prihatin buat mas bambang wisudo
   
  kalo dirasa2 dan dimakna2 sebenarnya apapun yang  kita lakoni ya  ada 
resikonya
  sama halnya ketika kita menginginkan madu asli, kita berpikir bahwa madu asli 
satu2nya hanyalah dari sarang si lebah yang menggantung di atas sana
  padahal kalo dipikir2 dan dirasa2 madu asli dapat dibeli dimana saja
  di apotik, dagang jamu, dagang keliling, mal supermarket, pasar tradisional 
dan laennya
   
  tapi karena kita "ngotot" keaslian madu maka kita lupa merasa2, memakna2 dan 
memikir2 lebih jauh, jadilah kita tambur sarang si lebah...la apa ya engga 
berhamburan penuh kemarahan mereka semua dan menyengat sekujur tubuh ampe ke 
ubun2 hingga nyawa meregang... dead man!
   
  kalo saja, kita meminta dengan baik dan hati2 mungkin mereka ngga menyengat 
sebanyak itu...yah palingan sengatannya cuman satu dua yang kalo di malam hari 
masih bisa dielus2 sayang lalu taruhken bokashi di luka besok juga ilang
   
  yah..memang resiko jadi "pahlawan" ada2 aja baik buruknya, apalagi mo jadi 
yang ASLI
  kalo dirasa2 dimakna2 di pikir2...aku ya ngga pengen jadi pahlawan tuh
  apalagi mengemban hati nurani rakyat yg demikian banyak keinginan dan 
beratnya minta ampuuuun....
   
  hingga saat ini aku masih disini, jadi loper koran dan anak pante 
  bergumul dengan panas, air laut dan para bule yang telanjang dada
  hmmmm....
   
  salam prihatin buat mu mas bambang wisudo
  what can i do for you from Bali?
   
  fight for your idealism!!!
   
  beachboy
   
  

goenardjoadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Wisudo, artinya kamu itu diwisuda, dipercaya, diberi amanat. Amanat
itu adalah dari Rakyat, yaitu mengemban amanat hati nurani rakyat.

Wis itu artinya selesai, artinya juga menahan diri,

Semoga harapan ku, kamu itu bisa menjadi panglima hati nurani
rakyat, dengan banyak memikirkan pembacamu, masalah rakyat, termasuk
di Ambon itu.

Saya ini sudah tua, kalau mauku sih aku itu mancing ikan lele,
daripada ngurusi amanat hati nurani rakyat, yang toh kamu sudah lama
ikut tapi ora ngerti-ngerti. sampai diewer-ewer Satpam, lha
piye?

Kadang yang paling sulit itu mengerti menyadari kesalahan kita,
bukannya maju terus pantang mundur, dan menyuruh Pemimpin mu
mundur. Lha pemimpin redaksi mu itu sudah mengalami kejadian
seperti kamu itu bolak-balik, sudah berbuat kesalahan seperti kamu
bolak-balik, masak disuruh ngganti, dengan sepertimu, yang
masih belajar. Lha piye?

Aku itu sedih, Wis, kalau besok aku menghadap Yang Kuasa, aku
mengharapkan kamu bisa membalik hatimu, yaitu dengan memikirkan
Rakyatmu, termasuk yang di Ambon itu.

.........

(lampu mati)

