There is no slave without master! 

  ----- Original Message ----- 
  From: living on deadline 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, January 02, 2007 2:47 PM
  Subject: Re: [mediacare] Re: Kita Munafik Soal Profesi Jurnalistik (untuk Mas 
Su'udi)



  Sebelumnya saya minta maaf karena baru menyadari bahwa postingan terakhir 
saya nadanya kasar sekali atau terbaca sombong. Sungguh saya tidak bermaksud 
begitu, karena akan konyol sekali jikan saya menyatakan itu kepada sesama 
wartawan. namun saya hanya muak saja jika ada orang yang membuka diskusi 
tentang yang namanya bodrex, karena selama ini saya merasa hanya membuang waktu 
saja karena memang tak pernah ada tindakan sama sekali. ibaratnya kayak orang 
yang menderita sakit kepala yang hanya mengeluh dan mengeluh tanpa pernah 
berusaha mencari obat sakit kepala itu sendiri.
  sekali lagi maafkan saya atas nada bicara saya...

  salam damai
  Slave Without Master

  ahmad su'udi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

    --- giri bronx <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

    > 1. Porwanas ada sebelum Anda jadi wartawan, jika
    > Anda tidak ikut makan uang rakyat itu berarti Anda
    > bisa tidur nyenyak. Tapi jika Anda sudah menjadi
    > Wartawan sebelum ada Porwanas, tidak tahu kenapa
    > Anda dulu membiarkan Porwanas ada, jadi sekarang
    > sssstttt, jangan banyak bicara.

    Saya jadi wartawan baru menjelang 10 tahun, jadi
    benar, Porwanas ada sebelum saya jadi wartawan. Apakah
    lantas fakta tersebut membuat saya tak boleh bicara
    soal kekeliruan sejarah dan langkah pendahulu profesi
    ini yang harus diluruskan? Anda otoriter namanya.
    (jawaban saya)
    Bagi saya Porwanas adalah sebuah kesalahan teramat
    besar dalam sejarah kewartawanan di Indonesia, sebagai
    generasi penerus profesi ini, saya memiliki tanggung
    jawab moral untuk meluruskan. Jikapun upaya saya
    kandas, bagi saya tak masalah, tetapi yang pasti saya
    telah melalukan apa yang mesti saya lakukan untuk
    marwah profesi saya. Kalau Anda juga wartawan, adakah
    yang telah Anda lakukan untuk membersihkan profesi ini
    dari benalu-benalu? Jika Anda bukan wartawan,
    sebaiknya Anda punya atensi positif terhadap profesi
    ini.

    > 
    > 2. Wartawan tidak harus mempunyai media yang
    > jelas, misalnya jika Anda mencari berita dan hanya
    > Anda sampaikan pada satu atau dua orangpun Anda
    > layak disebut Wartawan. Dan bodrex bukanlah sebuah
    > penipuan, melain ketidakprofesionalan. Bayangkan,
    > betapa bodohnya orang mau memberi sesuatu pada
    > wartawan tanpa alasan tertentu, orang yang mau
    > diperas oleh bodrex, berarti ada yang tidak beres
    > dengan orang tersebut. Dan tugas Andalah sebagai
    > wartawan sejati untuk mengungkap ketidak beresan
    > itu. jika begitu, berarti keberadaan bodrex bisa
    > dimanfaatkan dengan kemampuannya mencium sesuatu
    > yang tidak beres. Jadi anggap saja bodrex adalah
    > bagian dari dunia jurnalistik seperti figuran dalam
    > film, benalu dalam pohon, gelandangan dalam
    > masyarakat, iklan dalam TV dan sebagainya.
    > 
    (jawaban saya)

    Anda benar, tidak selamanya wartawan harus terpaku
    pada sebuah media, sebab ada juga wartawan lepas yang
    dia bisa menjual berita yang didapat untuk media
    tertentu.

    Hanya saja yang pasti, siapa saja yang mengaku
    wartawan, dia harus jelas kegiatan jurnalistiknya. Itu
    mutlak. Sebab banyak orang mengaku wartawan, tetapi
    tak jelas eksistensi jurnalistiknya. Ia tak bisa
    melakukan wancara dengan baik, tak bisa menulis berita
    dengan baik dan tak memiliki media jelas kapan
    terbitnya. Ada yang terbit sekali, setelah itu mati
    setahun dan terbit lagi. Ironisnya, kartu pers
    kelompok ini tak pernah mati.

    Kelompok inilah yang lazim disebut bodrek, karena
    bikin pusing banyak orang. Kerjanya hanya minta duit,
    duit dan duit. Bagi saya, kelompok ini sesungguhnya
    sudah melakukan tindak kriminal.

    Memang keberadaan kelompok ini tak lepas dari adanya
    oknum pejabat atau pengusaha yang bermasalah. Ia
    memanfaatkan kondisi itu, tetapi secara internal ada
    juga andil kita membuat eksistensi mereka semakin
    meriap, yakni ketidakperdulian kita pada sepak-terjang
    mereka. Sebagai kelompok yang merasa memilih profesi
    jurnalistik dan melaksanakan profesi ini dengan baik,
    tak semestinya kita membiarkan ada kelompok lain yang
    mencorengnya.

    Jika Anda wartawan dan tak risau dengan bodrek,
    sungguh sebuah kerisauan bagi saya.

    Salam orang riau yang risau

    ahmad s.udi

    www.riuterkini.com
    > SEMUA HANYA MENJALANKAN PERANNYA SAJA
    > 
    > salam damai
    > Slave Without Master
    > 
    > 
    > Tomi Satryatomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    > Ahmad yang baik,
    > 
    > Terima kasih atas sentilan ini. Saya tak bisa bicara
    > mewakili
    > kawan-kawan yang lain, tapi percayalah tidak
    > membalas posting anda
    > tidak selalu berarti tidak memperhatikan. Saya tahu
    > ada banyak kawan
    > yang bergerak secara konsisten untuk memberantas
    > praktek suap pada
    > wartawan, baik dalam bentuk teri seperti amplop
    > maupun kelas paus
    > seperti Porwanas.
    > 
    > Teruslah memposting. Insya Allah tetap banyak
    > gunanya.
    > 
    > Wassalam
    > -- 
    > Tomi Satryatomo
    > http://www.trekearth.com/members/wisat
    > http://wisat.multiply.com
    > 
    > "We shall build good ship here,
    > at a profit if we can,
    > at a loss if we must,
    > but... always a good ship."
    > 
    > On 20/12/06, ahmad su'udi <[EMAIL PROTECTED]>
    > wrote:
    > 
    > >
    > > Bagi saya Porwanas adalah sebuah kesalahan besar
    > dunia
    > > wartawan Indonesia (baca:PIW). Meskipun dilakukan
    > oleh
    > > satu organisasi, namun Porwanas merupakan
    > legitimasi
    > > bahwa semua wartawan penggerogot uang rakyat.
    > Selain
    > > itu Porwanas terbukti menjadi ajang manipulasi
    > > profesi. Setiap digelar ajang ini ada puluhan
    > oknum
    > > bukan wartawan diberi kartu biru PWI untuk bisa
    > jadi
    > > atlet.
    > > Kenapa Anda sekalian tidak tergerak untuk
    > bersuara,
    > > mengajak rekan sejawat yang sepikiran untuk
    > bergerak
    > > menghentikan Porwanas? Antau Anda sekalian juga
    > > mendapat keuntungan dari kegiatan yang didanai
    > uang
    > > rakyat puluhan miliar itu?
    > > Kasus wartawan tanpa media jelas atau bodrek.
    > Mengapa
    > > Anda sekalian juga tak peduli. Seprofesional
    > apapun
    > > Anda sebagai wartawan, percayalah, di pandangan
    > umum,
    > > Anda disamakan dengan bondrek. Bagi saya bodrek
    > itu
    > > sudah masuk ranah kriminal. Mereka memanfaatkan
    > > profesi wartawan untuk melakuka penipuan. Mengapa
    > Anda
    > > sekalian membiarkan itu terus merebak?
    > >
    > > Sampai sekarang nyaris tidak ada langkah
    > signifikan
    > > untuk menutup ruang gerak para pelaku kriminal
    > atas
    > > nama bodrek. Akibatnya kelompok ini semakin lama
    > terus
    > > berbiak dan kian membuat wajah jurnalistik
    > Indonesia
    > > kia berlalat.
    > >
    > >
    > > Luah yang resah
    > >
    > > ahmad s.udi
    > >
    > 
    > 
    > 
    > 
    > 
    > ---------------------------------
    > The all-new Yahoo! Mail goes wherever you go - free
    > your email address from your Internet provider.
    > 

    __________________________________________________
    Do You Yahoo!?
    Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
    http://mail.yahoo.com 



  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.1.409 / Virus Database: 268.16.2/613 - Release Date: 1/1/2007

Kirim email ke