----- Original Message ----- 
From: HI DIRC 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, December 21, 2006 2:45 PM
Subject: RE: [mitra-jaringan] Pengalamanku



Halo Aris,



Di Banda Aceh aku sendiri sudah mendampingi salah satu teman yang tidak boleh 
terbang oleh Garuda bila pergi sendirian. Dan Lucunya, pada saat kita ke kantor 
kota Banda, banyak dataff maupun manager yang  tidak mengetahui mengenai surat 
pernyataan itu sendiri. Mereka bilang sudah standart nasional bahkan 
international bahwa tuna netra tidak bisa terbang tanpa pendamping.



Lain lagi dengan Lion Air, pada saat saya pulang dari Banda, mereka minta nomor 
telepon penjemput setelah kita mengisi surat pernyataan yang menyatakan bahwa 
kita akan dijemput, lalu saya dikalungi kertas ukuran A5 yang isinya  ada nomor 
telepon penjemput dan bertuliskan sesuatu di bagian depannya. Kalung itu saya 
byang di depan petugas.



Setelah Tanya kiri kanan di Jakarta, ternyata biasanya kalung itu diberikan 
kepada anak dibawah umur 13 tahun yang terbang sendirian. Memang tampang saya 
imut. Tapi ini keterlaluan!



Mungkin kita juga harus mencek ulang regulasi Air Asia yang katanya akan 
mengenakan biaya kepada pengguna atau pembawa kursi roda. Katanya akan 
diterapkan Agustus 2006. Mungkin ada yang tau tentang ini?



O.K. guys, another war is coming, brace yourself!!!



Jaka Ahmad, S.sos

Koordinator "Reukan"




--------------------------------------------------------------------------------

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Aria Indrawati
Sent: Thursday, December 21, 2006 9:20 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [mitra-jaringan] Pengalamanku





Hi Aris,

Ya, itu sangat menyedihkan sekaligus memalukan.

Ini harus kita atasi bjersama-sama...

Hal seperti itu hanya terjadi dengan airline Indonesia!...sekali lagi, hanya 
airline Indonesia raya yang kita cintai ini.. Negara yang berdasarkan 
pancasila. Ini harus dihentikan!

 Bulan Januari nanti, Pertuni akan ada rakernas, dan salah satu topik diskusi 
-- isu strategis -- adalah aksessibilitas layanan publik, termasuk di dalamnya 
transportasi. Kalau kamu tidak keberatan, saya akan minta panitia undang kamu 
dan memberikan kesaksian di diskusi tersebut...

 Saya akan sebarkan ini ke mailinglist para media, supaya mereka memberikan 
perhatian! Garuda harus dijewer!...



Aria.



.



  ----- Original Message ----- 

  From: Aris Yohanes 

  To: [EMAIL PROTECTED] 

  Sent: Wednesday, December 20, 2006 3:21 PM

  Subject: [mitra-jaringan] Pengalamanku



  Dear all,

  Hari ini aku mau bercerita sedikit tentang pengalamanku selama pergi ke 
  amerika.

  Namun sebelumnya aku mohon maaf jika aku baru sekarang sempet nulis tentang 
  ini. abis pertama-tama ada error dengan account di yahoo. yg kedua baru 
  sekarang dapet kesempatan makek internet dengan agak lebih leluasa.

  Ok, akhirnya pada hari senin tgl 11-12-2006 aku sampai kembali di Indonesia 
  dengan selamat setelah melewati berbagai rintangan yg melelahkan. Tapi 
  seharusnya aku sampai pada hari minggu waktu indonesia. cuma karena ada 
  kerusakan mesin pada saat mendarat di alasca jadi agak sedikit terlambat.

  Sebenernya kisah perjalananku sih kayaknya gak terlalu penting, cuma ada 
  yang kuanggap penting. Begini, sewaktu aku berangkat pada tanggal 2-12-2006, 
  aku pertama-tama naik garuda indonesia tujuan singapura yang terbang pada 
  pukul 7 malam. Nah ketika check in, kami satu tunanetra dan satu kursi roda, 
  harus terlebih dahulu menandatangani sebuah persetujuan yang inti dari 
  isinya perusahaan penerbangan itu tidak akan bertanggung jawab bila terjadi 
  hal-hal yg tidak diinginkan. Ada 7 poin yg harus kami patuhi. Dan bila kami 
  telah menandatangani persyaratan itu, kami diharuskan membayar sejumlah 
  uang. Tentu saja kami protest dan mencoret 7 poin itu dan hanya memberi 
  tanda tangan saja tanpa menganggap poin itu ada karena waktu yg semakin 
  mendesak. Pada saat itu saya sempat bertanya apakah semua airlines 
  mengharuskan peraturan semacam ini. Jawaban mereka ya.

  Namun apa yang mereka jawab itu tidak terbukti kebenarannya, karena setelah 
  kami check in untuk united airline dan catai phacific kami tidak diberi 
  apapun yang harus kami tandatangani begitu juga dengan pulangnya. Ketika 
  sekembalinya dari amerika dan tiba di singapura, kami kembali naik garuda 
  dan kembali kami harus menandatangani persyaratan itu.

  Masalah yang aku kemukakan di sini adalah tentang persyaratan itu. Sudah 
  banyak keluhan dari teman-teman pennyandang cacat lain yang mengeluhkan soal 
  ini. Mereka berfikir bahwa ini adalah suatu tindak diskriminasi. Padahal 
  kita sedang merintis sebuah masyarakat yang inklusi.

  Bagai manakah tanggapan anda sekalian mengenai hal ini?

  Sekian sedikit pengalaman dariku.

  Warm and best regards.


------------------------------------------------------------------------------
  size=2 width="100%" align=center> 
  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.15.25/593 - Release Date: 12/19/2006 
1:17 PM



 


--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.15.26/594 - Release Date: 12/20/2006 
3:54 PM

Kirim email ke