http://www.suarapembaruan.com/News/2006/12/26/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Nelayan Galilea, Qua Vadis Galala?
Victor PH Nikijuluw 

 

Sungguh berbeda nasib nelayan Galilea dan Galala. Kebijakan pembangunan serta 
kepandaian pemerintah mengelola potensi membuat nyata perbedaan itu. 

Nelayan Galilea ikut menentukan sejarah dunia. Hal itu terjadi sejak abad 
pertama ketika Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes beralih dari penjala ikan 
(fisherman) menjadi penjala manusia (fisher of man). Mereka berubah dari 
nelayan menjadi pelayan. Sejarah mungkin akan lain bila tidak ada muallaf para 
nelayan Galilela itu. 

Begitupun juga nelayan Galala. Mereka berperan dalam sejarah perikanan 
Indonesia. Namun karena realita pembangunan, nelayan Galala kini hidup merana, 
dicampakan dan dilupakan. Mereka tak mampu mendeterminasi, tetapi sebaliknya 
sangat dideterminasi oleh turbelensi sosial ekonomi. Beginilah kisah mereka. 


Galilea, Dulu dan Kini 

Danau Galilea adalah salah satu sumber catatan sejarah perikanan dunia. 
Letaknya di Lembah Yordan, Israel, di antara Dataran Tinggi Golan dan 
perbukitan Tiberias. Nama lainnya, adalah Sea of Tiberias, Sea of Gennesaret, 
atau Yam Kinneret dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Arab, disebut Buhairet 
Tabariyya yang artinya Lake Tiberias. 

Galilea berukuran 166 km persegi dengan keliling 53 km pada 209 meter di bawah 
permukaan laut. Karena itu Galilea adalah danau air tawar yang terendah 
letaknya di dunia. 

Sumber airnya dari mata air bawah tanah dan sebagian kecil dari sungai Yordan 
yang masuk ke Galilea dari bagian utara. 

Kini Galilea adalah sumber air minum bagi kota Yerusalem, Tel Aviv, Haifa, kota 
Israel lainnya, dan Tepi Barat (West Bank). Berdasarkan perjanjian perdamaian 
kedua negara, Galilea juga memasok sumber air minum bagi Yordania. Untuk 
menjaga kestabilan suplai air minum tersebut, aliran air danau ke sungai Yordan 
yang menuju ke laut mati dihentikan. 

Lembah Galilea memang indah, memaksa sejarahwan abad pertama, Flavius Josephus, 
begitu terkesan dengannya dan menyebut daerah ini "ambition of nature". Tentang 
keindahan Laut Galilea, para rabi di zaman Yunani mengatakan bahwa Tuhan memang 
menciptakan tujuh samudera, tetapi Sea of Galilea adalah kesukaan-Nya. 

Josephus juga mencatat bahwa industri perikanan abad pertama sangat bergairah 
di Galilea dengan 230 perahu yang menangkap ikan secara reguler. Diduga, danau 
ini memiliki setidaknya 40 jenis ikan. Jenis ikan gray mullet (belanak), carp 
(ika mas), perch, dan tilapia mendominasi perikanan Galilea. Tidak ada jenis 
ikan pemangsa dan buas di Galilea. Orang dapat aman berenang di laut ini. 

Ikan tilapia dikenal luas saat ini di Galilea dan bahkan seluruh Israel dengan 
nama St Peter's Fish. Di sepanjang pesisir Israel, di antara Tel Aviv dan 
Haifa, terdapat beberapa perusahaan perikanan yang membudidayakan dan menjual 
St Peter's Fish. Dipercaya, tilapia adalah ikan yang dari mulutnya Petrus 
menemukan shekel untuk membayar pajak atas nama dirinya dan Yesus. 

Dua ekor St Peter's Fish, bersama lima potong roti, juga dipercaya digunakan 
Yesus untuk secara mujizat memberi makan lebih dari 5.000 orang di bukit 
Tabgha, pesisir barat Galilea. 

Demikian juga jenis ikan ini yang ditangkap Petrus dalam jumlah banyak setelah 
frustasi semalaman melaut tanpa menghasilkan apa-apa. Cerita-cerita ini 
menginsipirasi orang Galilea untuk menamai ikan ini St Peter's Fish. 

Di bagian utara Galilea, terdapat kota nelayan kuno yang bernama Kapernaum, 
atau the Town of Jesus, seperti yang tertulis di pintu gerbang kota itu. Di 
pantai Kapernaum inilah, Petrus dan kawan-kawan meninggalkan perahu dan pukat 
mereka lalu mengikuti Yesus sebagai muridnya. 

Kota tua itu hanya tinggal puing-puing, sebuah gereja yang masih digunakan, 
serta patung Petrus yang menjadi objek wisata ziarah. Petrus dan Andreas memang 
berasal dari kota ini. 

Meskipun Galilea abad 21 jauh lebih semarak dan ramai ketimbang situasi abad 
pertama, penangkapan ikan tilapia di Galilea saat ini sudah jauh berkurang, 
kalau tidak dikatakan hampir punah. 

Seakan-akan alih profesi nelayan merupakan pola yang terus berlangsung hingga 
kini. 

Menjadi nelayan bukan lagi merupakan pilihan bagi banyak penduduk Galilea masa 
kini. Ada banyak alternatif pekerjaan lain yang tersedia, sejak daerah ini 
sepanjang tahun menjadi tujuan ziarah agama. Desember-Januari merupakan puncak 
kunjungan wisata di Galilea. 

Di tepi barat danau ini, terhampar daerah pertanian yang subur yang 
menghasilkan pisang, zaitun, dan anggur. Sejak tahun 1909, pionir Yahudi 
membangun Koperasi Pertanian Desa (kibbutz) yang menjadi titik awal 
perkembangan pertanian di sepanjang pantai Galilea. 

Kibbuts Degania berada di kota Tiberias, kota terbesar dan terutama di Galilea. 
Kibbutz Kinneret berada di selatan danau yang kini merupakan tempat peziarah 
menjalani ritual baptisan. 

Karena perekonomian Galilea berkembang maka tipikal perahu nelayan Petrus yang 
banyak ada saat ini, tidak lagi digunakan untuk menjaring ikan tetapi menjaring 
wisatawan. Di pelabuhan Tiberias, perahu-perahu itu berpangkalan guna melayani 
wisatawan menikmati keindahan Galilea. The boat of Jesus adalah nama komersial 
untuk perahu-perahu itu. 

Kendati aktivitas penangkapan St Peter's Fish untuk tujuan komersial sudah 
terbatas dilakukan di Galilea, namun Lembah Galilea dengan lebih dari 50,000 
hektar kolamnya adalah tetap sumber utama produksi ikan tersebut saat ini. 
Israel mengekspor tilapia dalam jumlah signifikan ke Eropa dan Amerika. 

Di Ginnosar, kira-kira 15 km ke arah utara Kota Tiberias, terdapat Laboratorium 
Perikanan di bawah Oceanographic and Limnological Research Ltd (OLRL) yang 
merupakan penghasil utama benih tilapia. Namun demikian, benih yang secara 
alamiah ditangkap dari Danau Galilea adalah yang terbaik. Penduduk Israel dan 
wisatawan juga menilai bahwa tilapia dari Galilea adalah yang terlezat. 

Karena itu pula, maka banyak Yahudi Israel dan Arab Israel yang mengunjungi 
Galilea di antaranya untuk secara bersama dengan rukun, menikmati kelezatan 
menu St Peter's Fish. Restoran yang dimiliki Kibbutz Ein Gev di panti timur 
adalah yang paling ramai dikunjungi. Di pantai utara terdapat restoran Nof 
Kineret (Kinneret View), Cafe Hayam Eli (Eli's Cafe on the Sea), dan Galei Gil 
(Waves of Joy) yang menawarkan menu St Peter's Fish dengan harga relatif murah. 

Namun Promenade, restoran yang terletak persis di pantai Kota Tiberias adalah 
yang paling nyaman suasananya. 

