Siaran Pers: 
Pesantren Bantu Cegah Penyalahgunaan Narkoba
 
Penyalahgunaan narkoba di Indonesia yang terus meningkat semakin meresahkan 
banyak fihak. Pesantren sebagai bagian dari masyarakat turut prihatin dan 
berusaha mengatasi masalah tersebut, dengan membuat program pencegahan 
penyalahgunaan Narkoba berbasis pesantren.
 
Program yang melibatkan Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPK NU), 
Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Colombo Plan tersebut akan melakukan 
orientasi dan perencanaan di Kantor PBNU, Kamis 21 Desember - Sabtu 23 Desember 
mendatang.
 
Wakil Ketua LPKNU dr. Wan Nedra Komaruddin menjelaskan bahwa pemimpin agama 
dipandang dapat mempengaruhi masyarakat dalam mencegah dan menangani para 
pecandu narkoba. "Penggunaan nilai spiritualitas diharapkan bapat mengurangi 
dan mencegah ketergantungan pada narkoba," tuturnya.
 
Beberapa aspek yang akan dibahas dalam workshop ini diantaranya adalah 
perspektif Islam tentang Narkoba, peran pesantren dalam mencegah penyalahgunaan 
Narkoba, sampai dengan masalah narkoba yang ada di Indonesia. Para peserta yang 
datang dari 10 pesantren tersebut juga akan diperkenalkan dengan konsep 
pemberian kesadaran terhadap Narkoba pada siswa, pemberian life skill training 
pada siswa sampai dengan aktifitas ekstrakulikuler.
 
Tak hanya berhenti dalam arena workshop, pesantren-pesantren tersebut akan 
dibantu dalam pembuatan proposal dan Colombo Plan akan mendanai aktifitas 
tersebut. Setidaknya, ada dukungan dari lembaga internasional dalam penanganan 
masalah narkoba ini. 
 
Workshop ini merupakan rangkaian dari program yang sama yang diselenggarakan di 
Malaysia pada Desember 2004 lalu dan di Indonesia pada Maret 2006 lalu. 
 
"Penyelenggaraan workshop ini diharapkan dapat semakin mendorong para ulama 
untuk mengambil peran dalam program pencegahan Narkoba berbasis pesantren," 
tuturnya.
 
Diantara pesantren-pesantren NU tersebut; Ponpes Al-Muhajirin (Jakarta Utara), 
Anurudh Dholam (Jakut), Darunnajah (Jakbar), Al-Hamidiyah (Depok), 
Asshiddiqiyah (Jakbar), Yapink (Bekasi), Al-Munawir (Yogyakarta), Al-Ashriyyah 
Nurul Iman (Bogor), dan Azziyadah (Jaktim). 
 
Direktur Program Narcotics The Colombo Plan, Dr Ranayake menambahkan, penyatuan 
pendidikan antinarkoba dengan materi pendidikan lain di dalam sistem pendidikan 
Islam amat menunjang program ini. Dia berharap ada kerjasama yang baik dengan 
pihak Ponpes dalam bidang pendidikan tersebut. "Setelah berkunjung ke 
pesantren-pesantren NU kemarin, saya menemukan kenyataan bahwa sudah ada banyak 
kegiatan penyuluhan tentang narkoba yang dilakukan secara rutin," katanya. 
 
Senada dengan Ranayake, Senior Programme Officer The Colombo Plan, Freddie 
Jayawardena mengungkapkan ada banyak penelitian membuktikan bahwa aspek 
spiritualisme dalam agama memiliki pengaruh kuat terhadap penanganan dan 
pencegahan narkoba. Peran agama khususnya institusi lembaga pesantren bisa 
menjadi ujung tombak penanggulangan dan agen pencegahan narkoba berbasis 
komunitas. Masyarakat sekitar pondok pesantren sering meminta bantuan kepada 
institusi agama ini untuk menyembuhkan pecandu narkoba. Dengan begitu pesantren 
merupakan salah satu bagian dari program pelayanan masyarakat bagi pecandu 
maupun basis penting bagi program pencegahan narkoba. 
 
(cp: kantor (021) 3922256, HP: 085880366026

Kirim email ke