekian lama, pak Hardoyo akan menceritakan langsung
pengalamannya kepada pemandu Perspektif Baru, Wimar Witoelar.



Supaya generasi sekarang mengerti, Bapak itu ketua umum CGMI (Consentrasi
Gerakan Mahasiswa Indonesia), waktu itu sebesar apa dan bagaimana liputan
organisasi Bapak dan apa hubungannya dengan Partai Komunis Indonesia?

CGMI lahir tahun 56 dari fusi CMB Bandung, CMY Yogya, dan GMI Bogor. Ketua
pertamanya Kapten Ir. Agus Wiyono yang nanti menjadi Mayor Jendral dan
Sekjen Departemen Perindustrian. Saya ketua umum pusat ketiga tahun 60-63
tapi justru itu tahun yang amat berat. Karena waktu itu dalam demokrasi
terpimpin ada nasakomisasi. Pada tahun 64, CGMI ditantang, kalau CGMI tidak
menyatakan kom dalam dewan-dewan mahasiswa tidak boleh duduk sebagai Dewan,
karena dewan mahasiswa harus nasakom, katanya HMI dan sebagainya. Akhirnya
CGMI tanya sama PKI, bolehkah CGMI menyatakan dirinya kom? Ya, nggak bisa,
kamu komnya siapa ? wong CGMI macam-macam. Akhirnya ada kompromi, tahun 64
saya sudah tidak ketua umum lagi CGMI menjadi Organisasi Mahasiswa Komunis
dan Progresif Non Komunis.


Jadi tidak didirikan oleh PKI dan waktu berdiri tidak ada hubungannya dengan
PKI. Tapi ideologinya apakah memang komunisme?

Tidak ada hubungannya dengan PKI. CGMI waktu berdiri ideologinya tidak
seneng ada partai-partai, malah mendukung Bung Karno untuk menyederhanakan
partai-partai. Barangkali bung Wimar masih ingat di Bandung CGMI seperti
Soekarno Yugen. Tahun 64 lain lagi. Untuk CGMI bisa berkembang harus
menerima mewakili kom padahal sebenarnya dalam CGMI yang disebut kom itu
mungkin anak-anaknya PKI yang mungkin tidak lebih dari 2 persen. Anggota
CGMI tahun 64 sebanyak 18 ribu.


Pada waktu ditahan, Bapak menjadi anggota DPRGR mewakili didalam fraksi?

Saya tahun 60 diangkat oleh bung Karno ketika pembaharuan DPR ke DPRD, saya
mewakili fraksi Golongan Karya Pemuda.



Fraksi Golkar ya, lucu juga. Tapi tentu keadaannya sangat berbeda. Kemudian
Bapak ditahan kapan, berapa lama dan tuduhannya apa?

Saya ditahan mulai 10 November 66 dan bebas tanggal 9 Desember 79, dalam
tuduhan yang disebut berindikasi G 30 S PKI. Jadi ditahan sesudah Super
Semar.



Bapak tidak terlibat dalam G30S?

Tidak, dan saya tidak pernah diadili.



Jadi pada waktu kegiatan mahasiswa yang melawan Sukarno, kegiatan Bapak di
CGMI apa saja?

Kalau waktu melawan Sukarno tahun 65-66, saya sembunyi karena sudah mulai
dikejar-kejar. Menyelamatkan diri.



Apa Bapak mempunyai pengalaman dengan orang-orang yang setelah dikejar-kejar
kemudian ditangkap atau dibunuh, untuk mengungkap misteri sekitar pembunuhan
tahun 66. Apa Bapak punya pengalaman pribadi?

Nggak ada cuma saya kan dikumpulkan dalam camp dengan bermacam-macam orang.
Jadi saya bisa cerita macam-macam, saya mendengar.



Campnya di mana pak Hardoyo?

Saya pertama ditangkap dimasukan Kodim Kalong di Jakarta Pusat dekat Air
Mancur, kemudian dipindahkan ke RTM, rumah tahanan militer, di Salemba
sebentar, kembali lagi RTM. Jadi kalau diurut di RTM 8,5 tahun, di Nirbaya
1,5 tahun, selebihnya masa terakhir di Salemba.



Di RTM itu kan ada bermacam-macam orang yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan PKI atau komunisme, bahkan bukan orang kiri. Bahkan ada
yang sekarang masuk pemerintahan. Bisa anda sebut beberapa rekan anda di RTM
waktu itu?