salam renung,
Goenardjoadi Goenawan
pembaca Kompas

--- In [email protected], "chaos rules" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Catatan Aktivis Buruh Suratkabar Kompas
> 
> Oleh: P. Bambang Wisudo
> 
> Sejak saya disekap di pos satpam Kompas-Gramedia, Jumat (8/12) 
sore,
> praktis waktu saya habis untuk membaca dan menjawab pesan pendek 
(sms)
> dan telepon untuk menyatakan dukungan. Hari ini adalah hari ketujuh
> sejak peristiwa memalukan itu menimpa saya. Ratusan sms dan telepon
> masuk tiap hari. Belum lagi saya sempat membaca pesan melalui e-
mail.
> Padahal tidak mungkin lagi melihat e-mail yang masuk melalui alamat
> [EMAIL PROTECTED] yang telah diblokir sejak Jumat pagi ketika desas-desus
> pemecatan terhadap saya beredar.
> 
> Semua ini merupakan bukti bahwa kasus ini bukan kasus internal 
sebuah
> perusahaan, bukan sekedar kasus pemecatan semata-mata. Ratusan
> dukungan yang mengalir ini sekaligus membantah argumen yang dipakai
> pejabat Kompas untuk meminta solidaritas pemimpin media massa di
> Jakarta agar memblokir berita-berita manyangkus kasus ini. Kalaulah
> ini bukan kasus yang menyangkut urusan publik, menyangkut nilai 
yang
> penting dalam bermasyarakat, mana mungkin saya menerima simpati 
yang
> begitu besar. Siapalah saya? Saya bukan siapa-siapa. Mereka 
bersuara
> bukan karena saya seorang yang bernama Bambang tetapi karena 
peristiwa
> penistaan yang dilakukan sebuah institusi terhormat terhadap diri
> saya.
> ***
> 
> SAYA sadar betul bahwa sejumlah pemimpin Kompas sejak lama ingin
> menyingkirkan saya karena aktivitas saya sebagai pengurus serikat
> pekerja ataupun sebagai seorang wartawan sering usil menggugat 
sikap
> Kompas dalam pemberitaan. Sahabat-sahabar yunior saya di kantor 
sering
> mengatakan, saya punya banyak nyawa. Beberapa kali mau disingkirkan
> tetapi tetap bisa lolos, dan saya tidak kapok-kapok bersuara. 
Ternyata
> nyawa saya terbatas. Akhirnya saya dipecat.
> Sejak Kompas berdiri, baru sekali ini wartawan dipecat. Itupun 
setelah
> disekap di pos satpam selama dua jam, dipegang paksa atau dipiting,
> digotong-gotong dalam jarak seratus sampai dua ratus meter. Ketika
> saya berteriak-teriak, tidak ada menolong.
> 
> Saat saya menerima surat pemecatan, saat isteri saya menyampaikan
> surat penolakan pemecatan tiga hari kemudian, tidak ada kata
> permintaan maaf dari Kompas atas tindak kekerasan yang saya alami.
> Sampai hari ini.
> Yang dilakukan justru sebaliknya. Seluruh karyawan Kompas 
dikumpulkan,
> dibriefing oleh Pemimpin Redaksi Suryopratomo, dan disuruh
> mendengarkan bantahan Wakil Ketua Satpam Kariman Sinambela bahwa
> mereka tidak melakukan kekerasan. Pertemuan intern itu diberitakan
> oleh wartawan senior Robert Adhi KSP yang kredibilitasnya tidak
> diragukan ketika menjabat sebagai wakil kepala biro di Semarang,
> melalui Kompas Online. Berita itu jelas tidak berimbang, menyalahi
> kode etik, dan ketika saya berkali-kali menghubungi pimpinan Kompas
> untuk minta hak jawab, mereka mengabaikan. Lagi-lagi ini merupakan
> blunder yang dilakukan pimpinan Kompas. Mereka seharusnya tahu kode
> etik, tahu hak jawab, apalagi Pak Jakob selama bertahun-tahun 
selama
> pemerintahan Orde Baru pernah memimpin Dewan Pers. Saya akan segera
> mengadukan pelanggaran kode etik ini ke Dewan Pers.
> ***
> 
> MENGAPA para pejabat Kompas enggan menjelaskan langsung kepada 
publik
> terhadap peristiwa kekerasan dan pemecatan yang erat terkait dengan
> aktivitas saya sebagai pengurus serikat pekerja? Saya paham betul
> betapa mereka menghadap situasi yang dilematis. Suratkabar Kompas
> menjadi besar seperti sekarang karena berhasil membangun citra diri
> sebagai pengemban amanat hati nurani rakyat, sebagai pembela hak 
asasi
> manusia, dan pembela demokrasi. Kata hati, mata hati. Namun 
peristiwa
> yang menimpa diri saya telah memutarbalikkan citra yang dibangun
> selama ini. Ternyata institusi Kompas tidak lebih dan tidak kurang
> memperlakukan pekerjanya seperti buruh pabrik sandal jepit. Istilah
> sandal jepit pernah dipakai Pak Ojong, almarhum pendiri Kompas, 
untuk
> membedakan antara karakteristik pabrik dan perusahaan suratkabar.
> 
> Sampai hari ini saya belum merasa dipecat dari Kompas. Saya merasa
> seperti wartawan Kompas yang sedang mengambil cuti. Kalau saya kini
> berjuang, mengadukan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo ke 
polisi,
> mengungkapkan kasus-kasus yang terkait pembungkaman serikat 
pekerja di
> Kompas kepada publik, itu semua dalam rangka upaya saya 
memperjuangkan
> hak-hak saya dan untuk mendorong perubahan internal Kompas dari 
luar.
> 
> Saya pernah memimpikan Kompas. Banyak anak muda saat ini yang juga
> memimpikan bisa bekerja. Saya sama sekali tidak membenci Kompas. 
Akan
> tetapi saya tidak suka dengan tindakan sekelompok orang yang tengah
> melakukan pembusukan terhadap Kompas dari dalam, dengan menciptakan
> ketakutan di ruang redaksi dan dengan memberangus kritisisme di 
ruang
> redaksi. Pilar intelektualisme yang menjadi penyangga utama 
suratkabar
> ini telah lama dirobohkan, digantikan dengan tuntutan loyalitas 
buruh
> yang tidak merdeka.
> 
> Keputusan kini tinggal di tangan Pak Jakob. Apakah Pak Jakob 
sebagai
> Pemimpin Umum Kompas mau atau tidak menarik atau merevisi
> kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan manajemen Kompas, meminta
> maaf kepada publik atas kekerasan dan aksi pemberangusan terhadap
> kebebasan berserikat yang telah terjadi. Bila pilihan kedua yang
> dipilih, inilah kematian bagi Kompas. Sikap antiunion dan sikap
> antidemokrasi akan menjadi citra baru suratkabar yang pernah 
dihormati
> di negeri ini dan akan segera mengantarkannya ke liang kubur. Saya
> kira masih ada sedikit sisa waktu bagi Pak Jakob dan orang-orang
> kritis di dalam untuk menyelamatkan Kompas. (P Bambang Wisudo)
> 
> Penulis adalah Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas dan Ketua 
Divisi
> Etik dan Profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.
>



         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke