--- In [email protected], Satrio Arismunandar 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya tak ingin berkomentar soal PSDM. 
> 
> Tapi saya bertanya-tanya tentang konsep "pembangkang" yang Bapak 
sebut, yang kesan saya bias (terlalu melihat dari kacamata pimpinan, 
tidak melihat atau membandingkan dari kacamata karyawan /bawahan). 
Setiap orang yang beda pandangan dengan pimpinan seolah sudah patut 
disebut "pembangkang." Bukankah juga bisa dilihat sebaliknya, 
pemimpin yang tidak mau memahami aspirasi bawahan disebut sebagai 
pimpinan yang "kolot" dan "keras kepala?"
> 
> Sebutan "orang lama" juga tidak jelas batasannya.
> Untuk karyawan yang masuk tahun 2005, Wisudo jelas karyawan lama 
(sudah 15 tahun kerja di Kompas).
> Tetapi dibandingkan Suryopratomo, Pemimpin Redaksi Kompas, yang 
masuk Kompas pada 1987 misalnya (jadi sudah sekitar 20 tahun kerja 
di Kompas), Wisudo ya relatif termasuk lebih yunior dong.
> 
> Jadi siapa yang lebih "fresh"?
> 
> 

Halo Mas Satrio,

saya coba jelaskan ya arti "Pembangkang".

Dalam hidup ini kita cenderung adu kekuatan, kita cenderung menuntut 
hak kita, seperti kasus Bambang Wisudo, yang sampai diewer-ewer 
Satpam, 

kita bekerja karena sudah lama diberi gaji, misalnya 15 tahun, maka 
kita lupa bahwa hidup ini kita tidak memiliki hak apapun, namun kita 
mencari rejeki.

Akar Permasalahan Dalam Hidup
Kata Gandhi: Kemerdekaan bukan konsepsi sempit

Konsepsi tentang kemerdekaan bukanlah konsepsi sempit. Ia seluas 
kemerdekaan manusia dalam segenap kemuliaannya.

Dari: Harijan, 7-6-1942, hal. 183.

Kadang kita bingung apa yang salah dengan hidup kita, namun satu hal 
yang pasti, bahwa segala jerih upaya kita selama ini terasa semakin 
berat...  Kita membayangkan dulu waktu kita masih sekolah adalah 
masa-masa yang membahagiakan, dan kita seolah-olah lupa, bahwa saat 
sekolahpun kita semua memimpikan untuk hidup yang sesungguhnya... 
Dan ternyata kenyataan itu pahit rasanya.
Kita seolah hidup seperti jalan di tempat, dan seolah dunia memaksa 
kita. Sering kita sendiri merasa serba kurang, serba banyak 
keinginan, dan semakin tinggi kita menanjak dalam hidup, kita seolah 
kehabisan tenaga..
Beberapa akar permasalahan dalam hidup, suatu kekeliruan yang sering 
terjadi adalah:

1.Hidup adalah untuk mencapai apa yang kita inginkan..
Dan kita seolah tanpa henti berdegup jantung kita menonton acara TV 
lengkap dengan iklannya, sang Pangeran yang nun jauh disana seolah 
terlalu tinggi untuk dijadikan target, dan kita menjadi tokoh gadis 
yang merana merenungi nasib, menunggu nasib tiba waktunya sang 
Pangeran menjemput kita.
Dan keinginan-keinginan ini semakin membara, seolah hidup dibaktikan 
untuk belanja.  Nafsu dorongan belanja hampir mengalahkan 
•       Nafsu untuk sex dan 
•       Nafsu untuk makan.
Hingga sempat kita pikir, adakah ATM isi ulang yang saldonya banyak 
nol-nya milik Sang Pangeran dari Timur Tengah yang dapat dihibahkan 
kepada kita, untuk dapat dibelanjakan, wow tentu terasa sangat indah 
bila kita mencapai Financial freedom.
Financial Freedom?
Bisakah kita mencapai hal itu?
Adakah saat-saat dimana kita bisa belanja tanpa melihat saldo 
terakhir?  seolah-olah dunia seperti di Surga.  Surga?  Benarkah 
Surga terasa indah saat kita bebas belanja sepuas mungkin?
Sehingga kita selalu merasa bangga memamerkan sepeda motor kita yang 
rasanya paling kinclong dengan rem cakram, mengkilap bak Honda 
Jazz...
Namun.... kok kita lihat kiri-kanan mobil orang lain lebih yahuud?

2. Perasaan menjadi korban
Kadang kita pikir, bahwa penjajah Belanda dulu itu betul-betul 
kurang ajar, dan kita membencinya seumur hidup, dan kita lupa, 
bagaimana mungkin itu terjadi selama 350 tahun atau 14 generasi?
Bayangkan, anak kita dijajah Belanda, cucu kita juga, cicit kita 
juga, anak cucu cicit kita dijajah Belanda dan kita hanya bisa 
menyalahkan Belanda.   Bahwa kita tidak makmur karena terlalu lama 
dijajah Belanda.  Lolos dari Belanda sekarang kita dijajah korupsi.  
Lalu kapan kita bisa merdeka?
Mengapa nasib kita selalu menjadi korban?
Dan kita hanya bisa menyalahkan Lumpur sidoarjo, bukti bahwa kita 
tidak memiliki kekuatan atas dunia, dan kita senantiasa menjadi 
korban.
•       Memang orang kaya delalu bersikap demikian..
•       Memang namanya Pemerintah, bisanya memerintah... 
•       Memang Krisis Ekonomi ini biang kerok semua kesulitan 
kita....
•       Memang tetangga-tetangga kita seperti tidak mau mengerti, 
bahwa kita juga membutuhkan ketenangan, namun mereka seolah tiada 
henti cerewet ngerumpi sedangkan kita seolah-olah sudah kebudekan..
Dan kita selalu menyalahkan orang lain...

3. Berpikir satu arah..
Dan kita senantiasa dididik untuk selalu maju, menyelesaikan 
sekolah, mengerjakan ujian yang terbaik, dan bisa naik kelas... 
Hidup ini dianggap sebagai sekolah, dan kita dituntut untuk naik 
kelas...  Dan saat kita berbuat salah, dianggap mendapatkan hukuman 
dari "Guru"... Katanya belajar dari pengalaman.
Dan kita berpikir, bahwa kalau kita cukup keras berusaha kita akan 
mendapatkan yang lebih.... Hingga semua cara telah kita lakukan, 
namun lowongan kerja tak juga menampakkan tanda-tanda kehidupan..
Hingga kita merasa bahwa mungkin kita tidak cukup mencoba... Ibarat 
salesman, semuanya tergantung dari berapa "lead" dan "sales call" 
yang kita lakukan, dan seolah-olah kita menganggap bahwa dunia itu 
adalah sebuah peluang, sebuah kemungkinan dan kalau kita sering 
mencoba maka besar kemungkinan kita berhasil...
Hingga segala kemungkinan sudah dicoba, akhirnya kita hanya 
menyalahkan nasib bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk bisa 
menjadi kaya.
•       Menjadi Sukses..
•       Menjadi Berpangkat...
•       Menjadi Pimpinan...
•       Menjadi yang terbaik....
Karena waktu telah membuktikan bahwa bila di suatu tempat ada sebuah 
peluang, besar kemungkinan sudah diambil orang..  Dan kita selalu 
tidak kebagian..

4. Lalu kita pasrah...
•       Pasrah dari segala macam beban hidup… 
•       Pasrah dari segala macam usaha…
•       Pasrah dari segalam macam kejaran waktu yang semakin 
terbatas...
•       Pasrah menghadapi kepahitan hidup.
Bahwa semuanya adalah tergantung kepada Sang Pencipta, dan akhirnya 
kita hanya bisa berdoa, namun Tuhan yang menentukan...  Dan akhirnya 
kita menerima bahwa artis-artis terkenal, para pemikir, para orang 
kaya, para direktur adalah memang memiliki darah bangsawan...
Tapi.....
Kok Iksan bisa? Kok Delon bisa?  Kok Radja bisa? Kok Samson bisa?  
Kok Marshanda bisa?  Kok ada yang bisa menang Olimpiade Fisika 
Internasional? Mereka semua orang biasa, sama seperti kita....
Sering kita merasa, hidup ini penuh tekanan, penuh beban dan seolah-
olah kita merasa hidup kepepet... Hidup penuh keterpaksaan...  
Rasanya seperti taksi, setoran PLN, setoran Citibank, setoran PAM, 
belum lagi Telkomsel... Sepertinya hidup ini penuh dengan beban yang 
tidak mau istirahat.

Pepatah mengatakan bahwa "Seseorang tidak dapat memperoleh 
keuntungan yang besar bila mau cepat, atau tidak mengerti hidup.."
Hidup kita ini sepertinya selalu urgent, selalu mendesak, selalu 
terpaksa, mau diterusin kok lumpur makin dalam mau balik takut 
kecebur selokan lumpur...
Lalu ada yang bilang...
"Hidup jangan kepepet?"
Bagaimana?

Pernahkah kita memikirkan... Hidup kita ini seolah-olah selalu 
digenangi lumpur, dan hidup seolah-olah selalu di pengungsian, dan 
kita hanya menyalahkan orang-orang kaya yang hidupnya berkelebihan?  
Ataukah, bisakah kita hidup merdeka, terlepas dari beban?  dan hidup 
bebas berkarya menurut kata hati kita?
Pernahkah kita berpikir apa penyebab semua keterpaksaan ini?
1.      Kita nonton TV... 
Acaranya kalau bukan anak tiri yang diperkosa bapak tirinya, atau 
mengapa aku tumbuh menjadi banci?  Isinya bapaknya gebukin anak laki-
lakinya setiap hari, atau suami selingkuh dengan istri muda.... 
Rasanya hanya 5 menit saja, kita merasa mau muntah... Bagaimana 
tidak tertekan kalau setiap hari kita dijejalin acara begitu?

Kita ini hidup bukan begitu..... Hidup yang sesungguhnya adalah 
bagaimana merawat mawar, melati, kamboja, atau merawat kucing yang 
sehat, bukannya gebukin anak kandung kita, apa kita sudah edan? 
Makanya jangan nonton TV, apalagi setiap 15 menit kita dijejalin 
dengan iklan handphone baru, sepeda motor baru, rokok baru, 
aduh..... Bagaimana tidak kepepet? Sebetulnya kita ini memepetkan 
diri sendiri dengan mau dijejali iklan konsumtif yang perucuma tidak 
berguna. 
Coba kita pikir, apa bedanya Suzuki Smash, Honda Supra Fit, Yamaha 
Jupiter MZ atau Suzuki Scorpio?  Apa kita mau terbang kecepatan 250 
KM per jam? Semua itu sebenarnya sama saja, hanya ego kita saja yang 
maunya membeda-bedakan.  Hakekatnya sama saja.

2.      Kita merasa hidup ini tergantung uang... 
Padahal sesungguhnya uang itu sama saja, baik  itu Rp 10,000,000 
atau Rp 10 Milyar atau Rp 100 Milyar, bedanya hanya nolnya saja, 
tapi rasanya sama saja. 
Punya uang Rp 10 juta kita mikir aduh tidak cukup ke Thailand?  
Punya uang Rp 100 juta kita mikir aduh tidak cukup beli Toyota 
Fortuner ...  "Uang itu satuannya bukan Rupiah atau Milyar tapi 
satuannya adalah gaya hidup.  Semakin besar uangnya semakin tinggi 
gaya hidupnya, jadi hasilnya sama saja."  

Orang yang punya Rp 10 Milyar akan sibuk berangkat ke Las Vegas, 
ujung-ujungnya juga habis sebulan, sama dengan kita habiskan Rp 2 
juta habis sebulan juga..   Orang miskin tidak pernah merasa problem 
kalau dia melihat uang dengan pecahan Rp 1000. bayangkan, berapa 
banyak uang Rp 500,000 kalau dipecah Rp 1000an?  Banyak banget.
Orang kaya satuannya bukan Rp 1000 tapi K (Kilo).  Artinya apa?  1 K 
itu artinya 1 Kilo sama dengan US$1,000.  Jadi kalau uang hanya Rp 2 
Milyar itu adalah 200 K.  Ngomongnya... 
"Aku dapat proyek, tapi tidak aku ambil karena dibawah 20 K". 
Artinya dibawah US$ 20 Kilo, atau US$ 20,000 atau Rp 200,000,000. 
Duit segitu juga terasa kecil... Hanya 20 K.. Akhirnya duit itu sama 
saja, orang kecil melihatnya Rp 1000an orang besar melihatnya berapa 
K?

3. Kita merasa bahwa selalu ada yang harus ditaklukkan. 
Waktu sekolah kita merasa harus mengalahkan teman-teman sekelas 
menjadi Ranking 10 besar. Di kantor apalagi, rasanya office politic 
menjadi makanan sehari-hari menjadi mantra untuk mengalahkan pihak 
lawan.
Dan kita cenderung untuk mengomentari ketidak-adilan.  Rasanya kalau 
lumpur Sidoarjo kita tumpahkan di depan kantor Menteri kita menjadi 
puas, kalau perlu lumpurnya kita semprotkan saja....  Dan kita 
selalu menyalahkan pihak yang otoriter, pihak yang menindas...
Namun kita tak berdaya... Kita hanya bisa menyalahkan Pemerintah 
kita dan Amerika saja... Harga minyak kita persalahkan, dan kita 
tidak mampu mengalahkan mereka..
Dan kita tak berdaya...

Sesungguhnya, hidup bukanlah untuk dikalahkan, dikuasai, atau 
dilawan...  Hidup adalah untuk diikuti alurnya... dijemput, dipeluk, 
bukan dilawan.  "Pernah kita dengar kata-kata "Ibu Pertiwi"... Hidup 
itu adalah seperti kita menghadapi Ibu kita sendiri, tidak perlu 
dilawan, hanya dituruti saja."

Kalau alam mengatakan sudah banyak pengangguran, maka jangan kita 
mengotot mencari memikirkan mengidamkan lowongan kerja.  Apa tidak 
ada yang lebih penting dalam hidup ini selain mencari lowongan kerja?
Lihatlah orang-orang sekeliling....

Ibu-Ibu menderita, kurang makan, kurang rasa percaya diri, kurang 
susu, kurang duit, kurang bahagia... Banyak Ibu-Ibu antri minyak 
tanah, antri beras, antri Indomie... Tugas kita adalah membantu 
mereka, seperti kita anggap ibu sendiri..  Mereka-mereka itu juga 
punya anak, dan hanya Tuhan yang tahu apakah kita dilahirkan untuk 
menjadi apa, apakah anaknya Duta Besar atau anak-anak mereka.
Kalau kita merasa sudah sedikit memiliki Keahlian, bukankah tugas 
kita untuk membantu mereka?  Membantu Ibu Pertiwi?
"Sudah saatnya kita merubah diri kita, jangan lagi memusatkan 
pikiran pada diri sendiri, pada uang, pada sex, pada kekuasaan..."
"Namun pusatkan pikiran pada orang-orang lain..."

Pikirkan Ibu Pertiwi menangis setiap siang malam hanya mencari 
makanan untuk  bayinya yang menangis.  Anda jangan lagi mengeluh 
kurang ini kurang itu, toh anda belum pernah makan nasi yang sudah 
kering, yang sudah basi, yang sudah kecoklatan...
Satu orang di Republik kita ini terasa kecil, namun ingatlah, bahwa 
satu per satu kita akan menjadi kuat, kita akan menjadi bibit 
pembawa perubahan dalam Negara kita.
Jangan lagi menyalahkan korupsi, atau KPK, atau birokrasi, tapi 
pikirkanlah Ibu Pertiwi kita sendiri, mereka merasa sedih, dan kita 
mampu berbuat banyak, karena sesungguhnya masalah hidup rata-rata 
orang-orang di Indonesia tidak lebih dari Rp 3 juta saja per orang.
•       Gara-gara Rp 3 juta debt collector mengobrak-abrik rumah 
tangga, 
•       Gara-gara uang Rp 3 juta istri minta cerai, karena tidak ada 
uang untuk beli susu, beli deterjen...

"Tidak masalah besar atau kecil, sesungguhnya bantuan itu menjadi 
penting pada saat dibutuhkan."
"Jangan lagi merasa terbebani oleh hidup hanya karena anda menuruti 
nafsu diri sendiri, tapi bebaskan diri anda dari beban hidup dengan 
hidup merdeka demi orang-orang lain, dengan empati untuk memikirkan 
orang-orang lain, membantu masalah masyarakat."
•       Masalah pengangguran
•       Masalah penurunan daya beli
•       Masalah susu mahal
•       Masalah penurunan rasa percaya diri…

Mulailah dengan memecahkan masalah yang kecil, dari satu orang yang 
membutuhkan, lalu teruskan hidup anda dengan memperhatikan orang 
lain, maka hidup anda akan terbebas dari beban.

2. Akhirnya anda masuk kepada perasaan kedua yang terbawah dari 
seseorang, yaitu hidup dalam Fantasi.
Anda hanya membayangkan betapa Robert Kiyosaki-lah yang seharusnya 
anda baca saat dulu, sebelum anda terpuruk. Anda menganggap si A 
yang anda kagumi, dan membayangkan bagaimana rasanya berada di jalur 
Sukses. Masalahnya, anda tidak hidup dalam kenyataan, namun hanya 
bayangan-bayangan semu saja.
Yang anda mau tanyakan, apa pendapat Bapak mengenai jalan hidup dan 
pikiran anda selama ini? Apakah kereta-kereta itu memang usang atau 
sebenarnya jiwa andalah yang usang? Anda harus bagaimana? 
Sebenarnya mas, tidak ada yang salah dengan jalan hidup anda itu, 
anda seharusnya bersyukur telah lulus S1 dan hidup di Yogya, kota 
pendidikan banyak orang pintar.  Kalau misalnya untuk kerja mulai 
dari gaji kecil, semua orang mengalaminya. Gaji pertama saya Rp 
600,000. Sahabat saya malah mulai dari gaji Rp 300,000 sebagai 
Product Manager di sebuah perusahaan. Tapi sahabat saya sekarang 
bekerja di Singapore dengan gaji diatas US$10,000 per bulan.
Oleh karena itu, dapat saya sampaikan khabar kedua, yaitu khabar 
baik untuk anda bahwa untuk supaya anda bisa merasa merdeka, dan 
bangkit berjuang dalam hidup mencapai sukses adalah rubahlah 
orientasi hidup anda dari menangisi nasib anda, menjadi pikirkanlah 
orang-orang lain.

Manusia tidak hidup dari uang saja, namun sesungguhnya hanya 
memerlukan pahala dari manfaat yang diberikan kepada orang-orang 
lain.
Kalau anda ingin tahu dimanakah Surga itu? Jawabannya adalah pada 
saat anda memberi makan kepada fakir miskin. Saat itulah anda 
merasakan Nikmat Allah yang harus anda syukuri dalam hidup ini.

Dalam hidup kita sering merasa exhausted, setelah mengejar segala 
macam ambisi, dan akhirnya kita menyerah, dan bingung harus 
bagaimana lagi cara mengahadapi beban hidup.  Berikut ini sharing 
dari Bapak Mukhtar Sharul.

Halo bapak,  
Apa saja yang bisa mempengaruhi semangat kerja seseorang, aku kok 
sekarang ini jadi loyo, usaha saya kok biasa-biasa saja, padahal 
sudah 8 tahun aku usaha. Semangat aku lagi di titik penghabisan 
kayaknya pak!!!
Mukhtar Syahrul

Jawab: Halo Pak Mukhtar Sharul, Pak kalau kehabisan tenaga dan 
semangat itu karena kita terlalu orientasi pada diri sendiri pak. 
Kalau EGO kita tinggi maka seolah-olah kita melawan kekuatan dunia 
dengan kekuasaan yang kita miliki, dan akhirnya kita bisa exhausted.

Oleh karena itu pak perlu refleksi, berdoalah kepada Tuhan tanyakan 
apa tujuan Tuhan menciptakan diri anda? Buat apa? Untuk mencapai 
apa? Buat siapa?
Pak hidup ini bukan untuk kita, kita ini hanya mewujudkan tujuan 
Tuhan menciptakan kita, yaitu untuk mengasihi dan menyayangi orang 
lain, dengan menolong
mereka.

Kalau sudah begitu pak, maka langkah Bapak akan mendapat dorongan 
moral dari Atas.

Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca di buku "Manajemen Berbasis 
Nurani" terbit 2 Januari 2007 atau "Best Life; Menjalani Hidup Penuh 
Makna" ditulis oleh saya & Ir. Stefanus Indrayana, MBA.

salam,
Goenardjoadi Goenawan


Kirim email ke