Saya bersyukur bahwa saya bisa bertemu dengan segala macam teman dari semua
kalangan, termasuk ketika Malari masuk saya ketemu Marsillam, Rahman Toleng,
Sjahril, Hariman Siregar. Bahkan juga suami Megawati, Taufik Kemas.



Terus anda berdiskusi politik nggak waktu itu?

Tentu, itu kan kesempatan sangat bagus.



Apa yang anda bisa ceritakan secara singkat mengenai pandangan politik anda
yang latar belakang CGMI dengan dengan orang-orang seperti itu dari mulai
Hariman Siregar sampai Sjahril, Marsillam segala macam.
Persamaan-perbedaannya dimana?

Saya kira pada waktu jaman bung Karno, kami semua percaya bahwa sosialisme
Indonesia akan terjadi di Indonesia. Tapi tiba-tiba terjadi seperti itu kan
seperti petir datang dan berubah segalanya. Kemudian kami lihat dan
mendengar apa dan kenapa ada G30S, apa itu G30S, sampai hari ini bagi saya
sesungguhnya masih misteri. Itu apa ?



Jadi G30S itu sebagai suatu peristiwa tidak diketahui oleh seorang aktivis
CGMI seperti Bapak, seorang anggota DPR, G30S itu terpisah dari kegiatan
CGMI?

Terpisah. Kami juga pernah mendengar semacam situasi politik katanya Dewan
Jendral mau kudeta. Itu saja. Tapi tidak pernah ada satu persiapan bagaimana
melawan kudeta, saya juga heran. Kalau PKI mau melawan kudeta, mestinya kan
buruhnya dikerahkan, taninya dikerahkan, tapi itu tidak ada. Sepertinya
orang antri mati saja.



Bapak kenal orang-orang yang tokoh PKI nggak?

Kenal banyak.



Apakah mereka terlibat G30S sebelum terjadinya?

Didalam penjara saya bertanya pada mereka dan hampir semuanya tidak tahu.
Barangkali yang tahu cuma yang disebut biro khusus.



Biro khusus semacam biro politik dan orang dalam sekali ya?

Biro khusus itu seperti anak buahnya Samlah (maksudnya Sam Kamaruzaman).
Itulah yang sampai sekarang juga menjadi misteri untuk kami, karena nggak
pernah melihat wajah itu. Malah ada yang bilang, dari teman-teman PKI itulah
partai in the party.



Sam Kamaruzaman yang misterius itu. Bapak 13 tahun dipenjara kemudian
keluar, bagaimana kondisi dikeluarkannya Bapak, apakah setelah keluar bisa
kembali aktif dalam masyarakat?

Keluarga saya kan ketakutan semua. Jadi ketika saya didalam penjara ada
untung masih ada ibu saya dan beberapa adik saya yang tidak takut, masih
mengirim makanan. Kalau nggak ada makanan, saya mesti hidup dari makanan
penjara yang sangat tipis. Karena itu waktu teman-teman Malari datang ya
kami merasa untung. Banyak makanan dari teman-teman Malari. Kami jadi lebih
sehat dan banyak membantu kami memang.



Orang-orang seperti Sjahril, Marsillam, itu adalah aktivis bahkan pemimpin
dalam gerakan mahasiswa angkatan 66, dan lawannya adalah rejim Sukarno,
waktu di penjara anda merasa diri sebagai lawan politik mereka atau tidak?

Saya kira tidak. Pak Badio ketika saya masih SD, pernah bicara di Tulung
Agung, waktu itu saya tanya Pak Badio kenapa begini ? Kita ini hanya menjadi
korban perang dingin saja, diadu domba seperti itu. Itu kata-kata beliau
yang sampai sekarang saya pikirkan.



Perang dingin dalam arti konteks internasional antara negara Barat dan
negara Komunis. Kemudian pak Hardoyo keluar dari tahanan, masuk dalam
masyarakat yang sudah dalam tahun kesekian pemerintah Suharto. Apa
kesan-kesan waktu itu?

Kami tetap gagap, sebabnya takut, hidup ini bagaimana? Yang aneh, saat
dibebaskan kami teken pernyataan 7 pasal, nggak boleh masuk partai, nggak
boleh ini, nggak boleh itu. Juga ada 9 pekerjaan yang tertutup bagi kami
termasuk menjadi wartawan, jadi pendeta, jadi pengacara, guru, lalu kami
juga meneken tidak akan menuntut ganti rugi pada pemerintah. Pikiran saya
waktu itu yang penting saya bebas sebagai manusia biasa dan cari hidup. Saya
segera ditolong oleh teman-teman seperti Aristides Katopo, Satyagraha
Hoerip, yang memberikan saya pekerjaan untuk terjemahan. Kadang-kadang saya
juga menjadi editor, selebihnya saya juga dibantu oleh adik-adik saya sambil
masih marah-marah, kamu sudah ikut politik ya? Diam saja jangan ikut-ikut
politik nanti keluarga susah. Saya peduli semua itu.



