http://budhiana.blogspot.com/  Kunci No 28     
  SUJAD, demikian nama lelaki itu. Sudah lima tahun dia bekerja di pabrik 
tekstil milik si Abah sebagai montir mesin. Setiap hari, mulai pukul delapan 
sampai pukul lima sore dia kerja berkeliling pabrik memeriksa mesin-mesin. 
Selalu saja ada baut mesin yang longgar, terutama baut nomor 28, pengunci as 
mesin. Karena itu, tangannya tak pernah lepas menggenggam kunci pas nomor 28 
itu. Setiap kali longgar, diputarnya bautnya itu dua kali.
Begitu dan begitu terus pekerjaannya selama lima tahun itu. Tidak pernah dia 
mengalami promosi atau pindah bagian. Maklum, menurut kaidah-kaidah manajemen 
modern, otaknya bukan otak manajerial yang bisa berpikir global strategis. Dia 
juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan teknis, suatu pekerjaan yang 
levelnya di bawah manajerial tetapi tetap memerlukan tingkat kecerdasan yang 
baik, seperti operator komputer. Nah, pekerjaan Sujad ini masuk ke dalam 
pekerjaan vocational. Jenis pekerjaan yang tidak memerlukan pemikian apa-apa. 
Pekerjaannya hanya itu dan itu saja.
  
Begitulah sosok Sujad, suami dari satu istri dan ayah dari dua anak ini harus 
selalu siaga di pabrik. Sebab, jika baut itu dia biarkan longgar, mesin akan 
macet dan produksi berhenti. Dia tidak boleh telat datang, dan dia paling akhir 
pulang. Jangan Tanya gajinya, cuma pas sesuai "U Em Er" alias upah minimum 
regional. Kalau dia absen, upah dipotong. Kalau dia sakit, manajemen tidak 
mengganti ongkos pengobatan.
Jadi, dia cuma menerima upah minimum. Minimum artinya cuma cukup untuk makan. 
Bisa makan artinya bisa memulihkan tenaga. Ada tenaga artinya bisa berkeliling 
mesin untuk memutar baut. Jadi orang sekelas Sujad  baru bisa memenuhi 
kebutuhan fisik minimum saja. Jangan berpikir soal rekreasi, atau menyekolahkan 
anak sampai perguruan tinggi.
Jangan pula tanya soal teori need of achievement. Teori itu mah milik si Abah, 
majikan sekaligus si empunya mesin. Dengan adanya mesin, kebutuhan minimal Abah 
sudah jauh terlampaui. Dia tidak melakukan pekerjaan manajerial, teknis, 
apalagi vocational. Si empu cuma ongkang-ongkang kaki, duit datang dengan 
sendirinya. Keuntungannya kumulatif dan membentuk deret ukur. 
   
  Karena itulah, Abah kini mulai menikmati hidup. Dia yang dulu mengagumi 
dangdut, kini sudah belajar memahami musik klasik. Rumahnya juga berisi 
lukisan-lukisan berbagai aliran. Pokoknya kini dia sudah memasuki tahap 
aktualisasi diri.
Keuntungan Abah kian hari kian besar. Keuntungan itu ditanamkan lagi jadi 
pabrik baru. Akhirnya keuntungan menciptakan keuntungan. Jarak harta antara 
Abah dan Sujad makin dan makin jauh. Orang kapitalis menyebutnya Abah berhasil 
melakukan efisiensi, tetapi orang sosialis menyebut Abah merampas nilai lebih 
si buruh karena mestinya dalam keuntungan yang membesar itu ada keringat buruh 
yang harus dibayarkan.

  Sebagai majikan, Abah ini memang tinggi hati. Kalau memarahi karyawan, 
mulutnya selalu nyerocos sambil tak pernah lepas menggigit rokoknya yang hampir 
jadi puntung itu. Hidungnya yang besar, bulat, dan pesek itu kembang-kempis. 
Matanya melotot. Lain dengan Sujad. Sebagai manusia, sebetulnya ada rasa bosan 
melakukan pekerjaan begitu-begitu saja. Modernisasi dan mekanisasi telah 
menyebabkan dia menjadi manusia otomaton, alias budak mesin dengan pekerjaan 
yang monoton. Dia menjadi manusia tanpa jiwa. Apa daya, dia tidak bisa jeda 
dari mengawasi mesin. Sedikit saja ngobrol dengan teman sekerja, sang majikan 
marah-marah. Ingin ngobrol dengan tetangga, keburu cape dan biasanya dia 
langsung tidur.
  
Mesin membentuk perilaku. Memasuki tahun ke enam, perilaku Sujad sudah mulai 
aneh. Kini kalau menemukan baut longgar, dia tidak langsung mengeratkannya 
sejauh dua putaran. Dia hantam dulu baut itu dengan perasaan kesal. Barulah 
kemudian dia eratkan.
Kalau pergi atau pulang, dia biasanya menyusuri gang kampung. Jika bertemu 
dengan pagar rumah orang yang ada bautnya, matanya mulai merah. Dipukulnya baut 
itu kemudian diputar dua putaran. Pernah juga dia bertengkar dengan tukang 
pengangkut sampah lingkungan RW. Soalnya, dia kedapatan memukul baut roda itu 
dengan kunci pas nomor 28 tanpa alasan jelas. Tentu saja, si tukang sampah 
marah-marah.
Di rumah, istri dan anaknya juga mulai cemas. Biasanya dulu, kalau dia marah, 
paling hanya membentak saja tanpa melakukan Ka De Er Te alias kekerasan dalam 
rumah tangga. Sekarang kalau marah, dia pukul istri atau anaknya itu. Setelah 
itu, dia jewer telinga atau hidung mereka dan diputarnya telinga itu dua 
putaran. Pokoknya, dunia ini menurut dia adalah dunia baut, baut dan baut. 
Tengok kanan ada baut, tengok kiri ada baut. Atas, bawah, depan, dan belakang 
ada baut dan baut...
  
