Omie, Radityo, pak Bari dan rekans milis,
Email ini saya forward ke boss Ranesi pak Henry Sandee dan seorang kolega
Ranesi yang mengurusi R&D (Reseach & Development), terima kasih banyak ke pada
mas Radityo yang menaruh perhatian besar kepada Ranesi. Dan terima kasih juga
bahwa selama ini artikel-artikel Ranesi yang saya copy dan kirim ke milis Media
Care (dengan 7000 anggota jurnalis Indonesia, wow!!!) selalu diloloskan oleh
mas Radityo. Semoga hubungan media Belanda-Indonesia makin akrab karenanya,
amin.
Beberapa hari yang lalu Omie menyatakan penentangannya terhadap penyembelihan
khewan kurban di mesjid-mesjid, apalagi yang dihadiri anak-anak. Don't worry
Omie, sikap anda didukung sepenuhnya oleh orang Belanda lewat UU-nya. Pada
mulanya muslim di Belanda menyembelih khewan kurban di mesjid atau halaman
rumahnya, setelah kena denda mereka membiarkan penyembelihan dilaksanakan di
rumah jagal, atau di carwash (tempat mencuci mobil, setelah mendapat izin
khusus dari Pemerintah Daerah). Tentunya jauh dari anak-anak.
Menjawab mas Radityo, saya tulis sbb.: peliputan sebuah kegiatan Ranesi
ditentukan oleh rapat programamakers Ranesi, termasuk penentuan peliputan Idul
Adha (saya belum tahu apakah acara itu diliput/tidak oleh kolega saya?). Yang
pasti saya ngga bisa menyelonong meliputnya, lagipula saya bukan programmamaker
Ranesi, cuma pembawa Warta Berita saja. Mengenai liburan di bulan Desember, di
Belanda yang resmi hanyalah Natal dan Tahun Baru. Idul Adha bukan hari raya
resmi. Namun setiap karyawan mendapat jatah libur sekitar sebulan per tahunnya
dan boleh dicicil, misalnya libur empat hari saat Idul Adha. Asal jauh-jauh
hari sebelumnya sudah dibicarakan dengan atasan masing-masing supaya perusahaan
bisa mendapatkan karyawan pengganti di saat kita libur. Yang pasti, setiap
karyawan di Belanda mendapat hak liburan minimal empat minggu per tahunnya, di
luar liburan resmi seperti Paskah, Hari Ratu, Pantekosta, Kenaikan Isa Almasih,
Natal, Tahun Baru dll.
Beberapa pertanyaan Radityo lainnya telah dijawab oleh pak Bari Muchtar di
bawah ini, sedangkan pertanyaan yang belum dijawab oleh pak Bari saya teruskan
ke kolega Ranesi bidang R&D untuk ditindak-lanjuti sesuai wewenang dan
tanggung-jawab dia. Terima kasih sekali lagi kepada mas Radityo, sebuah diskusi
yang menarik dan bermanfaat.
Salam hangat, Danny Lim, Nederland
----- Original Message -----
From: Bari Muchtar
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, January 01, 2007 10:23 AM
Subject: Re: [KincirAngin] Terima kasih - Re: Pemberian Daging oleh
Masyarakat Muslim
Saudara Radityo,
Tanggapan anda terhadap tulisan mengenai Idul Adha di Ranesi sangat
bermanfaat. Tolong anda sampaikan langsung ke Ranesi. Anda bisa buka
www.ranesi.nl sendiri dan terus cari artikel tulisan Michel itu. Di bawahnya
anda bisa menulis komentar.
Memang banyak kesalahan yang saya lihat di sana, misalnya istilah nabi
Abraham dan cerita pengorbanan yang dikatakan sama dengan cerita Yahudi dan
Kristen. Mungkin cerita pengorbanan itu juga ada di tradisi Yahudi dan Kristen,
tapi yang mengorbankan Ismael hanya di versi Islam. Kalau nanti saya ketemu
sama Michel ini akan saya sampaikan. Saya sering ngobrol sama dia. Kritikan
anda soal cerita pengorbanan itu adalah kritikan yang benar. Dan masalah
penggunaan kata-kata mengijinkan, saya sependapat dengan anda itu memang salah.
Yang benar adalah mengizinkan. Merubah juga salah. Semestinya mengubah.
Saya sebagai orang Ranesi gembira menerima kritikan anda. Kritikan-kritikan
seperti anda kemukakan ini benar-benar kritikan membangun. Sekali lagi silakan
kunjungi sendiri situs web Ranesi www.ranesi.nl dan sampaikanlah kritikan
langsung ke sana. Anda juga bisa mengirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Saya juga mengucapkan selamat tahun tahu buat anda dan bagi para milis yang
lain.
Salam,
Bari Muchtar ([EMAIL PROTECTED])
Produser acara Masyarakat Multikultural Radio Nederland Wereldomroep
----- Original Message -----
From: radityo djadjoeri
To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected]
Sent: Monday, January 01, 2007 8:24 AM
Subject: [KincirAngin] Terima kasih - Re: Pemberian Daging oleh Masyarakat
Muslim
Dear Oom DL di Belanda,
Terima kasih untuk postingan berita tentang perayaan Idul Adha di Belanda
dari situs Ranesi. Cukup menarik. Kalau tak salah, beberapa warga negara
Indonesia di Arab Saudi beberapa tahun lalu juga sudah berupaya mengumpulkan
daging kurban di Tanah Suci untuk dikalengkan, lalu dikirim ke Indonesia untuk
diberikan kepada fakir miskin. Bentuknya
bisa corneed beef, rendang, semur, dan lain sebagainya. Cukup menarik kan?