Sekarang bagaimana pendapat pak Hardoyo mengenai politik ini atau kalau
ditarik cepat sekali dari sejak keluar jaman Suharto sampai kepada jatuhnya
Suharto, bagaimana pandangan pak Hardoyo berubah?

Saya kaget, bagaimana kok Suharto bisa jatuh. Saya kaget sekali. Terlalu
cepat perkembangan itu menurut logika saya.



Berapa banyak dari hak-hak warga negara pak Hardoyo masih dicabut sampai
selesai rejim Suharto, apa yang masih tersisa atau sebagai cap pada pak
Hardoyo?

Waktu rezim Suharto akan berakhir tahun 95 stigma ET dari KTP dicabut. Itu
kami sedikit lega. Tapi instruksi Mendagri nomor 32 tahun 81, Amir Machmud
pada waktu itu sampai sekarang belum dicabut sekalipun Gus Dur katanya sudah
memerintahkan Mendagri yang sekarang untuk dicabut, tapi belum dicabut.
Padahal itu banyak ketentuan yang membuat kami kena sejumlah diskriminasi.
Misalnya kalau mau pindah rumah harus ada pihak ketiga yang bertanggung
jawab. Itu sampai sekarang ketentuannya masih ada dan belum dicabut. Jadi
kami sebenarnya masih terkena banyak pembatasan. Termasuk bekerja di 9
pekerjaan sekalipun dalam praktek sudah mulai longgar. Tapi saya dengar di
Priok, teman saya yang tua-tua itu masih kena wajib lapor entah sebulan atau
dua bulan sekali. Yogya juga katanya masih begitu.



Sekarang setahu pak Hardoyo, tahanan-tahanan politik yang berhubungan dengan
G30S itu apa sudah keluar semua?

Semua sudah bebas, terakhir Latief Cs itu.



Jadi dalam pandangan bapak apa yang sekarang bisa diharapkan dalam suasana
politik yang baru setelah bapak mengalami berbagai suasana politik. Sekarang
bagaimana pandangan Bapak mengenai perkembangan politik di tanah air?

Saya kira bangsa Indonesia sekarang ini menghadapi globalisasi, saya pernah
mendengar ini neo liberalisme yang akibatnya banyak membuat rakyat kecil
menderita. Saya pikir warisan masa lalu termasuk berbagai konflik perlu
diselesaikan, perlu ada rekonsiliasi. Jika tidak, mau kemana bangsa
Indonesia ini? Barangkali semua kalangan termasuk kalangan saya sendiri
harus berpikir, semua ambil bagian dari satu kesalahan masa lalu.



Ini berarti sekali ucapan Bapak, sebabnya kalau mau rekonsiliasi yang paling
harus didengar suaranya itu para korban ketidakadilan dulu. Lalu kalau
sekarang ada rekonsiliasi, bagaimana anda menutup buku terhadap ketidak
adilan yang menurut persepsi Bapak telah melanda kehidupan Bapak dulu.
Dibiarkan saja begitu?

Saya kira mungkin tidak seluruhnya. Saya setuju dengan gagasan Gus Dur untuk
membentuk komisi kebenaran dan rekonsiliasi. Mungkin kita bisa belajar dari
Nelson Mandela, tapi kalau di Nelson Mandela kan hanya satu kasus,
apartheid. Di Indonesia banyak sekali kasus tidak hanya tahun 65 yang
menjadi korban dan luas jumlahnya kasus saya membayangkan betapa sulitnya.
Tapi saya senang sekali mendengar katanya medio Maret nanti Menteri Yusril
akan mengajukan rancangan Undang-undang komisi kebenaran dan rekonsiliasi ke
DPR. Mudah-mudahan DPR sudah siap menghadapi itu. Kadang-kadang saya juga
pesimis, kalau saya ingat omongannya Dr. Riswanda Himawan, bangsa Indonesia
itu mengidap budaya tumpas kelor, akar politik harus dihabiskan. Ini susah
untuk rekonsiliasi. Sekarang terbit bukunya Pramoedia Ken Dedes Ken Arok.
Yang intinya sejarah mata rantai dendam yang terus menerus diantara
raja-raja di Jawa. Malah kemarin ada satu seminar yang diadakan dalam rangka
sebelas Maret, itu ada yang menceritakan, sebenarnya G30S itu kan seperti
orang dibikin perangkap apa, bikin sombong, dan macam-macam, itu seperti
dijadikan kebo ijo dalam kasus empu gandring. Tadi malam saya dengar itu.




PKI berhenti dalam satu peristiwa yang mendadak dan berdarah.
Pemikiran-pemikiran didalamnya selain pemikiran komunis partai, tentunya
banyak juga pemikiran kiri, pemikiran sosialis, yang mempunyai suatu
validitas tertentu. Sekarang bagaimana pemikiran kiri di Indonesia,
terwakili oleh siapa dan apa masih perlu jaman sekarang dibandingkan dengan
dulu?

Saya kira sebagai satu pandangan kiri dalam arti membela untuk social
justice dan sebagainya itu masih perlu. Bahkan mungkin sebagai semacam
counter culture juga penting. Cuma yang perlu ditegaskan hantu yang
dikatakan PKI masih hidup itu salah. Sudah finish, selesai. Coba gambarkan
represif demikian hebat itu membuat trauma, anak-anak trauma, keluarga
rata-rata 60 % ke atas cerai. Anak-anak menjadi anti orang tua, dan kalau
pak Wimar lihat misalnya dari gerakan reformasi, apa ada anak komunisme.
Tapi bahwa ada ide-ide tentang kiri dalam arti untuk social justice, kita
lihat saja Dawam Raharjo, Adi Sasono. Apalagi sekarang banyak buku-buku yang
tidak ditutup masuk Indonesia, pasti semua orang tahu, terbuka. Saya kira
kalau menurut saya nanti kekuatan demokratis untuk di reformasi damai itu
saya kira kaum kiri.




Bapak Hardoyo sebagai orang kalangan kiri, dan dekat dengan berbagai
organisasi kiri, yakin sekarang misalnya PKI sudah mati dan komunis dokriner
sudah mati. Tapi menurut perasaan bapak apakah keyakinan itu akan ada pada
pihak tentara, pada pihak masyarakat lain, masih ada kecurigaan tidak
terhadap PKI atau terhadap Bapak pribadi?

Saya kira iya, bahwa kecurigaan kan kita lihat beberapa teman dari komisi
dua, atau Arief Budiman sendiri setelah kesini, ini gimana ?, semua boleh
asal nggak dengan PKI. Artinya bahaya laten PKI sebagai satu musuh yang
harus terus menerus ada itu diperlukan. Itu ilmiah atau tidak, ya silahkan
dipikirkan para pakar, yang terang saya menyesalkan kenapa kaum demokrat,
kaum humanis tidak membahas soal itu.



Apakah PKI perlu dievaluasi kembali dalam perspektif sejarah?

Klarifikasi mengenai PKI dan semuanya termasuk peristiwa 1 Oktober sangat
perlu. Tempo hari LIPI kan sudah mulai dalam menjernihkan kasus 65 dimana
Gerwani ternyata tidak memotong-motong para Jendral. Itu sudah ada visum,
padahal berita itu sendiri cukup mengobarkan pembunuhan massal di
daerah-daerah. Saya kira itu penting



Kalau Bapak melihat politik sekarang mulai yang konkritlah, seperti
kawan-kawan di PRD atau gerakan mahasiswa, masuk kategori mana kalau
dibandingkan dengan pemikiran rekan-rekan Bapak dulu?

PRD ini gerakan anak-anak muda yang radikal, tapi sama sekali bukan komunis.
Saya senang ketika Budiman menjelaskan dia senang untuk memperjelas posisi
dia, PRD ini hendaknya disamakan dengan Partai Buruh Brazil yang kalah
sedikit suara diluar Cardozo, sebuah partai sosialis tapi didalamnya banyak
faksi, dan itu demokratis sekali. Kalau sudah demikian mau dicap komunis
yang macam mana PRD ini.



Menurut Bapak apakah kiri itu kiri seperti PRD atau yang ada dalam
organisasi kelompok-kelompok yang tidak terorganisir akan mempunyai
kontribusi terhadap warna politik atau struktur politik dimasa depan yang
5,10 tahun ini?

Saya kira ya, saya sudah mulai melihat bahwa kelompok-kelompok sosial
demokrasi akan tumbuh di mana-mana dengan latar belakang bisa Islam,
Kristen, bisa juga tidak apa-apa, nasionalis, itu nanti akan mewarnai
pertumbuhan pemikiran kiri baru di Indonesia.



Salah satu issu yang sekarang muncul di dalam dan diluar organisasi politik
adalah yang tadi Bapak singgung juga globalisasi, internasionalisme.
Komunisme itu kan sangat internasional sebetulnya tapi sangat anti
kapitalistik. Sekarang kalau kita bicara internasional, itu dengan
sendirinya adalah kapitalisme karena komunisme internasional tidak ada. Tadi
Bapak mengatakan agar waspada terhadap globalisme tapi lawannya apa,
nasionalisme atau bagaimana itu penyeimbangnya?

Saya kira bagi negara-negara yang sedang berkembang mau tidak mau menuju ke
kapitalis. Cuma kalau istilah teman-teman kapitalisme yang berkeadilan, dan
memang sosial demokrasi yang bisa menghadapi ini. Seperti kita ditekan IMF,
teman-teman PRD menyuarakan soal kenaikan harga listrik dan minyak. Itu kan
sebenarnya mendukung Gus Dur untuk berani melawan IMF, supaya jangan sampai
korbannya orang kecil terlalu banyak. Saya kira seperti itu saja, tapi tidak
anti kapitalisme.



Berarti soal pasar bebas sebagai satu prinsip ekonomi, Bapak tidak
berkeberatan pada saat ini?

Kenyataan didunia sekarang seperti ketika saya berbicara di Melbourne,
ketika saya mau bebas saya ditanya apakah Pak Hardoyo masih Marxis komunis?
jawaban saya dari Marxisme yang saya ambil, bahwa yang abadi adalah
perubahan. So Iam what Iam, lihat saja nanti kalau saya bebas, apakah saya
Marxis atau neo fasis.



Mengenai hubungan dengan TNI bagaimana, pasti Bapak pengalamannya banyak
dengan TNI, ABRI jaman dulu. Arah perkembangan masyarakat dalam memandang
TNI itu bagaimana?

Hubungan dengan TNI yang paling sering ketika saya di DPR, saya kan satu
fraksi sama TNI, praktikal dengan Golongan Karya. Jadi saya mempelajari
jalan pikiran mereka. Saya pikir kalau dalam sejarah, TNI juga korban
sejarah kok sebetulnya, kenapa sampai menjadi seperti begini. Nah, sekarang
dalam jaman demokrasi memang perjuangan TNI dalam demokrasi penting sekali.



Sepertinya ideologi memang sudah mati barangkali di dunia atau di Indonesia,
karena Bapak saja sangat realistis bahkan pragmatis dalam melihat jalannya
sejarah. Bagaimana kemudian jaminan kemanusiaan kedepan, hak azasi
manusiakah, atau di agama, bagaimana nantinya kan nggak bisa juga kita
terlalu melihat realitas?

Saya belum pernah membaca bukunya Fukuyama tentang ideologi. Barangkali
kalau kita bicara konsep ideologi dulu, ideologi itu apa ? Manifestasi
kepentingan kelas, golongan, kelas dalam arti sosiologi dulu. Saya tidak
tahu apakah itu slogan mati apa tidak, tapi saya pikir dunia kita sekarang
lebih melihat masalah manusia lebih tajam. Seperti juga generasi hak azasi
manusia pertama tahun 48 itu sangat individualistis, tapi kemudian pada
generasi kedua, ketiga sudah mulai kelompok, sosial, golongan. Jadi tidak
saja liberalistis masih ada pengertian kolektif dan sebagainya. Itu kan
menarik. Jika demikian halnya, pikiran-pikiran yang dulu hidup membela
kapitalisme juga diimbangi pengertian sosialisme dalam sejumlah konvensi
human right ini. Karena itu saya berpendapat perjuangan untuk demokrasi dan
HAM itu nomor satu.



Kalau memang terjadi komisi kebenaran dan rekonsiliasi, atau gerakan
kebenaran dan rekonsiliasi, apa pak Hardoyo bersedia untuk aktif menyuarakan
pendapatnya dalam pihak yang mempromosikan rekonsiliasi?

Saya tempo hari diundang di antara 31 orang oleh Elsam untuk menyusun
Rancangan Undang-undang untuk RUU kebenaran itu, dan yang jelas sudah
selesai. Katanya nanti disumbangkan pada pemerintah, medio Maret akan dibawa
ke DPR. Saya tentu akan mendukung itu karena itu pendidikan politik dan
kebudayaan yang baik untuk bangsa.


Kirim email ke