--- In [email protected], cah bodho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Berapa lamakah jarak waktu saat meninggalnya Nabi
> Muhammad dan saat pertama kali Quran muncul menjadi
> buku? siapakah yang bertanggungjawab melakukan
> kompilasinya? bagaimanakah proses kompilasinya?
> apakah kemudian terjadi pertanggungjawaban bersama
> atas semua kalimat yang terkompilasikan? ataukah hanya
> diserahkan kepada beberapa orang saja?
> Mohon pencerahan.. agar tidak terkesan Quran turun
> dari langit begitu saja...
> 

Di masa misi Muhammad, setiap orang yang mendengarkan wahyu Quran 
akan menuliskannya di daun dan pelepah kurama, kulit unta, tulang-
tulang binatang, dll. Muhammad sendiri memiliki seorang sekretaris 
pribadi yang menuliskan wahyu-wahyu quran sehubungan Muhammad 
memiliki kekurangan dalam hal baca tulis, namanya Salman AlFarisi, 
seorang petualang dan penulis Persia yang pandai dan berpengetahuan 
luas. Ketika Medina diserang oleh Mekkah, Salman AlFarisi 
menyelamatkan muslim dengan idenya menggali parit, katanya, "Istana-
istana Persia dikelilingi parit yang dalam. Setiap musuh yang 
menyerang harus menyebrangi parit-parit itu dan kami akan menghujani 
mereka dengan panah-panah dari atas. Pada akhirnya parit-parit kami 
menjadi tempat mayat-mayat musuh. Itu yang membuat kami kuat".

Ketika Muhammad meninggal, Khalifah Abu Bakar dilanjutkan khalifah 
Umar, khalifah kedua setelah Abu Bakar, mulai membukukan quran dengan 
mengumpulkan pelepah-pelepah kurma atau "nash" dari orang-orang 
termasuk tulisan-tulisan Al Farisi. Tapi ketika itu setiap orang di 
berbagai tempat membaca quran dengan dialek berbeda-beda tergantung 
tempat di mana dia berasal, karena bahasa Arab merupakan bahasa 
konsonan. Artinya, seperti bahasa Israel, setiap kosa kata bahasa 
Arab hanya terdiri dari konsonan-konsonan di mana vowel akan dibaca 
berbeda-beda di setiap tempat. Misal kata "mskn" (yang 
berarti "kasihan", "sial", "nasib buruk"), akan 
dibaca "miskin", "maskin", "masken", "miskun", dll, tergantung dialek 
lokal masing-masing.

Pada tahun 650-656, sekitar 20 tahun setelah kematian Muhammad, 
Khalifah Usman melanjutkan kerja tim pembukuan quran dan membuat 
standarisasi pembacaan quran. Dialek mengikuti dialek dan grammar 
orang-orang Baduy. Muhammad memang menggunakan dialek baduy setiap 
mengeluarkan wahyu, bahasa masa kecil Muhammad yang pernah hidup di 
antara orang-orang baduy dan dirawat oleh seorang wanita Baduy, 
Halima Sadiya. 

Tapi standarisasi ini menyulitkan orang Arab yang tidak berbahasa 
baduy dan belum pernah bertemu orang Baduy sehingga tidak mengenal 
pola bahasanya. Ini seperti orang Indonesia yang mencoba mengerti 
bahasa Malaysia yang walau bahasanya berasal dari akar yang sama 
dengan bahasa Indonesia, perkembangan keduanya bercabang cukup 
berbeda. Terlebih ketika Islam mulai dipeluk orang-orang non-Arab 
yang tak mengerti bahasa Arab sama sekali, tulisan Arab akan terasa 
sulit dibaca. 

Untuk memecahkan masalah tersebut, pada masa Ali bin abu thalib, 
khalifa ke-4, menurut saran Salman AlFarisi, dibuatlah kode-kode 
tanda baca. Tiga tanda baca itu adalah "fat'hah" untuk "a", "kasrah" 
untuk pengucapan "i" dan "domeh" untuk pengucapan "u" (dan memang 
dalam dialek baduy tidak terdapat pengucapan "e", "o", "ao", "ae" 
seperti pada dialek arabic lainnya). Dengan metode tersebut, orang-
orang Arab non Baduy serta orang-orang non-Arab bisa membaca quran 
dengan lebih mudah.

Seperti umat Yahudi terhadap Talmud, muslim percaya setiap kata di 
Quran merupakan kata-kata suci yang benar-benar tepat kata-perkata 
merupakan ucapan Tuhan. Ini berbeda sekali dengan penghayatan seorang 
Kristiani ketika membaca perjanjian baru. Itu sebabnya tidak seperti 
pada Alkitab, tidak muncul ilmu kritisi quran. Kritisi hanya 
diizinkan pada Hadits, otoritas hukum kedua setelah Quran, yang 
dianggap bukan merupakan kata-kata Tuhan, melainkan kata-kata 
Muhammad sendiri. 


> --- Budi P <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Artinya adalah
> > Muhammad bukan pembuat Al-Qur'an (seperti yang
> > sering dilontarkan oleh para
> > pembenci Islam) dan Muhammad hanya menerima dan
> > menyampaikan apa yang
> > diwahyukan Allah kepadanya.
> > 
> > On 12/21/06, Nasrullah Idris
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > >    Yang penting  perlu dipahami :
> > >
> > >      Dalam Al-Qur'an, Nabi Isa AS disebut jauh
> > lebih banyak ketimbang Nabi
> > > Muhammad SAW.
> > >      Dalam Al-Qur'an terdapat surat Maryam (Ibunda
> > Nabi Isa AS). Sedangkan
> > > surat Aminah (Ibunda Nabi Muhammad SAW) tidak ada.
> > >
> > >      Apa arti semua ini ?
> > >
> > > Salam,
> > >
> > > Nasrullah Idris
> > >
> > >  
> > >
> > 
> 
> 
> Benny D Setianto 
> 
> Permata Semeru B 19B 
> SEMARANG 50234 
> INDONESIA
> 
> 
> 
> 
>  
> 
______________________________________________________________________
______________
> Cheap talk?
> Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
> http://voice.yahoo.com
>


Kirim email ke