Mula mula dia muncul dalam alam benda mati, Kemudian masuk ke dunia tumbuh tumbuhan dan hidup. Bertahun tahun sebagai tetumbuhan, tak ingat lagi akan apa yang dia alami, lalu melangkah maju Ke kehidupan hewan, dan sekali lagi tak ingat akan tetumbuhan itu. Kecuali ketika dirinya tergerak senang, pada tetumbuhan di musim bunga bunga berkembang. Seperti bayi bayi yang mencari puting susu dan tak tahu mengapa. Sekali lagi Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana, sebagaimana engkau ketahui. Memindahkannya dari alam hewani ke tingkat Manusia, demikianlah dari satu alam ke alam lainnya, dia bergerak, dia menjadi pandai, cerdik dan bijak, sebagaimana dia kini. Tak terkenang lagi akan keadaan sebelumnya, dan dari jiwanya yang sekarangpun dia akan dirubah pula. Sekalipun dia tertidur, Tuhan tidak akan membiarkannya dalam kelalaian ini. Ketika dia terjaga, dia akan tertawa mengingat mimpi mimpi yang menyusahkannya, serta terheran heran betapa bahagia kehidupannya. Dia dapat melupakan dan tak merasakan bahwa seluruh kesusahan dan kesengsaraan itu akibat dari dari tidur, dan tipu muslihat serta ilusi yang sia sia. Maka dunia ini akan tampak abadi, meskipun itu hanyalah mimpi orang yang tertidur, Yang ketika hari yang telah ditetapkan tiba, akan melarikan diri dari bayang bayang gelap yang menghantuinya, Dan berpaling sambil menertawakan momok kesedihannya ketika dia melihat tempat tinggalnya yang abadi lestari. Mastnawi IV, 3637 Jalaludin Rumi
Aku mati sebagai MINERAL dan menjadi TUMBUHAN, Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai HEWAN, Aku mati sebagi hewan dan aku menjadi INSAN. Mengapa aku mesti takut ? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian.? Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan, Untuk membumbung bersama para MALAIKATt yang direstui, Bahkan dari tingkat malaikatpun aku harus wafat. Segala akan binasa kecuali Tuhan. Ketika jiwa Malikatku telah kukorbankan, Aku akan menjadi SESUATU yang tak pernah terperikan oleh pikiran. O biarkanlah aku tiada.! Karena Ketiadaan Membisikkan nada dalam telinga. Sesungguhnya kepadaNYAlah kita kembali Matsnawi III, 3901 Jalaluddin Rumi
