Perbedaan arti aktifitas sexual di America jelas beda dengan di Indonesia yg 
lebih conservative, apalagi kalau dilibatkan dengan hukum2 agama, di indonesia 
sex sebelum nikah dianggap tabu sedang di America sex adalah about human sexual 
anatomy, sexual reproduction, sexual intercourse selain aspects human sexual 
behavior.
  Karena di indonesia sex dianggap tabu maka keterbukaan komunikasi antar orang 
tua, guru, docter, sulit untuk mencapai sasaran pendidikan sex yg bisa 
memuaskan pengetahuan remaja ttg sexual behavior atau resiko2 AID epidemic atau 
TSD lain nya.
  Di America menjelang usia 16, para remaja sudah dipantau dan dibekali 
pengetahuan bagaimana bisa melakukan aktifitas sex tanpa harus menjadi korban.
   
  Komunikasi yg terbuka dengan para remaja merupakan methode terbaik, mendidik 
penularan penyakit yg diakibatkan kebebasan sex (sex dengan beragam pasangan, 
menggunakan jarum suntik bekas, atau melakukan hubungan sex dibawah pengaruh 
drug atau alkohol sehingga semua dilakukan diluar kontrol), pemerintah dan 
intansi2 kesehatan seharusnya memberikan access kontrasepsi yg mudah di masuki 
oleh para remaja yg sudah mulai aktif dalam melakukan hubungan sexual nya.
   
  Remaja memang memiliki raging hormon yg sulit dikendalikan, para pakar 
sexology, orang tua, pengajar dan dinas2 kesehatan harus bekerja sama utk 
membantu para remaja utk mampu mengambil keputusan yg terbaik utk keselamatan 
diri/ kesehatan nya.
   
  Just say yes to safe sex
  

justjoiningthetribe2 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Maksudnya apa nih? Dan solusi yang ditawarkan apa untuk mengatasi hal ini?

Apa kalau sudah diberi pendidikan ilmiah, pengetahuan seperti yang di
Amerika terus mereka tidak akan melakukan premarital sex?

Di bawah ada link yang relevan:
http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=78654

Berikut penggalannya:

Premarital Sex the Norm in America

Premarital Sex Research Shows by Age 44, 95% of Americans Have Had
Ummarried Sex

By Jennifer Warner
WebMD Medical News

Reviewed By Louise Chang, MD
on Wednesday, December 20, 2006

Dec. 20, 2006 -- Almost all Americans have sex before marrying,
according to premarital sex research that shows such behavior is the
norm in the U.S. and has been for the past 50 years.

The new study shows that by age 20, 75% of Americans have had
premarital sex. That number rises to 95% by age 44. 



--- In [email protected], Tejo Sulaksono wrote:

Lebih baik sih kalau masyarakat dibebaskan dari kemunafikan, dalam
bidang seks
diberi pendidikan ilmiah, pengetahuan, hilangkan tabu yg tanpa logika.
Bersikap manusiawi saja, nikmati kehidupan dalam batas-batas yang
masuk akal. Terlalu banyak larangan kan memicu semangkin banyak
pelanggaran dan dosa juga.
TSL


5 dari 100 Pelajar DKI Lakukan Seks Pranikah

Kamis, 4 Januari 2007
DEPOK, WARTA KOTA- Lima dari seratus pelajar setingkat SMA di Jakarta
melakukan seks pranikah. Pola pacaran yang dilakukan antara lain
mulai berciuman bibir, meraba-raba dada, menggesekkan alat kelamin
(petting) hingga berhubungan seks. Perilaku seks pranikah itu pun erat
kaitannya dengan penggunaan narkoba di kalangan para remaja. Tujuh
dari 100 pelajar SMA pernah memakai narkoba.
Hal itu dikemukakan oleh Rita Damayanti yang kemarin menyampaikan
hasil penelitiannya untuk meraih gelar doktor pada Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Dia meneliti 8.941 pelajar
dari 119 SMA/sederajat di Jakarta.
Menurutnya, perilaku seks pranikah itu cenderung dilakukan karena
pengaruh teman sebaya yang negatif. Apalagi bila remaja itu bertumbuh
dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang kurang sensitif terhadap
remaja. Selain itu, lingkungan negatif juga akan membentuk remaja yang
tidak punya proteksi terhadap perilaku orang-orang di sekelilingnya.
Bahkan, remaja yang merasa bebas dan tidak terkekang, ternyata lebih
mudah jatuh pada perilaku antara, yaitu merokok dan alkohol.
Ujung-ujungnya dari perilaku antara itu, pelajar akan berperilaku
negatif seperti mengonsumsi narkoba dan melakukan seks pranikah.
Untuk menangani masalah tersebut, Rita menyarankan sekolah agar
memberikan informasi yang intensif kepada siswanya tentang kesehatan
reproduksi. Selain itu, kegiatan yang dilakukan remaja harus terus
dipantau dan dibimbing orangtua. Remaja yang bertanggung jawab dan
paham dengan tujuan hidupnya, juga bisa tergelincir pada pertemanan
negatif. "Back to basic, cintai anak-anak, beri perhatian yang cukup,
dan penuhi kebutuhan psikologisnya. Pola asuh yang positif akan
membentuk anak-anak menjadi lebih tangguh," ucapnya.
Dalam penelitiannya, Damayanti menyebutkan bahwa berpacaran sebagai
proses perkembangan kepribadian seorang remaja karena ketertarikan
antarlawan jenis. Namun, dalam perkembangan budaya justru cenderung
permisif terhadap gaya pacaran remaja. Akibatnya, para remaja
cenderung melakukan hubungan seks pranikah.
Berdasarkan penelitiannya, perilaku remaja laki-laki dan perempuan
hingga cium bibir masih sama. Akan tetapi, perilaku laki-laki menjadi
lebih agresif dibandingkan remaja perempuan mulai dari tingkatan
meraba dada. Seks pranikah yang dilakukan remaja laki-laki pun dua
kali lebih banyak dibandingkan remaja perempuan. (tan)
PERILAKU PACARAN REMAJA SLTA DI JAKARTA*
Perilaku Pola Pacaran| Perempuan| Laki-Laki| Total
(%) (%) (%)
Ngobrol, Curhat 97,1 94,5 95,7
Pegangan tangan 70,5 65,8 67,9
Berangkulan 49,8 48,3 49,0
Berpelukan 37,3 38,6 38,0
Berciuman pipi 43,2 38,1 40,4
Berciuman bibir 27,0 31,8 20,5
Meraba-raba dada 5,8 20,3 13,5
Meraba alat kelamin 3,1 10,9 7,2
Menggesek kelamin 2,2 6,5 4,5
Melakukan seks oral 1,8 4,5 3,3
Hubungan seks 1,8 4,3 3,2
*Hasil Penelitian Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rita
Damayanti



Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik: 

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links





 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke