Memenuhi Kebutuhan Jiwa

“Is it asking too much to be successful and
happy”….Robert Holden

Pernahkah anda mendengar kata “karoshi” dalam bahasa
jepang yang artinya mati karena kebanyakan kerja?  
Jika kita telaah dan kembangkan kata tersebut dalam
kehidupan sehari hari terutama setelah era tahun 2000
dimana pemerintah Indonesia membuka diri untuk menarik
penanaman modal asing dengan kepemilikan sampai 100 %
, globalisasi dan serbuan PMA yang masuk harus di
syukuri. Perusahaan distribusi yang tadinya banyak
berupa “joint venture” di ambil alih oleh para
pemegang merk. Banyak karyawan ataupun top eksekutif
yang mau tidak mau harus tunduk, patuh dan bekerja
lebih keras lagi agar sekedar memenuhi tuntutan dari
pekerjaan ataupun atasan. 

Budaya asing pun semakin merambah memasuki tatanan
kehidupan masyarakat metropolitan.  Lampu lampu di
kantor bertingkat seperti Jalan Sudirman, Rasuna Said
dan Gatot Subroto yang tetap menyala sampai tengah
malam akibat karyawan yang harus lembur sudah bukan
hal yang aneh. Teman saya pak Hengkie Liwanto semasa
bekerja di Citibank sering menelpon saya sekitar jam
10 malam, dan ternyata masih berada di kantor, apalagi
top eksekutif seperti Harry Tanusudibyo, Anthony
Salim, dan masih banyak lagi.;

Di kalangan karyawan level staff, supervisor dan
manajer juga tidak ketinggalan dan terpontang panting
harus mengikuti tuntutan globalisasi dan persaingan
ini.  “To do lists, mengejar dead line, pelayanan call
center 24 jam, semuanya serba “doing”, kerja, kerja,
kerja. Bahkan sampai di rumah dan week end pun
pikirannya tidak terlepas dari kerja.  Seorang teman
saya yang menikah 5 tahun lalu dan istrinya bekerja
dibidang I T  “cur hat” bahwa dia menjadi sangat
sibuk, suka membawa pekerjaan di rumah, menjadi
temperamental dan cepat marah. Jangankan memikirkan
untuk punya anak, saking sibuknya dibelai pun marah
(ingat lagu Jablai?).

Beberapa CEO dan Top eksekutif perusahaan yang
memiliki “hati” sebenarnya banyak yang sadar akan hal
ini. Mereka sadar bahwa sebagian besar karyawannya
bekerja dalam menepati waktu, mengejar targe,
berdedikasi tinggi di kantor, mengorbankan “week end”,
mengorbankan keluarga , mengorbankan kesehatan namun
rasanya masih ada yang kurang.  Atasan saya di Samsung
Electronics, Mr. Mun Bong Lee suatu hari mengatakan
bahwa banyak staff, promotion girls, yang sekedar
bekerja tapi tidak menjiwai pekerjaannya dan saya
setuju. Hanya yang perlu diingat adalah, apabila
tuntutan ataupun kondisi karyawan yang sekedar
bekerja, bekerja dan bekerja (“doing”) tanpa mengelola
“hati dan jiwa” dari karyawan, bagaimana mungkin kita
mengharapkan orang bekerja dengan hati dan segenap
jiwa?

Demikian juga pribadi kita sebagai manusia, apabila
kita hanya memikirkan hal hal duniawi, pekerjaan,
uang, namun melupakan memberi nutrisi kepada hati dan
jiwa kita, maka apapun yang kita kerjakan sebenarnya
hanyalah rutinitas. Lihatlah sekeliling kita dan kawan
atau kerabat kita, makin banyak diantara mereka yang 
mengalami kelelahan fisik dan kelelahan jiwa.
Barangkali sepenggal lagu YOU RAISE ME UP oleh Josh
Groban dapat didengarkan pada saat saat kita mengalami
kelelahan tersebut

When I am down and oh my soul so weary
When troubles come and my heart burdened be
But I am still sit here in a silence,
Until you come and sit a while with me
You raise me up so I can stand on Mountain
You raise me up to walk on stormy sea
I am strong when I am on your shoulder 
You raise me up to more than I can be..

 Untuk melakukan revitalisasi fisik, jiwa dan mental
kita, maka selain hidup yang harus lebih seimbang
(“work and life balance”), kita perlu banyak
memberikan nutrisi dan mengangkat “spirit” kita.
Seperti mata uang yang memiliki dua sisi, maka
material sukses dan spiritual sukses yang ditunjukan
dalam kehidupan yang seimbang.

A. Budak Uang?
Dalam berdiksukusi tentang topik dan menulis buku 
buku kami yang berlandaskan empati, hati nurani, “love
and happiness”, kami setuju bahwa “money and power are
important”; tapi bukanlah segalanya.  Kita semua juga
tahu bahwa banyak sekali orang yang kelihatan sukses
secara duniawi, bintang film, pengusaha, top
executive, CEO, Pengacara , ternyata di dalam hatinya
memiliki kehidupan yang tertekan dan sengsara. 

Bagi yang berani “detach” dari posisi mereka dan gaji
yang tinggi; mengikuti kata hati dan memenuhi
panggilan jiwa ternyata banyak yang lebih hidup
berbahagia dan bermakna.  Kunci utamanya telah adalah
bukan uang melainkan timbulnya terus menerus
kreatifitas dan pemecahan masalah.  Uang adalah “by
product” atau hasil dari hal hal yang kita kerjakan,
dengan melakukan hal hal yang sesuai dengan panggilan
jiwa akan timbul energi dan kreatifitas tiada henti,
hidup lebih bahagia karena mengikuti kata hati dan
hasilnya akan optimal dan rejeki akan mengikutinya. 
Di tingkat korporasi juga sama, jika kita baca visi
dan misi banyak perusahaan publik, maka “stake holder
return” ataupun “share holder return” yang ditunjukan
dengan kenaikan harga saham terus menerus akan menjadi
faktor pemberi tekanan kepada eksekutif. Kesuksesan
berupa keuntungan ibarat seperti minum air garam; 
semakin diminum akan semakin haus. Setiap tahun
melakukan budgeting, pengalaman yang kita  dapatkan
adalah semakin tinggi penjualan ataupun keuntungan
yang didapat, otomatis akan diberi beban lagi di tahun
depan agar lebih tinggi lagi memberikan keuntungan dan
pendapatan kepada “share holder”. Dalam suatu
perusahaan, agar tidak diperbudak oleh uang, maka
keseimbangan antara  “profit, positioning dan purpose”
sangatlah perlu. Ungkapan “diperbudak” oleh uang perlu
di kaji mengingat hubungan antara “majikan=uang” tidak
memiliki jiwa. 
Sebaliknya perusahaan yang memiliki “jiwa” akan cepat
dikenal oleh masyarakat, memiliki daya tarik baik
kepada konsumen untuk mendapatkan “heart share, mind
share dan otomatis market share”; sekaligus menjadi
perusahaan yang di kagumi sehingga menarik  “human
capital” berupa sumber daya manusia berkualitas,
berdedikasi dan memiliki integritas tinggi, serta
menarik “Investor-stake holder capital” untuk di
investasikan kedalam  korporasi tersebut.  Contoh
perusahaan yang memiliki jiwa dan akhirnya  menjadi
perusahaan yang sangat sukses luar biasa antara lain
adalah Body Shop dan  Yahoo.  Kedua perusahaan
tersebut mampu keluar dari perangkap dan perbudakan
uang dengan kreatifitas dan pemecahan masalah.   Di
majalah Time edisi  13 November 2006, seorang
entrepreneur  yang  menemukan dan mendirikan Hotmail,
Sabeer Bhatia menulis:

Di tahun 1995, saya terinspirasi dengan website baru 
http://akebono.stanford.edu/-yahoo. Situs ini
dikembangkan oleh dua  orang mahasiswa dari Stanford
yait Dave Filo dan Jerry Yang. Meskipun awalnya hanya
digunakan untuk keperluan antar teman teman, Yahoo
yang berisi tentang direktori situs situs dengan topic
menarik itu menjadi suatu “guide” yang sangat populer
di era internet masa itu. Adalah American on line yang
pertama kali tertarik ingin membeli paten Yahoo
tersebut, namun Jerry dan Dave menolaknya, dan malah
menggunakan investasi berupa “venture capital”; dan
mengikuti kata hatinya mengejar impian. Ternyata
keputusan itu berbuah sangat positip, karena Yahoo
berkembang menjadi perusahaan internet yang menyaingi
Netscape. Meskipun Yahoo bukan perusahaan piranti
lunak melainkan perusahaan media, yang menyediakan
koneksi secara gratis, banyak perusahaan yang menjadi
spornsor ataupun memasang iklan.

Diilhami oleh Yahoo tersebut, saya meluncurkan “HOT
MAIL”, bersama kawan saya Jack Smith, yaitu suatu
situs gratis yang hidup dari pemasang iklan dan
akhirnya meraih sukses sebagai “email service
provider” yang terbesar di dunia dan menarik
perusahaan MICROSOFT untuk membelinya di tahun 1997
dengan nilai 400 juta US$. 

Terima kasih Jerry, sudah memberikan ilham kepada saya
untuk  menjadi entrepreneur, Meskipun awalnya banyak
yang meragukan peluang sukses Yahoo di bidang
internet, ternyata anda dan partner tetap konsisten
dan meraih sukses sebagi situs yang paling banyak
dikunjungi di dunia (sebagai informasi, pendapatan
tahunan dari Yahoo di tahun 2006 sekitar $6 Milyar
dollar).

