> "anton m. suryawardhana" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > saya ngga komentar soal copetnya, tapi mengenai penggunaan pasrah > yang tidak tepat. pasrah dalam islam bukan dipukuli atau dicopet > atau dihina atau bekerja alon-alon waton kelakon sambil bersikap > mental "semuanya dari Tuhan, ya sudah semaunya Dia aja deh" > pasrah dalam islam itu artinya berusaha dulu sungguh2 (dengan jalan > yang dan sumberdaya yang halal)sampai batas maksimum kemampuan kita > (dan sebenarnya kalo mau bisa ditingkatkan dengan belajar dari orang > yang lebih menguasai ilmunya) kalo sudah, baru pasrah sama hasilnya. >
Lhooo... yang berusaha sungguh2 itu tukang copetnya, kalo korban-nya sih mau usaha apa??? Korban itu cukup simpen duit dikantongnya, apalagi yang mau diusahakan??? Copet itu enggak pernah menyerak kepada pasrah, enggak dapet di satu bus pindah bus lainnya. Lalu menurut anda korbannya itu harus belajar ilmu apa agar jangan kecopetan???? Berdoa aja khan, itulah yang kita namakan pasrah !!! Untuk urusan copet mencopet dan korbannya, janganlah menggunakan teladan Nabi Muhammad, karena kalo mendudukan posisinya dalam teladan nabi Muhammad jadi terbalik karena Muhammad itu bukan korban pencopet, dialah yang dalam posisi tukang copetnya, bahkan dia itu perampok pedagang2 Yahudi yang kemudian dengan sangat adil hasil rampokannya di-bagi2 antara teman2nya. Jadi mem-bagi2 hasil rampokan sebenarnya bukanlah keadilan, tapi demikianlah kata2 yang tertulist dalam hadist/AlQurannya. Masalah unta nabi Muhammad yang hilang dicopet, tidak ada dalam hadist/Alquran dongeng2 seperti itu hanyalah rekayasa para ulama dalam berdakwah saja untuk menarik umatnya. Yang justru tercatat dalam hadist/alquran adalah bagaimana caranya nabi Muhammad mem-bagi2kan hasil rampokan pedagang2 Yahudi secara adil sesuai jasa dari masing2 yang ikut serta dalam merampok. Ny. Muslim binti Muskitawati.
