--- charles siahaan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Sepertinya Anda merupakan bagian dari kelompok yang
mendulang keuntungan dari Porwanas? Mungkin Anda
panitia Porwanas di Kaltim? Kalau benar, saya yakin
akan banyak keuntungan finansial yang akan Anda raub
dari kegiatan tersebut.

Sebab, sebagai orang Riau, saya mengikuti dari awal
tahapan dan proses penyelenggaraan Porwanas dua tahun
silam di daerah saya itu. Dananya, jika dibanding
dengan Kaltim, hanya Rp 6 miliar. Dengan jumlah itu
sudah memunculkan dugaan kasus korupsi yang kasusnya
sampai sekarang digantung Polda Riau. Sejumlah eks
panitia Porwanas masih belum tenang, karena
sewaktu-waktu bisa jadi tersangka korupsi. Konon lagi
Porwanas di Samarinda dengan dana Rp 10 miliar, betapa
besarnya potensi disalah-gunakan.

Di kalangan internalan PWI Riau, meskipun saya bukan
anggota PWI, tetapi rekan sejawat saya banyak dari
organisasi itu, merebak rumor yang menguatkan memang
ada kelompok yang mengambil keutungan besar dari
kegiatan tersebut. Kelompok tersebut langsung membeli
sejumlah mobil begitu Porwanas usai. Mereka inilah
yang berulang kali diperiksa Polda Riau.

Anda katakan Porwanas ajang olahraga, bikin sehat
sekaligus menunjukkan prestasi di luar kemampuan
melakukan investigasi dan membuat berita. Pernyataan
Anda ini teramat naif, memangnya untuk bisa olahraga
dan bikin sehat harus ikut Porwanas? Harus menggunakan
dana rakyat puluhan miliar? (Saya katakan puluhan
miliar, karena sesungguhnya Porwanas merampas uang
rakyat tak hanya di Kaltim sebagai tuan rumah, tetapi
di seluruh Indonesia, di mana seluruh kontingen
Porwanas pasti didanai APBD).

Ingat Bung Charles, di setiap penyelenggaraan Porwanas
selalu ada manipulasi. Banyak atlit profesional, bukan
wartawan yang dibekali PWI kartu biru agar bisa
bertanding. Keberadaan para wartawan gadungan inilah
yang setiap kali Porwanas memicu baku pukul,
sebagaimana yang terjadi di Porwanas Riau dua tahun
silam.

Apakah realita seperti ini yang Anda sebut
menyehatkan?

Selain itu, sudah saatnya Hari Pers Nasional dan
Konvesi Media di-reorinteasi. Karena selama ini
pelaksanaanya monopoli PWI, padahal dinegeri ini
organisasi wartawan tak sekedar PWI, ada AJI, PJI,
IJTI dan lainnya. Ironis, di saat kelompok lain sudah
meninggalkan prilaku monopoli warisan Orba, justru PWI
masih menikmatinya.

Bagi saya, tidak masalah wartawan bikin kegiatan
berskala nasional, tetapi sebaiknya jangan Porwanas,
sebab kurang nyambung dengan tuntutan profesi. Ubahlah
Porwanas menjadi Jambore Wartawan Nasional misalnya.

Dengan jambore target kebersamaan jauh lebih bisa
dicapai. Selain itu pasti lebih murah, tak perlu
mengandalkan uang rakyat untuk penyelenggaraannya.

Kalau saya terkesan emosional, memang benar. Betapa
tak emosional, karena ada kelompok yang secara
terang-terangan menggunakan profesi jurnalistik untuk
melakukan panipulasi dan pembodohan dengan menggunakan
uang rakyat bermiliyar rupiah setiap dua tahun.

Terakhir, saya ingin mengajak kita semua merenung
dengan tulus, tanpa pretensi apapun, terutama pretensi
keuntungan finansial, kemudian menjawab dengan jujur,
"Apakah benar Porwanas masih harus dipertahankan?"

Salam orang riau yang risau

ahmad s.udi
www.riauterkini.com
 
> Dear,
> 
> Saya melihat ada sikap emosional kalangan yang
> mengaku - ngaku sebagai jurnalis  "betulan" ketika
> membicarakan Porwanas. Uang rakyat, menggerogoti,
> korupsi, bodrek, dlsb. Nyaris tidak ada tempat
> positif untuk even para "wartawannya" Tarman Azzam
> itu. 
>     Padahal, ini kan olahraga. Bikin sehat. Tempat
> untuk beradu sehat, sekaligus menunjukkan prestasi
> di luar kemampuan melakukan investigasi dan membuat
> berita. Kalau uang untuk penyelenggaraanya berasal
> dari uang negara yang uang rakyat, pernahkah kita
> berpikir bahwa ketika kita naik bis kota, membeli
> bensin, kita juga sudah memakan uang rakyat? 
>     Porwanas IX di Samarinda berlangsung selama 10
> hari mulai tanggal 1 - 10 Pebruari 2007, dengan
> biaya Rp10 Miliar. Tapi ada agenda lainnya sepeti
> menyelenggarakan Hari Pers Nasional (HPN), Konvensi
> Media Massa dan Rakernas SIWO.
>         Bagi (tentu sebagian) rakyat di Kaltim yang
> kaya sumber daya alam, penyelenggaraan  Porwanas
> sebagai even nasional di daerah adalah hal yang
> membanggakan. Bukan orang Jakarta, Surabaya dan
> Bandung saja yang bisa menjadi tuan rumah, sebab
> warga Kaltim juga mampu. Porwanas yang Rp10 M itu
> masih sangat kecil dibanding dengan Popnas di Kaltim
> yang rencananya menghabiskan Rp24 M dan PON tahun
> 2008 yang menelan biaya lebih Rp300 Miliar.
>       Apa makna dari gaya orang Kaltim yang terkesan
> menghambur uang rakyat itu? Atau mengapa uang itu
> tidak digunakan untuk membantu orang miskin yang
> sangat memerlukan?
>       Sejarah mencatat, kekayaan alam di Kalimantan
> Timur pada masa lalu selalu dihambur-hamburkan oleh
> orang - orang di Jakarta. Mereka mengeruk kekayaan
> alam, untuk membangun berbagai fasilitas olahraga,
> monumen membuat even-even nasional dan
> internasional, sehingga Kota Jakarta dan
> daerah-daerah di Pulau Jawa berdiri megah. Senjang
> dengan daerah-daerah di Kaltim atau Timur Indonesia
> yang menjadi sumber duitnya. Karena Jakarta lebih
> modern, alhasil media dan juga para jurnalisnya
> menjadi lebih pintar-pintar karena memang kondisinya
> sebagai "penikmat" hasil uang kerukan daerah itu.
>       Jadi, sebenarnya terlalu pagi kalau kita
> berbicara tentang uang rakyat dan siapa yang memakan
> uang rakyat. Ketika otonomi daerah bergulir, Kaltim
> dan daerah kaya lainnya seperti Riau sebenarnya
> hanya mendapat kurang dari 10 persen dari hasil
> PDRB-nya. Bayangkan, dari Rp160 Triliun PDRB, yang
> kembali ke Kaltim dalam wujud APBD Provinsi dan 13
> Kota serta Kabupaten, hanya sekitar Rp13 Triliun. 
> 
> Oke, sekian dulu. Terima kasih.
> Salam dari Samarinda
> 
> 
> Charles Siahaan
> 
> ===

Kirim email ke