KOMPAS Kamis, 04 Januari 2007
Bangsa Penuh Petaka Aloys Budi Purnomo Bangsa kita sedang menderita karena sejumlah petaka, musibah, dan bencana. Realitas sosial-kemasyarakatan kita penuh dengan duka dan keprihatinan. Bencana yang satu belum tuntas teratasi, bencana berikut membuat hati kita tercabik-cabik! Dari Aceh hingga Papua, bencana silih berganti merenggut nyawa. Tsunami, gempa, banjir, tanah longsor, kebakaran, dan kecelakaan yang merenggut serentak nyawa terus menjadi bahan pemberitaan media. Petaka, musibah, dan bencana yang terjadi belakangan ini kian meningkat, bukan hanya karena faktor alam, tetapi terutama karena faktor manusia. Memang, alam kita seolah sedang murka. Bumi berguncang. Laut mengamuk. Udara pun tidak lagi ramah bagi keselamatan masyarakat kita. Gempa, ombak, dan badai, serta cuaca buruk dapat kita baca sebagai ungkapan kemarahan alam terhadap kita. Inilah kesan yang dapat dengan mudah kita tangkap dari fakta petaka yang terjadi di negeri kita. Penuh petaka Tidak berlebihan bila dikatakan bangsa ini sedang penuh petaka. Simaklah kasus musibah di laut. Pada akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007, bangsa kita dicekam musibah laut secara beruntun. Dalam hitungan hari, petaka yang terjadi di laut terjadi secara fantastik. Dalam lima hari menjelang tahun 2006 berakhir, tanggal 28-31 Desember, lima kecelakaan laut di sekitar perairan Laut Jawa terjadi. Feri KMP Tri Star I ditelan ombak di perairan Sungsang, Selat Bangka; satu orang tewas, 18 lainnya hilang dari jumlah keseluruhan 48 orang penumpang. Selanjutnya, kapal pengangkut kayu KM Bunga Anggrek tenggelam oleh ombak besar dan angin kencang di perairan Karimunjawa. Kapal roro Nusa Setia terseret ombak di Pelabuhan Bakauheni. KM Sinar Baru yang mengangkut batu apung dengan 11 penumpang diamuk gelombang besar membuat sembilan penumpang hilang, dua selamat. Yang menggemparkan dan memprihatinkan adalah kecelakaan KM Senopati. Akibat cuaca buruk, kapal motor yang membawa 642 penumpang mengalami petaka di perairan sekitar Pulau Mandalika, Jepara. Sedikitnya 400 penumpang masih belum diketahui nasibnya. Belum lagi petaka yang satu teratasi, pada awal 2007 musibah laut masih terjadi. Speedboat Timahu 01 diserang ombak di perairan Laut Seram hingga tenggelam, 7 orang tewas. Speedboat nahas lainnya ditenggelamkan ombak di Rompong, 2 orang tewas, 2 orang hilang. Bukan hanya di laut petaka terjadi, tapi juga di udara. Pesawat AdamAir hilang, 96 penumpang dan 6 awak pesawat belum diketahui nasibnya. Kesedihan membuncah bukan hanya karena bangkai pesawat beserta seluruh penumpang dan awaknya belum ditemukan. Kesedihan dan keprihatinan kian menusuk hati sebab di tengah petaka itu terjadi kesalahan yang mestinya tidak perlu terkait dengan informasi keberadaan bangkai pesawat. Bangsa Indonesia bukan hanya "tertipu" atas kesalahan informasi itu, tapi juga harus menanggung risiko menjadi bangsa yang "tolol". Tampaknya sepele, "salah informasi", namun dampaknya luar biasa. Itulah cermin kecerobohan, kesembronoan, sikap gegabah, dan kesantaian para birokrat dan pejabat pemerintahan kita dalam mengatasi persoalan yang menimpa rakyatnya! Secara teknologis, hal ini menjadi "petaka" tersendiri. Bangsa ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga! Tidak disiplin Petaka demi petaka yang terjadi di laut, udara, dan darat yang kian marak di negeri ini sebenarnya mencerminkan betapa bangsa ini tidak memiliki disiplin dalam membaca isyarat alam. Bahkan, terkait alam, bencana menjadi santapan rutin silih berganti. Kebakaran dan asap di musim kemarau. Banjir dan longsor di musim hujan. Itulah bencana rutin yang silih berganti tak pernah teratasi. Lee Kuan Yew pernah memberi penegasan dalam konteks Asia dan berkata, "Yang dibutuhkan Asia bukan demokrasi tetapi disiplin!" Dalam konteks Indonesia, penegasan Lee Kuan Yew itu signifikan dan relevan untuk membaca dan merefleksikan setiap petaka yang terjadi di negeri kita belakangan ini. Hutan yang terbakar dan asap yang dihasilkannya di musim kemarau bukanlah buah demokrasi, melainkan cermin ketidakdisiplinan pemerintah dan pihak-pihak terkait. Banjir dan longsor yang selalu rutin terjadi di berbagai wilayah negeri ini juga merupakan buah ketidakdisiplinan kita sebagai bangsa. Luapan lumpur panas, kecelakaan lalu lintas (darat, laut, dan udara) yang mendatangkan petaka merupakan dampak tiadanya kedisiplinan. Orang yang disiplin tidak akan pernah menerjang rambu-rambu lalu lintas. Pengusaha yang disiplin tidak akan mengabaikan kepentingan sesama. Penguasa yang disiplin tidak akan mengorbankan kepentingan rakyatnya. Produsen yang disiplin tidak akan menghalalkan segala cara dan membahayakan kehidupan konsumennya. Akibat ketidakdisiplinan itu, bangsa ini setiap kali harus menuai petaka, musibah, dan bencana! Dari pusat hingga daerah, banyak elite politik dan pemerintah tidak disiplin sehingga dengan mudah melakukan korupsi. Merampok harta negara dan menggarong hak rakyat. Akibat ketidakdisiplinan banyak pihak, orang baik dan benar di negeri ini tidak mendapat tempat untuk memenangi perkara. Terpasung oleh ketidakdisiplinan, kebenaran seperti tidak memiliki saluran untuk diperjuangkan. Terbelenggu oleh ketidakdisiplinan, banyak telinga tidak mau mendengar kebaikan diserukan; banyak mata yang tidak mau melihat kebenaran; banyak hati yang berfungsi? >newarea 1Otak sederhana yang pengecut dan tidak ikhlas, tetapi punya otoritas, >adalah salah satu sebab mengapa bangsa ini tetap berada di buritan >perkembangan. Kapankah bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan yang terpoles kemunafikan dan keberhasilan semu yang tidak menyentuh kebutuhan sehari-hari, yakni kesejahteraan dan keadilan yang didambakan rakyat kecil? Tanpa menghayati kedisiplinan dalam berbagai bidang kehidupan, bangsa ini akan semakin keropos, rapuh, dan terpuruk dihajar petaka demi petaka! Aloys Budi Purnomo Rohaniwan; Pemimpin Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Semarang
