http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=100608
Partai Rajutan Mimpi Wiranto Aula Jakarta Media Center, Jumat malam lalu, dipenuhi lebih dari 200 orang berjaket kuning kecokelatan. Sejumlah tokoh politik seperti Fuad Bawazir dan Samuel Koto, keduanya mantan pengurus Partai Amanat Nasional, ikut hadir. Ada juga Tuty Alawiyah dan Elsa Syarif, mantan pengurus Partai Golkar. Mereka semua duduk di deretan kursi terdepan. Sekitar pukul 20.00 WIB, Jenderal TNI (purnawirawan) Wiranto, yang juga mengenakan jaket kuning kecokelatan, memasuki ruang pertemuan di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Sejumlah tamu memberi salam. Lima menit kemudian, Wiranto sudah berada di depan podium. Acara utamanya adalah pengukuhan Tim Advokasi Perhimpunan Kebangsaan atau disingkat Tapak Indonesia. Tapak Indonesia adalah kumpulan para pengacara yang berada di bawah naungan Perhimpunan Kebangsaan, yaitu organisasi massa yang didirikan Wiranto pada September tahun lalu. Di organisasi ini, Wiranto menjabat sebagai ketua dewan pertimbangan nasional. "Kalau sekarang telah beredar isu bahwa Perhimpunan Kebangsaan akan melahirkan sebuah gerakan politik baru, itu benar adanya," kata mantan Panglima TNI itu dalam orasinya. Wiranto melanjutkan ucapannya, "Mungkin ada cercaan, cemooh, mungkin ada yang menganggap enteng. Tapi itu bukan sebuah hambatan untuk mundur." Pernyataan mantan calon presiden dalam Pemilu 2004 itu sepertinya ingin menjawab rumor yang sudah lama beredar bahwa ia akan membentuk partai politik baru. Kabarnya, partai tersebut digunakan Menko Polkam di era Presiden Gus Dur itu untuk kendaraan politik menuju RI-1, sebutan untuk jabatan Presiden Indonesia. Usai Wiranto berpidato, Gatra mencoba meminta komentar dia lebih jauh tentang partai yang akan dibentuknya. Sayang, jawaban yang diperoleh tidak memuaskan. "Saya belum mau bicara tentang partai," ucap Wiranto sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Ini mungkin pertanda bahwa jenderal yang gemar menyanyi itu enggan ditanya soal partai. Untunglah, informasi bisa diperoleh dari Jus Usman Sumanegara, anggota tim perumus partai bentukan Wiranto itu. "Benar, Kamis nanti (21 Desember) akan dideklarasikan Partai Hati Nurani Rakyat. Ketua umunya Pak Wiranto," Jus Usman membeberkan tentang partai yang namanya disingkat Hanura ini. Hanura menggunakan lambang anak panah warna merah. Arahnya menghadap ke kanan. "Arah ke kanan menunjukkan, partai akan membimbing negara dan bangsa ini ke arah perbaikan," praktisi di bisnis asuransi itu menjelaskan. Jus Usman mengatakan, Hanura nanti akan digunakan untuk kendaraan politik Wiranto dalam pemilihan presiden yang rencananya berlangsung pada 2009. "Wiranto adalah sosok yang sangat populer," katanya. Kepopuleran inilah yang meyakinkan pengikut Hanura bahwa partai akan meraih suara besar dalam pemilu. Apalagi, Jus Usman mengklaim, sejumlah mantan pejabat dan tokoh masyarakat, termasuk dari kader Golkar, akan bergabung dengan partai yang mengusung moto bekerja untuk keunggulan bangsa ini. Pengamat politik Maswadi Rauf menilai pendirian partai politik ibarat merajut mimpi. Ada mimpi yang terwujud. Tapi terkadang ada pula mimpi yang berakhir buruk. Semuanya serba tak terduga. Ia pun mencontohkan Partai Demokrat sebagai partai yang berhasil merajut mimpi. Partai yang baru pertama kali mengikuti Pemilu 2004 ini ternyata mampu mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden. Sebaliknya, Partai Perhimpunan Indonesia Baru yang didirikan ekonom terkenal Dr. Sjahrir gagal mewujudkan mimpi. "Dalam demokrasi, siapa saja boleh membentuk partai politik. Soal kalah atau menang, itu risiko yang harus ditanggung," kata guru besar ilmu politik dari Universitas Indonesia itu. Setiap pembentukan partai, Maswadi melanjutkan, selalu berorientasi pada kekuasaan memperoleh jabatan di legislatif, seperti di DPR dan DPRD. Ataupun jabatan di eksekutif mulai dari bupati hingga presiden. Dan itu bukanlah sebuah kejahatan. "Kalau memang tujuan Wiranto membentuk partai ingin mencalonkan dirinya sebagai calon presiden, itu hak politiknya sebagai warga negara," ujar pria kelahiran Teluk Kuantan, Riau, itu. Kalau ternyata partainya tidak mampu memperoleh suara yang signifikan, tentu ia akan gigit jari. "Tapi, kalau berhasil meraup suara besar, sah-sah saja jika nanti Wiranto maju kembali dalam bursa calon presiden," ia menambahkan. Ditanya kenapa Wiranto memutuskan membentuk partai baru dan bukan bergabung saja ke partai besar, seperti Golkar, Maswadi mengaku bisa memahami keputusan itu. Menurut dia, jika masuk partai besar, Wiranto hanya akan menjadi anak buah. Tapi, kalau mendirikan partai sendiri, ia akan jadi ketua umumnya. Itu artinya, ia menjadi bos. "Wajar, semua orang tidak ingin jadi anak buah," kata penulis sejumlah buku yang memuat teori ilmu politik itu. Sementara itu, Partai Golkar, institusi politik tempat Wiranto pernah diusung menjadi kandidat calon presiden 2004, mengaku tidak khawatir alumnus Akmil 1968 itu akan menggembosi partai yang identik dengan warna kuningnya ini. Menurut Wakil Sekjen Golkar, Rully Chaerul Azwar, Golkar sudah cukup berpengalaman menjaga keutuhan partai. Buktinya, meski sudah cukup banyak mantan kader Golkar lompat pagar ke partai lain, partai yang memilih menggunakan lambang pohon beringin ini tetap solid. "Silakan saja jika ada kader Golkar yang ikut gabung partainya Wiranto. Tapi keanggotaannya di Golkar harus dilepas," kata anggota DPR dari daerah pemilihan Bengkulu itu. Sujud Dwi Pratisto dan Rach Alida Bahawares [Nasional, Gatra Nomor 6 Beredar Kamis, 21 Desember 2006]
