Silakan Meneer Lim memblejeti UUD sampai setiap pasal dan ayatnya supaya kita 
semua ngerti dan ingat apa amanat UUD itu. Demikian juga dengan Pancasila. Saya 
sih senang aja ada orang non-Indonesia yang turut peduli. 

Yang saya pertanyakan itu "wacana tong sampah" yang jadi andalan Anda. Buat apa 
refot-refot memblejeti setiap sudut UUD jika selalu pada akhirnya kesimpulan 
yang diajukan sangat simplistik dan dangkal: ton sampah? Sudah liat di mana 
masalahnya? Akkoooord Meneer Lim?

manneke


-----Original Message-----

> Date: Fri Jan 05 05:22:14 PST 2007
> From: "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [mediacare] Re: Sungguh kita merasa sedih, sebab kalau 
> dirunut-runut, nenek moyang kita semua adalah Negara Sriwijaya
> To: [email protected]
>
> Pasal 34 UUD "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh 
> negara" membosankan? Ah coba tanyakan ke 40 juta penduduk Indonesia 
> yang kekurangan makan, pendidikan, kesehatan dll. Saya sendiri sudah 
> WN Belanda, tapi saya lahir di Bandung dus selalu ada ikatan batin 
> dengan Indonesia.
> 
> Menurut saya, selama fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia 
> belum bisa dipelihara oleh negara, maka kita WAJIB selalu 
> membicarakan pasal 34 UUD RI itu. Pasal itu dibuat oleh pendiri RI, 
> dus patut dilaksanakan seutuhnya oleh pemerintah/DPR/cendekiawan 
> Indonesia. Terutama pemasturbasi UUD RI perlu selalu kita sadarkan, 
> bahwa mereka punya kebiasaan jelek. Peringatan kepada mereka ini 
> perlu terus dilakukan, bila perlu sampai 50 tahun ke depan, sampai 
> fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia sudah bisa dipelihara 
> oleh negara. Akkoord Manneke?
> 
> Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> 
> --- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Udah tahun baru, wacananya Meneer Lim ini masih yang itu-itu juga. 
> Bosen ah. Mbok ganti style gitu? Nggak punya ide lain ya? Jangan-
> jangan pekerjaan sambilannya di Belanda sono adalah penjual tong 
> sampah, kok promosinya tong sampah melulu?
> > 
> > manneke
> > 
> > 
> > 
> > -----Original Message-----
> > 
> > > Date: Thu Jan 04 03:46:57 PST 2007
> > > From: "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Subject: [mediacare] Re: Sungguh kita merasa sedih, sebab kalau 
> dirunut-runut, nenek moyang kita semua adalah Negara Sriwijaya
> > > To: [email protected]
> > >
> > > Karena itu diperlukan Soempah Pemoeda II yang bunyinya "Satu 
> Nusa, 
> > > Satu Bangsa, Satu Budaya, Indonesia". Bahasa sudah termasuk 
> budaya.
> > > 
> > > Selama 61 tahun kemerdekaan ini, Indonesia memiliki budaya 
> nasional 
> > > GONTOK-GONTOKAN. Jadi itu mesti di-Soempah Pemuda-kan menjadi 
> budaya 
> > > RUKUN-RUKUNAN. Setelah rukun, mulailah memikirkan Water 
> Management 
> > > agar tidak terjadi lagi banjir bandang. Mulailah memikirkan 
> > > pertanian/perkebunan supaya tanah Indonesia yang subur "tonggak 
> kayu 
> > > pun jadi tanaman bisa menghasilkan produk optimal." Mulailah 
> > > melaksanakan pasal 34 UUD RI "Fakir miskin dan anak terlantar 
> > > dipelihara oleh negara". Buanglah Pancasila ke tong sampah 
> dan "stop 
> > > masturbating with it", sebagai gantinya mulailah melaksanakan 
> > > sila "Keadilan Sosial." dll.dll. Sukses ya.
> > > 
> > > Salam hangat, Danny Lim, Nederland

Kirim email ke