PRESS RELEASE Wisata Kebangsaan Indonesia (WISKI) Tanggal 29 Januari 1950 dikenang sebagai hari wafatnya Panglima Besar Angkatan Perang Repoeblik Indonesia, Letnan Jenderal Soedirman, dan dalam kaitan itulah patut dikenang pula upaya beliau tentang rekonsiliasi melalui Order Harian 17 Juni 1949 Kepada Segenap Instansi Militer Dan Sipil Di Seluruh Repoeblik Indonesia yang berbuah peristiwa hukum pada 6 Juli 1949 yaitu mendaratnya pesawat terbang Komisi PBB di Maguwo membawa Bung Karno dan Bung Hatta dan pemimpin2 yang lain dari Bangka kembali ke Jogjakarta sebagai ibukota Repoeblik Indonesia. Artinya, sikap keutamaan beliau bagi kepentingan nasional adalah prima. Selengkapnya, Order Harian itu menyatakan bahwa (1) Pada dewasa ini ada oesaha-oesaha dari loear dan dalam jang hendak memetjah-belah persatoean Angkatan Perang Repoeblik Indonesia dengan Pemerintah dan Rakjat, dengan menjatakan pertentangan di antara Instansi-instansi Pimpinan Negara dan Angkatan Perang Repoeblik Indonesia, seperti antara Panglima Besar dengan Panglima Tertinggi, antara Panglima Besar dengan Markas Besar Komando Jawa, antara Panglima Besar dan Badan-badan perjuangan dan sebagainya. (2) Kepada semoea Instansi-instansi Militer dan Sipil dan Warga Negara pada oemoemnya kami peringatkan dengan tegas, bahwa Negara dan Angkatan Perangnja adalah soesoenan yang teratoer dan tertib jang mempoenjai pembagian pekerdjaan dan hierarchi jang selajaknja. Negara Repoeblik Indonesia hanja bertindak satoe sebagai satoe Negara; Angkatan Perang Repoeblik Indonesia hanja bertindak satoe sebagai Angkatan Perang Negara, dan tidak boleh ada jang bersikap dan bertindak sendiri-sendiri, karena jang demikian itoe melanggar kedaoelatan, disiplin dan hierarchi Negara dan Tentara. (3) Besar kemungkinannja diantara anggota Pimpinan terdapat berlainan faham dan pendapat dan politik dan siasat perjoeangan, tetapi jang demikian itoe adalah lazim terdjadi asal sadja, segala sesoeatoe dialirkan menoeroet hierarchi Negara dan Tentara. Pada saat-saat jang penting bagi Negara kita seperti dewasa ini, maka titik berat perhatian wadjib diletakkan pada peratoeran dan tata-tertib Negara dan Tentara, poela tata-tertib Pemerintah dan Rakjat. Tiap-tiap oesaha memetjah-belah berarti membantoe moesoeh, oentoek merobohkan kemerdekaan dan kedaoelatan Negara dan Rakjat kita jang telah banjak memakan korban. (4) Kepada semoea Instansi Militer dan Sipil kami peringatkan dan perintahkan soepaja dengan tegas dan tepat membela persatoean, kedaoelatan dan disiplin Negara dan Tentara terhadap siapapoen joega. Tjoerahkanlah segala tenaga dan fikiran dalam melaksanakan order harian ini, agar soepaja keselamatan Noesa dan Bangsa dapat benar-benar terdjamin. (5) Moedah-moedahan Tuhan tetap melindoengi dan memberkati perjoeangan kita jang soetji dan moelia ini. Amien ! Upaya rekonsiliasi itu menunjukkan sikap kenegarawanan beliau yang patut kita suriteladani kini ditengah ketidakpastian yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum akibat misalnya kegalauan pasca amandemen UUD 1945 [1999, 2000, 2001, 2002] sebagaimana dapat kita cermati antara lain dari munculnya Deklarasi Komite Nasional Penyelamat Pancasila dan UUD 1945 di Pelataran Tugu Proklamasi pada hari Saptu 11 Nopember 2006. Ketokohan beliau dapat dirunut antara lain dari Penetapan Presiden RI Panglima Tertinggi 5 Mei 1947 tentang Pembentoekan Panitya oentoek mempersatoekan Tentara Rakyat Indonesia dan Lasjkar dalam satoe organisasi Tentara, Ketoea (Soekarno), Wakil Ketoea I (Wakil Presiden Moh. Hatta), Wakil Ketoea II (Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin), Wakil Ketoea III (Panglima Besar Soedirman), Anggota (Kepala Staf Oemoem Markas Besar Tentara, Direktoer Djenderal Angkatan Darat, Panglima Angkatan Laoet, Direktoer Djenderal Angkatan Laoet), selanjutnya Penetapan Presiden RI, Panglima Tertinggi Angkatan Perang 3 Juni 1947 tentang Pendirian Tentara Nasional Indonesia dengan Pucuk Pimpinan TNI, Ketua (Panglima Besar Angkatan Perang, Letnan Djenderal Soedirman), Anggota (Letnan Djenderal Oerip Soemohardjo, Laksamana Moeda Nazir, Komodor Moeda S. Soeriadarma, Soetomo, Ir Sakirman dan Djoko Soejono). Pada tanggal 19 Desember 1948 pagi saat Aksi (Agresi) Militer Belanda diawali, bertempat di Istana Negara Jogjakarta, Panglima Besar Soedirman bertanya kepada Soekarno Apakah ada pesan untuk TNI ? dan dijawab Belanda janganlah dihadapi secara frontal, tetapi harus dihadapi secara perang gerilya, perang rakyat. Jangan hadapi tentara Belanda di dalam kota karena akan membawa korban rakyat banyak. Tetapi bawalah tentara Belanda ke desa-desa, ke hutan-hutan, gunung-gunung, dan tentara Belanda sudah menjadi kelompok-kelompok kecil, seranglah dengan secara perang gerilya. Lakukan ini siang maupun malam, kita Insya Allah akan menang, karena kita di pihak yang benar, dan Tuhan akan selalu menolong dan melindungi kita semua. Tunjukkan kepada dunia luar bahwa Republik Indonesia masih tetap ada, bahwa TNI masih tetap ada, dan kemerdekaan bangsa Indonesia itu bukan suatu hadiah, tetapi didirikan dengan perhuangan yang maha hebat dengan pengorbanan yang tidak kecil dan dengan penderitaan yang luar biasa. Sudirman, inilah pesanku kepadamu. Sebagai seorang prajurit, sebagai seorang jenderal, seorang pimpinan tertinggi TNI, jangan menyerah, besarkan jiwaku, tebalkan semangatmu, dan hidupkan kesetiaanmu kepada Negara, tanah air, dan bangsa Indonesia. Jenderal Sudirman, sampai kita ketemu lagi di tempat ini. Jika Bung Karno dan Bung Hatta ditembak mati oleh Belanda, para pimpinan yang lain harus menggantikan. Keteladanan dan Ketokohan beliau itu adalah penjuru bagi Bina Kepemimpinan Kebangsa-an dan Kerakyatan Indonesia, sehingga bijaksana sekiranya Surat Edaran ini disebarkan kepada anak bangsa Indonesia lainnya sebagai pembekal Bina Politik Kebangsaan. Diserukan kepada anak bangsa Indonesia yang berminat memperoleh edaran gratis berkala WISKI (Wisata Kebangsaan Indonesia) dapat bergabung dengan mendaftarkan alamat eMail ke alamat eMail [EMAIL PROTECTED] sedangkan yang berminat mengunjungi acara WISKI silahkan hadir pada tanggal 29 Januari 2007 jam 13 17 wib di Gedung DHN45, Jl. Menteng Raya 31, Jakarta Pusat 10340 yang kini dikembangkan menjadi Pusat Tujuan Wisata khusus Kebangsaan Indonesia. Jakarta, 1 Januari 2007 Pandji R. Hadinoto Koordinator WISKI
--------------------------------- Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.
