Kalau ada pelacuran, yg selalu disalahkan bahkan dianggap 'pendosa'
adalah perempuan pelacur, bukan laki2 yg cari pelacur atau pemerintah
yg tak mampu memberikan alernatif2 lebih baik daripada menjadi
pelacur. Sampai presiden pun disindir Ketua MPR sebagai presiden yg
tak pernah mengutuk pemesuman (90% kemungkinan: pak Ketua MPR
bermaksud mengatakan 'pres shrnya mengutuk perempuan2 pelacur').

Kalau lagi jalan sendirian, dicolek laki2, malas lapor ke kantor
polisi yg mungkin cuma sekian meter dari TKP pencolekan. Soalnya
kuatir, habis lapor para anggota polisi malah ketawa2 begitu baca isi
laporannya. Seumur-umur hidup, saya belum pernah ada catatan kasus
laporan pencolekan yg sering terjadi di jalan bahkan di sekolah2 dan
di kampus2. Yg kadang2 saya lihat, si perempuan sering harus 'main
hakim' sendiri melabrak si laki2 yg tetap aja cengar-cengir tanpa rasa
bersalah.

Kalau suami kawin lagi dan si isteri ingin cerai, susah minta
tunjangan hidup yg memadai dari bekas suami, apalagi lewat pengadilan
agama *). Terpaksalah, demi kehidupan anak2 dan demi diri sendiri,
kadang2 atau seringkali beberapa istri harus bermanis2 muka atau
memaksakan diri tersenyum di depan kerabat atau orang2 asing
(wartawan) ketika berkata "Saya rela kok dimadu".

What a male-dominant world we live.

Salam

*) Jadi harap maklum jika Hafsah Salim dendam membuta 7 turunan thd
orang2 muslim yg pernah merampas 'ber-karung2' harta suaminya dari
tangannya lewat pengadilan agama Islam. FYI, selain cinta buta, ada
juga benci buta.

Kirim email ke