Amin.. amin.. wong semua orang pengin masuk sorga kok masuk sorga pakai adu banyak pengikut. yang jihad demografilah.. yang kristenisasilah.. dan lain2 tetek bengek, lha kalaupun banyak anggota dan menguasai dunia lalu tiba2 dunia dimusnahkan apa ya sempat adu mulut lalu saling ledek ".. sukurin lo.. nggak mau ngikut sih" gitu ngkali ya. Memang masing-masing ada "aliran" (artinya tidak semua aliran kristen atau islam) yang punya obsesi memperbanyak pengikut tanpa prosedur baku. Seperti yang disampaikan miliser lain bahwa untuk jadi kristen itu mestinya harus mengikuti prosedur pembelajaran jadi tidak seperti kalau masuk Islam hanya mengucapkan kalimat syahadat sudah berarti masuk Islam. Jangan kita berpandangan bahwa orang masuk kristen semudah itu, kalaupun ada yang menarik dengan gaya non prosedural pasti juga hasilnya kelihatan toh nggak mungkin gaya memaksa orang selama hidup, kalau perlu datangi baik2 orangnya lalu dibawa ke lembaga gerejanya lalu klarifikasi benar enggak kelakuan seperti ini atas restu gereja ? Belum tentu lho ! kenapa mesti heboh gitu loh..
Produktif dikit deh jangan ngehebohin yang dangkal2, kecuali kalau nggak mau maju dengan lebih banyak belajar ilmu pengetahuan.. Salam. On 1/4/07, Goenardjoadi Goenawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
halo sahabat, kalau kita baca message beberapa teman yang diposting di Milis, kita bisa heran, contohnya.. Potret (Keliru) Poligami Cobaan dari Allah SWT untuk jemaah haji Indonesia The Next Bill Gates? A Chinese! Geger "Kristenisasi" di Depok Tuhan kelelahan Mengapa Kita Khawatir dengan Syariat Islam dalam berbangsa Adu jangkrik : Shiyah dan Sunni di Timur Tengah aa gym dan ferry surya Poligami? Jangan cari excuses lewat Banyak sekali energi yang terbuang sia-sia hanya mempermasalahkan nenek moyang kita. ada yang mempertentangkan AA Gym dan Ferry Surya, sampai-sampai masalah Jemaah Haji yang kelaparan dijadikan bahan untuk mempertentangkan antar agama. Sungguh kita merasa sedih, sebab kalau dirunut-runut, nenek moyang kita semua adalah Negara Sriwijaya, yang pusatnya di Palembang, dan kita masih mempertentangkan antar suku. Suku ini, itu, kita lupa bahwa kita semua pendatang dari pusatnya bangsa Melayu di Palembang. Namun kalau dulu, Bangsa kita jaman Sriwijaya membangun tempat ibadahnya yang paling megah sedunia yaitu Borobudur di Jawa Tengah, kita masih mengagung-agungkan suku ini, agama itu, apa tidak malu dengan nenek moyang kita? Susah-susah Dr. Soetomo, Ki Hajar Dewantoro memperjuangkan Negara Kesatuan Indonesia, kita masih mengeyel-eyel Islam melawan Budha, atau Kristenisasi... dan kita lupa, nenek moyang kita juga pernah beragama Budha, Hindu, bahkan dulu nenek moyang kita juga Pithegantropus Erectus, kita masih menganggap agama yang satu dipertentangkan dengan agama yang lain. Mari kita berpikir positif, kalau sudah meninggal, kita semua juga jadi abu... tidak ada warna kuning, coklat, atau merah. salam, Goenardjoadi Goenawan
