Pemandangan yg trenyuh seperti ini tak bisa kita hindari, telah marak menjadi
hiasan negri sejak Bung Karno berkuasa, gelandangan seperti hewan nista dengan
nasib hidup yg compang camping seperti nasib pakaian nya.
Inikah pemandangan yg lazim didalam kehidupan negara ketiga? lalu akan makan
waktu berapa lama utk pemerintah menata kesejahteraan rakyatnya yg tak berdaya
ini? 60 tahun ? 100 tahun? apa fungsi para menteri dan wakil2 rakyat di setiap
kota ? berapa lama mereka bisa menyelesaikan masalah ini ? 60 tahun ? 100 tahun
? apakah gajih buta yg mereka terima tidak bisa menerangi hati nuraninya utk
menunaikan tugas mengayomi rakyatnya? ataukah pemandangan yg tak manusiawi ini
memang sudah semestinya berlangsung hingga Indonesia merata dengan tanah?
Mengkritik pemerintah memang pekerjaan paling mudah, apalagi pemerintah yg
tidak perduli sama sekali, kita sebagai rakyat yg berhati nurani hrs dipaksakan
menyaksikan penindasan dan pelecehan seperti ini setiap hari, kita menjadi
lelah karena menahan kesedihan dan kemarahan, mengangkat kemiskinan bangsa
indonesia bukan pekerjaan yg mudah, mereka bukan saja membutuhkan makanan dan
pakaian, mereka juga mmebutuhkan pendidikan untuk bisa hidup diatas kakinya
sendiri, lalu bila pintu gerbang pendidikan pun sulit di masuki, bukan saja
saudara2 kita lapar dan menahan sakit tubuh dan jiwanya, mereka juga merasa
menderita karena tak mampu menolong dirinya sendiri.
Begitu sulitkan mengetuk hati nurani manusia?
sesuatu yg perlu direnungi oleh semua bangsa yg beradab.
salam' O
heri latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
BAHAYA KEMISKINAN!
kulihat pengemis di emperan halte bus pasar senen, rambutnya berarakan
bergaya rasta tak pernah dikramas shampo sinyongnyong, mulutnya berbusa,
celananya bolong persis di bokong, menampakkan pantatnya yg buduk kudisan,
inilah indonesia jaman edan.
dan manusia lalu lalang tak peduli, siang itu panasnya luar biasa bah, sang
pengemis terpanggang matahari, bau badanya menusuk hidung yang berbudaya,
yakinkah kita pada ketidakadilan? agama apa pun juga tak akan mentoleransi
kemiskinan, lalu jika aku bicara soal penindasan, kau menjerit "bahaya
komunisme?"
kubaca postingan di milis tercinta, tak kusangka ada juga manusia kardus yang
dengan gagahnya bicara soal agama tapi menepis kenyataan di depan matanya,
kemiskinan di negeriku sudah mencapai titik didih, para preman bayaran turun ke
jalan beraksi anti ini-itu tapi tak bisa melihat raksasa kebodohan yang
memproduksi absulutisme kemiskinan.
siapa yang berani menyuarakan hati nurani ra'yat kecil tertindas yang
terpinggirkan? merekakah yang disebut para pejuang kemanusiaan? atau kita
percaya pada revolusi diri sendiri, merobah nasib mulai dari nurani sendiri,
bukan kerna bujukan rayuan ide sorganeraka.
salam, heri latief
amsterdam, 31/12/2006