Tim Sanders, seorang eksekutif senior di yahoo
mengatakan bahwa “Love not money  “ adalah hal yang
utama dalam kehidupan korporasi.
Hal yang terutama dalam bisnis bukanlah “greed” atau
ketamakan dan “fear” atau ketakutan juga bukan
kompetisi yang ketat. Yang paling penting adalah
“Love” yang akan membuat perusahaan menjadi tumbuh dan
berkembang. “Love” atau cinta kasih akan membawa kita
kepada kesuksessan, makna dan kepuasan dalam bekerja
yang akan membantu kita memberikan dan menghasilkan
hal hal yang terbaik
Demikian juga Anita Roddick pendiri Body Shop, dalam
bukunya “Business as Unusual”, membagi pengalamannya
bagaimana keluar dari “Money Trap” dalam mendirikan
Body shop sbb:

Cabang pertama dari Body Shop dibuka di Brighton bulan
Maret 1976; designer logo saya bayar 25 poundsterling,
teman saya membantu mengisi botol dan menulis label
dengan tangan. Warna hijau yang dipakai awalnya bukan
berarti “green environmen” melainkan satu satunya
warna yang dapat menutupi bercak bercak di tembok.
Botol yang saya pakai adalah botol bekas rumah sakit
yang saya beli dengan harga murah, namun uang saya
sangat terbatas sehingga saya tawarkan servis “isi
ulang. Syu mengisi botol yang dibawa sendiri oleh
konsumen. Kita telah memulai daur ulang lama sebelum
konsep lingkungan menjadi trend, dan kami bisa sukses
luarbiasa karena awalnya “TIDAK MEMILIKI UANG YANG
BANYAK”.  (kabarnya, Body Shop sedang  akan di
akuisisi oleh L’OREAL dengan nilai yang sangat besar)

Jadi kalau kita sering dengar orang akan bahagia kalau
telah memiliki “Financial freedom” adalah tidak benar,
uang tidak memiliki “jiwa” sehingga tidak dapat
membuat kita “secure”, uang tidak dapat menyembuhkan
ketakutan (“fear”); juga tidak dapat membuat kita
lebih “pintar”.

Demikian juga dalam kehidupan sehari hari, terlalu
“attach” dengan uang akan membuat kita di perbudak
oleh uang, dimana uang tidak memiliki jiwa dan jika
kita tidak bijaksana menyebabkan kita tidak dapat
menikmati makna kehidupan. Ibarat pemain tennis atau
golf yang terlalu “attach”  dengan skor, maka mereka
tidak dapat menikmati inti kenikmatan permainan pada
saat saat “present” dalam melakukan sport tersebut,
melainkan “worry” terhadap skornya (“future”) ataupun
merasa tidak puas dengan skor yang di dapat . 
Sekarang telah banyak para eksekutif ataupun banyak
orang bahwa jika kita hidup hanya untuk hal hal
duniawi, tahta, harta, uang, (“Power and money”), maka
kehidupan kita tidak akan menjadi bahagia dan
bermakna. Orang mulai memikirkan untuk mendengarkan
jiwa dan kata hatinya, tidak hanya ingin uang, tapi
juga memiliki tujuan (“purpose”); berbagi dan berdarma
bakti kepada masyarakat sekitar dengan mengikuti kata
hati dan panggilan jiwanya.

Untuk mengecek apakah kita menjadi korban sebagai
“budak uang” paling mudah adalah dengan mengecek
tingkatan stress. Sebuah klinik di London yang bernama
“Stress Busters Clinic” memberikan kesaksian bahwa
banyak penyakit yang berhubungan dengan stress seperti
Insomia (susah tidur), tekanan darah tinggi , migren,
sakit lambung, menurunnya kekebalan tubuh adalah
penyakit yang diderita oleh banyak pasien terutama
yang kehidupannya tidak seimbang. Jadi apabila kita
sering mengalami penyakit tersebut, jangan jangan kita
sudah menjadi “budak uang” dan perlu di merdeka kan
dari perbudakan tersebut dengan hidup lebih seimbang,
mendengarkan kata hati dan memberi nutrisi jiwa kita.

Untuk lebih lengkap dapat dibaca pada buku: Piramida
Kebutuhan Jiwa

salam,
Goenardjoadi Goenawan
Managing Director
ESQCU Training & Consulting
Konsultan Rubrik Bisnis Tabloid Untung, panduan
wirausaha
http://swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=3195&pageNum=2

Miliki Buku-buku karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM.:
* Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani
* Mata Air Untuk Dahaga Jiwaku
* Pelangi Kehidupan Entrepreneur
* Memasarkan Dengan Hati (terbit 8 November 2006)
ditulis bersama Ir. Stefanus Indrayana, MBA.:
* Manajemen Berbasis Nurani (Terbit 15 Desember 2006)
* Piramida Kebutuhan Jiwa (terbit 20 January 2007) 
Penerbit: Elex Media Komputindo





Kirim email ke