Setelah melakukan ziarah di siang hari, wisatawan biasanya menikmati udara 
sejuk Timur Tengah di pelataran Restoran Promenade. 

Angin bulan Desember yang bertiup dari utara, menyusuri Lembah Yordan membuat 
uda-ra Galilea lebih dingin. Namun barbeque St Peter's Fish deng- an French 
Fries dan saus minyak zaitun (olive oil) membuat su- asana yang dingin menjadi 
hangat. 

Dari pelataran Promenade, ke arah danau dengan mudah terlihat the boat of Jesus 
masih berlayar. Persis di samping Promenade, ada gang kecil menuju St Peter's 
Chapel. Tidak jauh situ, sekelompok anak muda melantunkan lagu Long time ago in 
Bethlehem. So the Holly Bible says. Marry's Boy Child Jesus Christ was born on 
Christmas day. 


Galala, Qua Vadis. 

Lain Galilea, lain Galala. Yang terakhir ini adalah desa nelayan di pesisir 
Teluk Ambon. Di zaman Belanda dan Jepang, desa ini adalah pusat industri 
perikanan Maluku. Nelayan Galala adalah yang pertama di Indonesia mengetahui 
cara memancing ikan tuna dengan menggunakan huhate (pole and line). Nenek 
moyang orang Galala adalah nelayan tangguh. Dari Galala tahun 1927, teknologi 
huhate menyebar ke seluruh In- donesia. 

Di zaman Orde Baru, tahun 1967, didirikan sebuah perusahaan BUMN perikanan di 
Galala. Dari sini. ekspor tuna dan cakalang marak ke Jepang. Di sekitar 
perusahaan, industri perikanan rakyat berkembang. 

Perempuan nelayan membuat cakalang asap untuk konsumsi lokal dan dikirim ke 
luar Ambon. Anak nelayan bisa sekolah dan banyak yang menjadi pelaku perikanan 
modern setelah lulus dari Universitas Pattimura, yang letaknya persis di 
seberang Desa Galala. 

Tetapi di zaman reformasi dan demokrasi ini, kehebatan nelayan Galala tinggal 
kenangan. Entah alasan apa, perusahaan BUMN itu tak lagi beroperasi. Gedung 
perusahaan tinggal puing-puing. 

Nelayan, karyawan, dan keluarganya hidup kocar-kacir. Sudah empat tahun mereka 
tidak digaji perusahaan. Pesangon tidak ada. Perempuan nelayan berhenti 
mengolah ikan. Anak nelayan putus sekolah. Tak ada alternatif untuk alih 
profesi. Mereka terperangkap dalam kemiskinan. Kapan ini berakhir? 

Di bulan Desember 2006, ketika semarak pernik Natal melanda Kota Ambon, nelayan 
Galala tetap sepi, sunyi, senyap dalam keprihatinan Tepat di seberang jalan 
gedung perusahaan yang bangkrut itu, ada Gereja GPM Imannuel, tempat warga desa 
nelayan Galala beribadah. 

Di sebuah rumah sederhana di samping gereja tersebut, Vocal Group pemuda 
latihan menyambut Natal. Mereka melantunkan sebuah lagu Gospel Negro Amerika, 
We shall overcome. We shall overcome. O deep in my heart, I do believe, We 
shall overcome somedays. Doa tulus keluarga nelayan. Selamat Natal. 


Penulis adalah 

PhD in Resource Economics 

Pernah Survei Perikanan 

di Galilea 


Danau Galilea adalah salah satu sumber catatan sejarah 
perikanan dunia. Letaknya di Lembah Yordan, Israel, 

di antara Dataran Tinggi Golan dan perbukitan Tiberias. 

Nama lainnya, adalah "Sea of Tiberias", "Sea of Gennesaret", 

atau "Yam Kinneret" dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Arab, 

disebut "Buhairet Tabariyya" yang artinya "Lake Tiberias".



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 26/12/06 

Attachment: victorni.gif
Description: GIF image

Kirim email ke