Satu-satunya hiburan dia adalah bertandang ke rumah kakaknya di kampung 
sebelah. Kakaknya ini punya penggilingan gula tradisional. Alat gilingnya 
diputar dengan tenaga kerbau. Sejumlah batang tebu dimasukkan ke dalam tabung 
giling, kemudian si kerbau dipecut. Maka jalanlah dia berputar memutar tungkai 
penggiling. Sore hari, si kerbau itu diberi makanan rumput. Tenaganya memang 
besar karena itu produksi air tebu pun meningkat.

  Suatu hari, datanglah musim pertandingan piala dunia. Sebagai penggila bola, 
dia merasa harus nonton kendati pertandingan berlangsung tengah malam sampai 
dini hari. Dia sangat suka dengan cattenacio-nya Italia, samba Brasil, atau 
total football tim oranye Belanda. Jadi sepulang kerja jam lima, dia cepat 
pulang. Habis salat isa, dia cepat tidur. Pukul 00.00 tengah malam dia bangun 
dan memelototi kaca televisi. Dua pertandingan dia saksikan hingga subuh. Habis 
itu, dia tidak tidur, tetapi menunggu azan subuh. Setelah salat subuh, dia 
siap-siap harus berangkat ke pabrik.
Tak lupa kunci nomor 28 disandang di saku pahanya. Ada kalanya dia telat 
datang. Dan dari loteng, tampak si Abah dengan hidung besarnya tengah menahan 
marah. Batang rokoknya diputar-putar oleh gigi dan bibirnya yang hitam karena 
nikotin itu.
Karena sudah berhari-hari begadang, tentu saja tubuh Sujad yang kurang gizi itu 
lelah dan letih. Kerjanya jadi lambat. Belum selesai baut mesin satu dia 
eratkan, mesin dua sudah mulai bising pertanda bautnya longgar. Dikejarnya 
mesin tiga, mesin empat menjerit. Kalau mesin menjerit, si Abah pun berteriak.
"Mana itu si Sujad bego! Apa dia mau bikin mesinku hancur???"
Mendengar suara itu, dongkol rasanya Sujad. Tetapi dia tak berani melawan 
karena takut PHK.

  Suatu hari setelah melewati kelelahan yang sangat, dan bising mesin yang 
mengigit, Sujad melewati batas kelelahannya. Bel tanda makan siang berbunyi. 
Dia pun membuka makanan bekal dari rumah. Usai makan, masih ada sisa waktu 10 
menit untuk menikmati rokok kretek.
Duduklah dia di bawah pohon di pojok halaman pabrik. Digolekkannya teman setia 
dia, sang kunci nomor 28 di samping dia. Kemudian disulutnya rokok kretek dan 
diisapnya rokok itu sampai habis. Tapi angin semilir menghipnotis dia untuk 
tidur pulas di bawah pohon. Nah, saat tidur itu dia bermimpi sedang berada di 
teras kakaknya melihat sang kerbau menggiling tebu. Ditatapnya sang kerbau. 
Sujad tersenyum mengejek si kerbau.
"Hee.. kamu sudah melangkah jutaan langkah, tapi tak jua dia berpindah jauh 
dari situ," ujar Sujad terkekeh.
Ditatap seperti itu, sang kerbau tampak seperti gusar. Setiap putaran yang 
dekat dengan Sujad napasnya mendengus tanda marah. Semakin lama Sujad makin 
tertawa geli, setiap kali tertawa itu pula sang kerbau marah.

  Pada putaran kesekian, entah bagaimana si kerbau tiba-tiba lepas dan berlari 
menghampiri Sujad. Dihajarnya Sujad habis-habisan.
"Bangsat kau, kenapa kau menertawakan aku?" tanya si kerbau.
"Kau memang manusia. Tapi apa bedanya kau dengan aku haahh...??? Aku makan 
rumput supaya kuat, aku kuat dan bisa memutar tungkai. Kau makan supaya mesin 
bisa jalan, tapi kau pun tak ke mana-mana seperti aku," lanjut si kerbau.
"Ayo bangun buruh bego!!"

  Mendengar hinaan itu, menggelegaklah darah Sujad. Dia ambil kunci nomor 28 
dari sampingnya. Dipukulnya moncong kerbau itu, kemudian dijepitnya dengan 
kunci pas itu dan diputarnya moncong itu dua putaran.
"Sujaaaddd begooooo... Kau kupecat sekarang jugaa!"
"Astagfirullahal’adziieemm!??" Sujad sadar, ternyata yang dia putar bukan 
hidung si kerbau, tetapi hidung si Abah, yang memang ukurannya pas nomor 28. 
Sujad rupanya sudah terjaga dari mimpi, tapi dia masuk ke dalam mimpi buruk.***

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke