----- Original Message ----- 
From: Putu Oka
To: ChanCT ; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, 5 January, 2007 16:31
Subject: Fw: KESAN TERHADAP BUKU ALHAMDULILLAH, ASAHAN AIDIT


ALHAMDULILLAH

oleh Asahan Aidit.



Kesan pembaca, Putu Oka Sukanta.



Saya menggarisbawahi kata kesan pembaca, karena tulisan ini bukan resensi 
buku.

Sebuah hasil seni bagi saya yang penting adalah kesan yang ditimbulkannya. 
Bukan kemauan penulis atau penerbitnya. Karya seni  sebagai sebuah kehidupan 
baru, ia akan berjalan kemana saja ia mau, tetapi terkadang ia bisa  mati 
ketika baru lahir. Dibunuh oleh pengarangnya sendiri atau oleh kekuasaan 
yang tak elakkan. Kalau ia mampu menembus halangan ia akan terus mengembara 
mampir ke hati dan pikiran pembaca tanpa kendali. Dalam jaman pasar bebas, 
peran pers, media elektronik dan mafia distributor memang ikut membantunya 
atau membunuhnya. Tetapi karya yang mandul, yang malnutrisi memang tidak 
akan beranak pinak dan tidak akan hidup lama.



Estetika bagi saya tidak pernbah universal, tetapi ia kontekstual.



Buku Alhamdulillah, ditulis oleh seorang marxist abangan (hal 177),  yang 
pernah dikirim oleh PKI atau pemerintah Indonesia belajar ke Uni Soviet 
sebelum tragedi kemanusiaan 65/66.. Sesudah tragedi tersebut, ia  berlajar 
ilmu revolusi di Vietnam untuk membebaskan negerinya dari penghancuran oleh 
Orde Baru. Kawan Abang ini, juga sempat mampir ke RRT. Tetapi ia tidak betah 
di Vietnam. Ia terus menerus melontarkan kritik dan ketidak puasannya 
terhadap keadaan orang Indonesia (aktivis PKI?) yang tidak bisa pulang  ke 
Indonesia dan  kondisi Vietnam yang sosialis dipimpin oleh Partai Komunis. 
Slogan Politik adalah panglima, (219) Oto Kritik PKI, ajaran Mao atau dan 
Maoist tidak benar, ia dimusuhi di Vietnam karena dianggap Maoist. Bahkan 
Diktator proletariat yang pernah menjadi acuan bagi kaum Marxist, dikuliti 
sehingga sepertinya  menjadi bangkai busuk yang menjijikkan, mengundang hama 
penyakit yang perlu dijauhi secepat mungkin supaya tidak tertular.

Buku ini  memperkaya wawasan  pikiran saya tentang bangunan kejiwaan 
sebagian aktivis PKI yang diceritakannya, sesudah peristiwa tragedi  65/66 
Terkesan bangunan kejiwaan itu begitu rapuh. Lalu dengan sendirinya muncul 
pertanyaan:  apakah mungkin karena mereka dikarbit, atau dibangun dari bahan 
dasar yang memang kualitasnya rendah, atau bahan dasar yang salah. Sehingga 
ketika rumahnya diambrukkan oleh Suharto, muncul galau dalam hati,  ketidak 
puasan dan tuduhan yang mengesankan semuanya salah, kecuali dirinya sendiri. 
Mencari kambing hitam, dimana ia berada. Saya tidak tahu apakah sebelum 
peristiwa tsb. bangunan kejiwaan mereka, solid, atau  hanya tampak solid ? 
Pertanyaan juga muncul akibat kritik tajam terhadap sosialisme: Apakah 
teori sosialisme yang salah atau orang yang mengimplementasi teori dan 
ajaran sosialisme yang tidak mampu mengejawantahkan ajaran tersebut? Karena 
sebab-sebab atau faktor apa?  Andaikata si  Kawan Abang ini menukik 
menganalisa hal-hal tersebut dengan Tam, Nga, Svieta,  Mang P, dan tante 
Annie, saya sebagai pembaca akan mendapat manfaat yang mendasar  tentang 
perkemangan masyarakat.

    Untuk mengakhiri kekecewaan dan penderitaan si kawan Abang yang 
sepertinya seolah sudah berada di kerak neraka, maka ia mengupayakan pergi 
ke negara kapitalis yang menjadi musuh bebuyutan sosialisme.Teman Vietnamnya 
bertanya "mengapa harus ke kapitalis?  Si kawan Abang hanya menjawab 
pertanyaan itu dengan mengatakan,"...saya bukan takut kemiskinan, tetapi 
saya memang takut kalau harus menunggui kemiskinan selama hidup tanpa 
berdaya untuk bergerak mengatasi keadaan demikian."

Saya bertanya sendiri, Apakah kader Partai dari negara lain tidak boleh atau 
tidak dibolehkan ikut membangun cita-cita sosialisme-nya di negera tempatnya 
bermukim. Apa begitu ? Lantas apa makna kata internasionalisme itu ?

"Di negeri kami tidak ada orang miskin yang tinggal di hotel, dapat makan 
minum, dapat pelayanan kesehatan, dapat jaminan keamanan oleh negera dan 
Partai tanpa bekerja dan berbuat sesuatu"

"..saya hanya tidak boleh melakukan apa yang saya ingin." ( hal.22)

    Sebagai pembaca terus mencari di halaman-halaman berikutnya, apa 
sebenarnya yang diinginkan ? Tetapi tidak saya ketemukan. Apakah karena 
tidak bisa kawin dengan Nga, pacarnya yang kader partai? Dari pada 
menebak-nebak dan berprasangka yang bukan-bukan, kan lebih bagus 
mempertanyakannya. Buku ini banyak merangsang saya untuk bertanya. Tetapi 
sayang teman diskusi saya Joebaar Ajoeb sudah almarhum, sehingga belum 
menemukan teman diskusi yang sedemokratis dia.

Mengenai penggunaan nama Sulai, membingungkan saya. Bukankah penggunaan nama 
Sulai,(233) adalah nama yang dipakai sejak bersekolah universitasHamoi 
(1970), sebagai pengganti nama Vietnam ? Tapi mengapa nama ini juga 
dipanggilkan kepada si kawan Abang oleh kakak sulung ketika masih di Jakarta 
sebelum berangkat ke Soviet  dan juga ketika bertemu di Peking?

Sebelum mengakhir tulisan saya , saya ingin bertanya kepada kawan Abang atau 
pembaca tulisan saya tentang istilah Politik adalah panglima. Yang benar 
apakah politik adalah panglima, atau politik sebagai panglima? Juga saya 
ingin bertanya: solidaritas anggota Partai Netherlands, apakah bisa 
dikatakan berdasarkan atas Politik sebagai panglima? Atau atas dasar 
belaskasihan, sodakoh,  si kaya kepada si miskin?

Buku ini juga memberikan informasi akurat kepada saya perihalasal usul  nama 
Dipa Nusantara Aidit

Sebagai teks bahasa Indonesia, terkadang saya harus berhenti membaca sejenak 
untuk memahami kalimat-kalimat yang panjang, beranak pinak. Juga terhadap 
istilah, misalnya di hal 42, menyambung nyawa atau menyabung nyawa? Cuci 
maki atau caci maki (364). Pemberian sub judul, pada bab-bab tertentu saya 
tidak merasa terbantu olehnya untuk lebih memahami isi . Bahkan sering 
seperti kelilipan, ada debu di pelupuk mata. Editor terasa perlu bekerja 
lebih keras dan teliti sehingga bacaan ini menjadi lebih cair mengalir ke 
dalam sukma.

Untuk mengakhiri kesan saya sebagai pembaca, saya tutup  dengan kutipan dari 
halaman 163: Kesadaran akan kerapuhan diri sendiri ini membuat saya mencari 
apa yang masih tertinggal dalam diri saya, sesuatu yang lebeih kenyal, lebih 
tahan sentuhan yang mungkin meskipun tidak terlihat tapi masih terasa ia ada 
pada diri saya, sesuatu yang diri saya, yang sesungguhnya, yang tak terlihat 
dengan mata kasar. Saya ingin melihat diri saya di dalam apa yang saya 
pikirkan, saya fantasikan, saya abadikan dan karenanya saya menulis yang 
barangkali tidak cepat saya temukan dalam satu kali tulis, mungkin harus 
berkali kali saya lakukan atau mungkin seumur hidup hingga saya menemukannya 
atau tidak pernah menemukannya. Hal itu penting untuk saya, karena saya 
memburu waktu sebelum saya yang rapuh ini sirna begitu saja. Saya masih 
ingin melihat diri saya, siapakah saya, bukan hanya bagaimana rasanya 
menjadi saya sendiri.

BRAVO bung Asahan !!!**

Rawamangun 5 Januari 2007.


Kirim email ke