Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 25 Desember 2006
-----------------------
MARI BERSYUKUR !
TOLERANSI MENGKHAYATI UMMAT ISLAM
Berkahnya Hari Natal! 
Silakan baca berita terlampir di bawah ini, berjudul: 
ORMAS ISLAM BANTU AMANKAN GEREJA,
Berita tsb dapat dibaca di s.k. Kompas <Minggu, 23 Des) dan media
internet. Sungguh terasa nyaman dan lega. Karena meniupkan angin sejuk
toleransi dan hasrat damai ummat Islam terhadap ummat Nasrani. Suara
hati nurani yang merdu, manusiawi dan indah ini, jauh mengungguli
teriakan-teriakan bising kaum fundamentalis. 
Suara-suara sumbang yang dimaksudkan itu, adalah suara dari
mereka-mereka yang meniupkan angin sakal, menghasut serta merekayasa
pertentangan sampai ke konflik kekerasan antara penganut Islam dan
Kristen. 
Mereka-mereka itu seakan-akan hendak menghidupkan kembali nafsu jahat
dan kegarangan semangat dan politik yang menjiwai para pencetus dan
penganjur Perang Salib, lebih seribu tahun yang lalu. Suatu peperangan
yang sesungguhnya bukan perang agama, tetapi peperangan demi merebut
pengaruh politik, kekuasaan dan wilayah dengan jubah agama. 
Di lain fihak, suara-suara sumbang tsb diilhami oleh aliran 
fundamentalis religius yang menyalahgunakan Islam untuk menyulut
aksi-aksi teroris sampai ke pemboman terhadap Manhattan Twin Towers di
New York, Bom Bali dll, yang menimbulkan demikian banyak korban di
kalangan pemeluk agama Nasrani maupun Islam.
Beberapa hari yang lalu dalam ruangan ini ditulis tentang betapa
keharmonisan Hari Natalan diperingati dan dirayakan di kalangan
sebagian dari penduduk Amsterdam Bijlmer, di sebuah cafe Buurthuis 
Hofgeest. Baiklah dijelaskan bahwa pemrakarsa Hari Natalan tsb  timbul
dari para penganut agama Nasrani. Ambil bagian didalamnya pelbagai
pengikut agama lainnya, seperti Islam, Hindu, Budha dan  . . . . . ada
juga yang penganut Atheis. Atheisme bukan aliran agama, tetapi ia
suatu macam aliran keyakinan yang tidak memusuhi aliran-aliran
keyakinan lainnya, namun tidak percaya adanya Tuhan dan dewa-dewa
lainnya, pencipta alam semesta.
Itulah  salah satu segi masyrakat yang toleran. Pelbagai pemeluk
keyakinan agama dan yang tidak beragama (atheis) tetapi bisa berkumpul
bersama dalam semangat keharmonisan dan kedamaian dari suatu masyrakat
yang toleran. 
Di Belanda terdapat juga kaum fundamentalis agama. Namun, untuk
melakukan ibadah suatu keyakinan agama tertentu, tidak diperlukan
mendirikan posko atau petugas keamanan khusus. Bukan berarti tidak
pernah terjadi bahwa sementara mesjid, pekuburan atau tempat berkumpul
Islam atau Yahudi mengalami pengrusakan atau pembakaran. Bahkan pernah
terjadi pembunuhan. Tetapi, peristiwa tsb hanyalah sebagai kasus
insidentil. 
Yang penting disini, ialah, bahwa segera yang berwewenang, pemerintah
setempat,  bertindak, mengusut kasus teror tsb, kemudian mengambil
tindakan hukum sesuai undang-undang yang berlaku. Dari manapun
datangnya, mereka-mereka yang memusuhi agama tertentu  dikritik oleh
kalangan masyarat yang luas.
* * * 
Angin segar dari kalangan ormas Islam Indonesia, seperti yang  kita
baca, semoga bertiup terus dan semakin kuat adanya. Mengilhami dan
menyebarluaskan semangat toleran yang sesuai dengan falsafah negara
Pancasila.
Bolehkah di sini diajukan pertanyaan. 
Di saat ketika masalah-masalah yang begin penting ini mucnul, dimana
prakarsa dan kepedulian timbul dari kalangan masyarakat; . . . .
kebijakan apakah yang diambil oleh Kementerian Agama RI? Apa
peranannya dalam menyebarluaskan dan mengokohkan semangat dan jiwa
toleransi, kebersamaan dan kedamaian dikalangan rakyat yang berbagai
macam agama dan keyakinannya?
* * *
LAMPIRAN:
Ormas Islam Bantu Amankan Gereja POSKO DIDIRIKAN DI DAERAH KONFLIK 
JAKARTA, KOMPAS (25 Des 2006)- Organisasi massa Islam, seperti Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah, Banser Nahdlatul Ulama, dan Forum Betawi
Rempug, siap berpartisipasi dalam pengamanan Natal di gereja-gereja.
Bentuk kesiapan antara lain dengan mendirikan pos komando di daerah
rawan konflik. 
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
Amirudin, Sabtu (23/12) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah,
mengungkapkan kesiapan IMM untuk membentuk pos komando (posko)
pengamanan dan pengaduan di sekitar gereja. Posko itu dibentuk tidak
hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah-daerah yang tingkat kerawanan
konfliknya tinggi, seperti Maluku, Palu, dan Kupang. 
"Saya sudah menginstruksikan semua pengurus daerah dan cabang di
seluruh Indonesia agar berkoordinasi dengan aparat keamanan dalam
membantu pengamanan malam Natal. Pengamanan akan dilakukan selama 10
hari, mulai dari tanggal 24 Desember 2006," katanya. 
Khusus untuk pengamanan Natal di DKI Jakarta, IMM menjalin kerja sama
dengan elemen mahasiswa lainnya, seperti Kesatuan Mahasiswa Hindu
Dharma Indonesia (KMHDI), Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia
(Hikmahbudhi), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). 
Elemen mahasiswa ini tergabung dalam Forum Kemahasiswaan Lintas Agama.
Amirudin mengatakan, khusus untuk pengamanan Natal di DKI Jakarta
tidak dibentuk posko. "Sifatnya hanya memantau, tapi kami juga siaga
24 jam," katanya. 
Pemimpin Pusat Forum Betawi Rempug (FBR) KH Fadloli El Muhir mengaku
telah menghubungi anggota-anggota FBR yang tersebar di berbagai tempat
untuk ikut mengamankan perayaan Natal di gereja-gereja di Jakarta.
Bantuan pengamanan ini selain berdasarkan permintaan pihak gereja,
juga atas inisiatif FBR. 
Sampai saat ini, kata Fadloli, sudah ada 15 permintaan dari
gereja-gereja, antara lain gereja di daerah Kebun Jeruk, Depok,
Tangerang, dan Bekasi. Pengamanan oleh FBR ini berlangsung selama dua
hari, mulai tanggal 24 Desember 2006. 
Sementara itu, tawaran Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) untuk
ikut mengamankan Natal di Gereja Paulus malah ditolak. Panitia
Perayaan Natal Gereja Paulus di Jalan Diponegoro menolak karena gereja
sudah diamankan oleh Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya.
Apalagi, kepolisian juga sudah memasang detektor logam di pagar gereja. 
Ketua I Pelaksana Harian Majelis Jemaat Gereja Protestan Indonesia
Bagian Barat (GPIB) Immanuel mengatakan, selain akan diamankan 200
polisi, Banser Nahdlatul Ulama dan FBR juga membantu pengamanan dalam
rangka Natal. 
Sementara GPIB Bukit Moria, Pancoran, menyeleksi terlebih dahulu
setiap tawaran bantuan pengamanan dari ormas maupun partai politik.
Meskipun menerima bantuan dengan tangan terbuka, pihak gereja enggan
ditunggangi kepentingan politik. (AB1/AB4/AB7/AB8) 

*   *   *

Kirim email ke