HARIAN KOMENTAR
21 December 2006 

      JJM: Ini masalah serius 
      Operasi Mawar Polisi Diduga Berbau Syariah 
     


Operasi Mawar yang dilaku-kan Poltabes Manado pantas didukung. Namun sikap 
oknum petugas yang terkesan 'over-acting' dalam menjalankan ope-rasi, 
mengundang cibiran se-jumlah kalangan. Pasalnya, ada kesan operasi tersebut 
ditengarai mulai menjurus pada bentuk-bentuk hukum Syariah.


Pasalnya, ada warga yang hanya berdua saja di dalam mobil yang parkir di tempat 
umum, tiba-tiba digelandang ke kantor polisi. Hal ini mencuat saat pertemuan 
Anggota DPR 


Jeffrey Johanes Massie (JJM) dan konstituen, serta kala-ngan pers di RM 
Nelayan, Kalasey, kemarin (20/12). 
''Padahal kami baru saja se-lesai makan dan duduk dalam mobil. Tiba-tiba 
petugas da-tang dan meminta KTP. Me-reka tanya kalau kami suami- istri, lalu 
kami dibawa ke kan-tor polisi. Apa sudah tidak bi-sa perempuan dan laki-laki 
duduk dalam mobil?,'' aku sumber yang menambahkan, saat kejadian berlangsung 
sekitar Pukul 19.30 Wita. 


Aduan yang sama pun di-sampaikan seorang pengusa-ha. Menurutnya, hal yang sa-ma 
menimpa seorang stafnya yang kebetulan sedang mem-beli pisang goreng. ''Petugas 
datang dan kemudian mena-nyakan KTP serta menanya-kan apakah suami-istri. 
Ka-rena bukan, mereka dibawa ke kantor. Ini aneh, apakah sudah tidak bisa 
wanita dan laki-laki di dalam mobil ber-sama?,'' tandas sumber. 


Mendengar aspirasi konsti-tuennya, JJM mengaku kaget. ''Ini terlalu berlebihan 
dan menjurus pada penerapan berbau Syariah. Kita ini bukan di Afganistan di 
mana wanita tidak boleh berjalan dengan lelaki yang bukan muhrim-nya,'' tandas 
Anggota F-PDS DPR RI ini. Ditambahkannya, ini juga bisa menjadi peng-hambat 
Kota Manado menuju Kota Pariwisata.Oleh sebab itu, JJM memin-ta agar kiranya 
institusi yang berwenang tidak terlalu ber-lebihan dan kaku dalam me-nerapkan 
aturan. ''Ini saya kira masalah serius yang perlu disikapi bersama,'' kata 
legisla-tor asal Sulut ini. Dia juga ikut menyentil soal isu 'penutupan' 
BreadTalk di kawasan Mega Mall.


Sebab beredar informasi pe-nutupan itu disertai 'penyege-lan'. ''Ini kan sangat 
tidak baik dalam menciptakan iklim investasi di daerah ini. Apalagi saya dengar 
pakai police line segala,'' tandasnya seraya me-nyatakan heran bahwa hanya 
masalah commercial paper saja, sudah diperlakukan bak kriminalitas serius. 
''Jangan dong begitu, pakai police line itu sama dengan kasus penge-boman saja. 
Ini harus dihin-dari dan jangan terulang lagi.''
Pada bagian lain, dalam di-alog informal tersebut, ber-hembus juga keluhan soal 
pe-nyitaan sejumlah barang elektronik di sebuah toko akibat tidak disertai 
manual dalam Bahasa Indonesia. "Su-lut melalui pemerintah daerah tengah 
menggenjot upaya ma-suknya investor, tapi dengan cara-cara kaku dalam 
pene-rapan aturan yang menyulit-kan pengusaha, tentunya berdampak negatif 
terhadap masuknya investasi.''


Kalangan wartawan yang ter-diri dari sejumlah petinggi re-daksi cetak dan 
elektronik juga ikut mengkritisi masalah-ma-salah yang dinilai menghambat 
investasi, serta bisa menjegal upaya Manado menuju kota pariwisata tersebut. 
Persoalan lainnya juga ikut dibahas ang-gota legislatif dan kalangan in-san 
pers ini, terutama masalah politik lokal dan nasional. Dari kalangan pers hadir 
Nico Paath dari Posko, Friko Poli (Komen-tar), Hendra Zoenardji (Swara Kita), 
Jemmy Saroinsong (Me-tro), Haris Van der Slot (Pacific TV), Jootje Kumajas 
(PWI), Vou-ke Lontaan (Media Indonesia), dan Rusdi Toaana dari Manado 
Post.(rik/*) 




Kirim email ke