Radio Nederland Seksi Indonesia
http://www.ranesi.nl/tema/belanda/pengalaman_di_belanda050826/makna_kartu_natal060320

Makna Sebuah Kartu Natal
Palmira Permata Bachtiar

20-03-2006



Beberapa saat menjelang Natal tahun lalu kami tiba-tiba punya ide cemerlang 
untuk berkenalan secara tidak langsung.  Caranya adalah dengan mengirim kartu 
Natal.  Kami sepakat untuk membeli sepuluh kartu Natal dan menuliskan nama-nama 
kami dan negara asal kami. 

Gezellig
Aku dan suamiku indekos di Beijum, sebelah Utara Groningen. Kami menyewa kamar 
dari keseluruhan satu rumah khusus untuk kos-kosan mahasiswa.  Selain kami, ada 
juga teman orang Indonesia dan seorang Afrika yang menyewa kamar di rumah itu. 

Rumah kos kami itu terletak di kawasan perumahan orang-orang Belanda, yang 
umumnya terdiri dari keluarga muda. Hanya rumah kami satu-satunya rumah yang 
penghuninya kulit berwarna.  Kebetulan kami adalah penghuni pertama rumah kos 
itu. Sebelum kami, penghuninya adalah orang Belanda yang kemudian menjual rumah 
itu kepada orang Vietnam, bapak kos kami.  Tapi bapak kos kami tidak tinggal 
bersama kami. Dia punya rumah sendiri di Groningen. 

Tinggal di Beijum sangat menyenangkan walaupun jaraknya dari kampus cukup jauh. 
 Suasananya aman dan bernuansa pedesaan.  Pertokoan juga dekat dengan rumah 
kami.  Gezellig, begitu ungkapan bahasa Belandanya.  Artinya, nyaman. 

Tak Punya Waktu
Satu-satunya yang mengganjal adalah kami belum mengenal tetangga-tetangga kami. 
 Karena kesibukan kuliah, hubungan kami dengan tetangga hanya sebatas " hoi, 
hai, hallo, morgen " ketika berpapasan di jalan.  Bagi kami, sulit sekali 
mencari waktu yang tepat untuk memperkenalkan diri dan memulai hubungan yang 
lebih akrab.  Baik kami maupun tetangga-tetangga kami sama-sama sibuk.  Tapi 
sebagai orang Indonesia risih juga rasanya.  Masa' sudah tinggal di daerah itu 
berbulan-bulan tapi belum kenal dengan tetangga.  Keterlaluan kan?  Padahal 
kata orang bijak, tetangga adalah keluarga terdekat. 

Walaupun sering bertemu pandang dan saling tersenyum, saya yakin mereka pasti 
bertanya-tanya siapa gerangan orang-orang berkulit berwarna ini.  Dalam 
lingkungan serba Belanda, kehadiran orang kulit berwarna tentu cukup mencolok.  
Saya sendiri tidak yakin jika mereka tau bahwa kami ini adalah mahasiswa.  
Maklum, biasanya mahasiswa mencari pondokan dekat kampus, bukan di Beijum.  
Bisa jadi mereka justru menyangka kami ini pekerja asing di Groningen. 

Kartu Natal
Beberapa saat menjelang Natal tahun lalu kami tiba-tiba punya ide cemerlang 
untuk berkenalan secara tidak langsung.  Caranya adalah dengan mengirim kartu 
Natal.  Kami sepakat untuk membeli sepuluh kartu Natal dan menuliskan nama-nama 
kami dan negara asal kami.  Tak lupa kami informasikan bahwa kami adalah 
mahasiswa asing.  Kartu tersebut kami masukkan ke kotak pos sepuluh tetangga 
terdekat.  Di amplopnya kami hanya menuliskan alamat karena tidak tahu nama 
mereka.

Sungguh tidak disangka-sangka.  Hanya berselang satu hari dari saat 
pengirimannya, kami sudah menerima kembali sepuluh kartu Natal balasan dari 
tetangga-tetangga kami itu.  Mereka juga menuliskan namanya.  Berkat kartu 
Natal, kami sekarang tahu nama tetangga kami dan, demikian pula sebaliknya, 
mereka juga tahu nama kami.  

Sekarang jika bertemu, kami bisa menyapa sambil menyebut namanya.  Kartu yang 
kecil ternyata bermakna besar karena sudah menjadi pembuka hubungan akrab 
dengan warga Belanda tetangga kami.

Attachment: 11453057
Description: Binary data

Kirim email ke