Bagaimana kalau Oom DL bikin usulan seperti itu, sehingga daging di Belanda
bisa disantap oleh kaum papa di Indonesia? Siapa tahu rasanya lebih "nendang",
empuk dan yummy..:))
Oh ya, akan lebih menarik kalau Ranesi atau Oom DL melakukan reportase
perayaan Idul Adha di Kedubes RI di Belanda. Walau Oom DL non-muslim,
tidak akan diusir kok...:)) Biasanya sih tersaji hidangan santap siang
dengan menu sate kambing, gule kambing dan lainnya. Hmmm, nikmat kan?
Sekadar menambah kabar dari Tanah Air, pada Idul Adha tahun ini di Jakarta
(entah di kota lain), ada permintaan dari Pemda agar umat Islam tidak
lagi memotong hewan kurban (umumnya sapi dan kambing) di lingkungan
masjid, karena dikhawatirkan dagingnya tidak higienis. Namun permintaan
tersebut ditentang oleh sebagian pengurus masjid, karena dianggap
mengada-ada.
Pengelola rumah-rumah jagal pun cemberut karena tidak dapat orderan pada
Idul Adha.
Saya simak, ada juga seorang warga yang menulis di surat pembaca yang
mengimbau pemerintah untuk melarang anak-anak di bawah umur menonton
prosesi penjagalan hewan. Ia khawatir, prosesi tersebut akan berdampak
negatif pada kejiwaan sang anak, baik dalam jangka pendek maupun saat
ia tumbuh menjadi dewasa kelak. Ia setarakan dengan tayangan-tayangan
brutal dan kejam di layar kaca.
Terkait dengan postingan Oom DL, saya ada beberapa pertanyaan yang masih
menggantung:
1. Kenapa perayaan Idul Adha di Belanda berlangsung selama empat hari
lamanya? Apakah umat Islam disana diberi kelonggaran berlibur selama
empat hari juga? Sebagai catatan, di Indonesia liburan Idul Adha hanya
satu hari saja, tepatnya pada hari Minggu, 31 Desember 2006 lalu.. :))
Ada juga Hizbut Tahrir dan organisasi Islam lain yang merayakannya
pada hari Sabtu, 30 Desember 2006 - sesuai dengan Saudi Arabia.
2. Sebagai negeri maju, Belanda tentu punya aturan ketat tentang
potong-memotong hewan. Apakah boleh tiap warga memotong hewan sendiri? Atau
harus dipotong secara masinal? Apakah di Belanda ada mesin pemotong hewan yang
bisa
mengucap "Basmallah"?
3. Karena penulis artikelnya bukan Oom DL tetapi oom Michel Hoebink,
tolong tanyakan ke dia tentang kalimat berikut:
"......warga Muslim memperingati kesediaan nabi Abraham untuk mengurbankan
putranya Ismail kepada Allah. Kisah ini ditemukan dalam tradisi Yahudi
maupun Kristen."
Menurut saya, kalimat tersebut amat tidak tepat, karena hanya umat Islam
sajalah yang percaya bahwa Nabi Ismail yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim
(catatan:
Islam tidak mengenal Abraham, tapi Ibrahim). Sedangkan kisah versi
Islam itu tak bakal ditemukan dalam tradisi Yahudi maupun Kristen, karena
jelas tertulis dalam kitab-kitab suci mereka yang dikurbankan adalah
Ishaq, bukan Ismail. Topik tersebut kerap dibincangkan di milis-milis,
hampir tiap tahun menjelang Idul Adha.
O ya, sekadar saran:
"...tiba saatnya untuk merubah kebiasaan itu untuk lebih melibatkan
diri dalam masyarakat Belanda"
Untuk judul alinea "Merubah Kebiasaan" alangkah baiknya diganti menjadi
"Mengubah Kebiasaan". Karena menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
itulah kata yang benar dan baik -> kata dasar: "ubah". Sedangkan
"merubah" bermakna "menjadi rubah", alias menjadi serigala.
***
Lalu ada beberapa istilah yang tidak jelas, jelas amat mengganggu para
pembaca seperti saya, misalnya:
"daging hasil sembilan itu,......"
Apa itu artinya? Apa maksudnya "daging sembelihan"?
***
"...mengijinkan"
Menurut KBBI, yang benar "mengizinkan", pakai "z" bukan pakai "j"
***
"....Gabungan Organisasi Bantuan Muslim, SMHO"
"..partai kristen demokrat CDA"
Alangkah baiknya kalau Ranesi menulis lengkap kepanjangan dari SMHO dan
CDA dalam Bahasa Belanda juga, itung-itung untuk belajar istilah Belanda.
***
Terakhir, tentang situs web:
"...Belum lama ini, situs web tadi menayangkan wawancara dengan pemikir
Muslim Malaysia, Farish Noor......"
Situs web yang mana? Saya cari-cari di artikel dari awal hingga akhir
tak ada satu pun tercantum sebuah link dari situs web.
Sekian dulu pertanyaan dan secuil saran dari saya....tak lupa saya
ucapkan Selamat Tahun Baru 2007 buat Oom DL sekeluarga.
Salam dari Betawi,
RD
____________________________________________________________
Radio Nederland Siaran Indonesia - Ranesi
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/eropa/belanda/Pemberian_daging061229
Pemberian Daging oleh Masyarakat Muslim
Michel Hoebink
29-12-2006